Cross Culture Understanding Dialogue

Kamis, 20 Mei 2010, SMA Negeri 32 Jakarta kedatangan tamu dari Lithuania, yakni Egle Ozolinciute. Sekitar 09.30 WIB, acara dengan tema: Cross Culture Understanding Dialog dibuka oleh Kepsek. Berbekal teks tertulis, akhirnya acara dimulai.

“Assalamualaikum” kata pembuka Egle. Kamipun sedikit terperangah, siswa dan guru tersenyum. Egle bersama teman (Miftahul Huda) yang juga sebagai relawan sebuah LSM internasional dengan payung kegiatan: Action for Life, mereka merangkai acara kali ini. Acara ini salahsatu kegiatan rutin, setidaknya 3 tahun belakangan ini yang khusus berdialog langsung dengan bule atau asian lainnya. Bedanya, kali ini ialah people to people, biasanya goverment to goverment.

Acaranya sederhana, Egle menerangkan tentang negaranya, Lituania itu seperti apa. Persis kalau kita cerita Indonesia, dari sejarah, pemerintahan, hingga hal-hal yang unik (baca: banyak orang yang belum mengetahui). Salahsatu yang unik adalah Hill of The Crossess. Lituania tidak memiliki gunung, persis seperti Singapura. Satu-satunya dataran tinggi digunakan untuk berdoa. Pada masa komunis Soviet, ada seorang yang menancapkan salib katolik di bukit, segera dibuldozer komunis. Namun, kemudian menjadi icon perlawanan sehingga ribuan, bahkan jutaan orang-orang berbondong-bondong menancapkan salib di bukit tersebut, karena begitu banyaknya salib di bukit, maka dikenal dengan istilah Hill of The Crossess, kini menjadi sebuah tempat keramat dan historik bagi orang Lituania, khususnya para penganut Katolik Roma.

Selepas Egle presentasi, sesi tanya jawab digelar, aku ikut bertanya tentang teroris dan toleransi di Indonesia. Warga Lituania yang berumur 27 tahun ini, menyatakan bahwa dia baru 2 minggu di Indonesia sehingga banyak belum tahu dan juga belum banyak baca buku tentang Indonesia. Namun demikian, menurut pendapatnya, dialog adalah solusinya. Saya kira, persis seperti yang dilakukan kini,  Dialog Silang Budaya: Mengetahui untuk Memahami.

Setalah Egle presentasi dan tanya jawab, Huda mengajak berinteraksi dengan peserta yang terdiri dari sekitar 50 siswa untuk memberikan keinginannya tentang Indonesia. Dengan membuat kelompok, siswa mengungkapkan apa yang terbaik untuk Indonesia dan pemimpin seperti apa untuk mewujudkannya, sehingga meraih Indonesia yang lebih baik lagi. Menarik acaranya, selain full english, pengalaman mengenal dunia selain Indonesia secara langsung merupakan pengalaman otentik, yang semoga saja, dapat menyadarkan kita bahwa dialog dengan orang yang berbeda budaya adalah solusi yang lebih baik untuk sebuah pengetahuan, bahkan pemahaman. Di hari kebangkitan bangsa kita ini, semoga Indonesia membangun dialog baru untuk sebuah pemahaman budaya, dan semoga damai sepanjang masa. Amiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s