Tentang perang dan Timor 1975 (Mari Jujur….)

Jika peristiwa di Timor tahun 1975 sesuai dengan gambaran dalam film Balibo, maka yang terjadi di sana adalah penyerbuan yang ketidakadilannya berlipat-lipat. Michael Walzer dalam bukunya Just and Unjust Wars, dengan komprehensif membahas tentang perang, lengkap dengan contoh-contohnya.

Sayangnya, penyerbuan Indonesia ke Timor tahun 1975 tak termasuk bahasan Walzer. Saya bisa memaklumi tiadanya bahasan soal Timor. Tulisan itu memang secara khusus digerakkan oleh aktivisme atas situasi di Vietnam, sedangkan ditulisnya saja selesai pada 1977. Saya yakin saat itu peristiwa Timor tenggelam di bawah ramai-ramai Perang Vietnam, dan secara sengaja pula ditenggelamkan oleh komplotan–ya, komplotan, bukan hanya Indonesia saja–negara-negara pelaku dan penyokong penyerbuan.

Untuk melihat adil tidaknya suatu perang, secara garis besar ada dua hal yang jadi referensi. Yang pertama, jus ad bellum, yakni alasan berperang. Yang kedua, jus in bello, yakni cara-cara yang digunakan dalam berperang. Bisa saja satu agresi tidak dengan alasan yang valid, atau tidak adil jika dilihat dari jus ad bellum. Tapi bisa juga alasan agresinya valid, namun tak memakai cara berperang sesuai konvensi, dengan kata lain, tak adil jika dilihat dari sudut pandang jus in bello.
Continue reading “Tentang perang dan Timor 1975 (Mari Jujur….)”

Advertisements

Kunjungan Tiga Presiden Amerika Serikat dan Sejarah Indonesia

Kunjungan selalu mempunyai arti penting dalam konteks kepentingan yang berkunjung dan yang dikunjungi. Bagi presiden dan orang-orang dekatnya, gambaran kunjungan itu bisa tampak jelas dan rinci. Namun, masyarakat biasa hanya bisa mencatat, setiap kunjungan selalu mempunyai signifikansinya sendiri-sendiri, setidak-tidaknya secara garis besar.

Nixon dan Pepera

Kunjungan Nixon ke Indonesia, 27-28 Juli 1969, penting karena dua perkara. Pertama, Nixon perlu menjelaskan rencana AS mengubah strateginya untuk Asia, yang dikenal dengan Doktrin Guam atau Doktrin Nixon (Juli 1969). Doktrin itu menegaskan AS akan sedikit demi sedikit mengurangi kehadiran militernya di Asia dan meminta negara-negara Asia menanggung beban keamanannya sendiri (“Asianisasi Asia”). Misalnya, Nixon sering menyebut rencana penarikan mundur (withdrawal) dari Vietnam.

Kedua, Indonesia dan AS berkepentingan menuntaskan masalah Irian Barat. Juli dan Agustus 1969 itu sedang berlangsung Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) oleh PBB. Pada dasarnya AS mendukung integrasi Irian Barat ke Indonesia karena AS ingin terus menjalin hubungan dengan Soeharto yang waktu itu dianggap sebagai seorang “moderate military man … committed to progress and reform” dan “walau nonblok tetapi dekat dengan Washington”.
Continue reading “Kunjungan Tiga Presiden Amerika Serikat dan Sejarah Indonesia”

Autralia “Srigala Berbulu Domba” di Timor Leste

Australia sangat berambisi untuk ‘menguasai’ Timor Leste. Apa yang membuat Australia begitu bernafsu? Tak lain adalah kepentingan Australia untuk menguasai Celah Timor yang kaya akan minyak dan gas. Upaya Australia untuk menguasai Celah Timor ini karena nilai tambang yang dihasilkan diperkirakan sebesar USD 10 trilyun. Aussie, sebutan ‘gaul’ untuk Australia, berupaya bernegosiasi dengan pemerintah Portugis. Negosiasi tersebut ‘gagal’ karena Portugis tidak mau mengikuti ‘kemauan’ Aussie dan menilai perjanjian yang akan dihasilkan lebih banyak menguntung Aussie semata. Hal ini ditambah lagi dengan perubahan politik di Portugis yang cenderung kiri serta berlarutnya proses negosiasi membuat Aussie mencari alternatif baru.

Kegagalan AS dan sekutunya (termasuk Aussie) pada perang Vietnam serta ketakutan akan pengaruh komunis di Asia Tenggara, dilihat Aussie sebagai ‘peluang’ lain untuk menguasai Celah Timor. Aussie ‘melihat’ Indonesia sebagai negara yang pas untuk ‘dikerjain’ dan diperkirakan mau mengikuti kemauan Aussie untuk menguasai Celah Timor. Apalagi hubungan Indonesia dengan negara-negara ‘barat’ termasuk Aussie sedang menghangat. PM Aussie pada waktu itu, Gough Whitlam, memiliki hubungan erat dengan para pemimpin Jakarta, memanfaatkan kesempatan ini dengan ‘mendorong’ Indonesia untuk mengambil alih kekuasaan di Timor Portugis. Sebenarnya, Indonesia tidak begitu tertarik dengan rencana untuk pengambil alihan kekuasaan di Timor Portugis. Dalam berbagai kesempatan, Indonesia menyatakan tidak ingin mencari kekuasaan di luar wilayah bekas koloni Belanda, yang secara eksplisit merujuk pada wilayah Timor Portugis. Dalam beberapa pertemuan antara pejabat tinggi Indonesia dengan Aussie, mereka menyatakan bahwa pendirian negara Timor Portugis tidak layak serta mengancam stabilitas keamanan regional. Ancaman akan bahaya komunis ternyata ‘termakan’ oleh para pemimpin Indonesia yang memang sangat phobia dengan komunis.
Continue reading “Autralia “Srigala Berbulu Domba” di Timor Leste”