Resink dan Mitos Penjajahan 350 Tahun

Indonesia dijajah selama 350 tahun. Itulah satu dari sedikit warisan pemikiran pra-Orba yang masih bertahan sampai sekarang. Dalam upacara-upacara resmi, para pejabat yang merasa perlu memobilisasi semangat orang, selalu mengucapkannya. Sejak 1930-an, gerakan nasionalis menjadikan pernyataan ini sebagai bahan agitasi dan propagandanya. Menariknya, pada saat bersamaan di kalangan penguasa kolonial pun ada perdebatan serupa. Para pemilik perkebunan, birokrat kolonial dengan dukungan kalangan konservatif di Belanda bergabung dalam Vaderlandsche Club, yang ingin melanggengkan kolonialisme setidaknya untuk 350 tahun lagi, dan tidak melihat perlunya “berbaik hati” pada orang bumiputra melalui Politik Etis, karena ternyata hanya melahirkan pemberontakan. Pada 1926-27 terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) dan serikat-serikat rakyat di Jawa dan Sumatera Barat. Kalangan konservatif mendapat angin untuk menindas gerakan nasionalis dan sekaligus menyingkirkan pendukung Politik Etis dari birokrasi kolonial.
Continue reading “Resink dan Mitos Penjajahan 350 Tahun”

Advertisements

Ayam Atau Telur Duluan? Terjawab Sudah

Ayam Atau Telur Duluan? Terjawab Sudah.

“Mana yang lebih dulu, ayam atau telur?” sudah jadi pertanyaan paling filosofis maupun ilmiah selama berabad-abad.Tapi kini, jawabannya sudah tersedia. Para ilmuwan pekan ini mengklaim telah memecahkan teka-teki tersebut. Jawabannya, kata mereka, adalah ayam.

Seperti dilaporkan Mailonline, para peneliti menemukan bahwa pembentukan kulit telur bergantung pada satu protein yang hanya ditemukan di indung telur ayam. Artinya, telur hanya bisa ada jika berada di dalam ayam. Protein yang disebut ovocledidin-17, atau OC-17 – bertindak sebagai katalis untuk mempercepat pengembangan kulit telur itu. Cangkan keras ini penting sebagai tempat bagi kuning dan putih telur.
Continue reading “Ayam Atau Telur Duluan? Terjawab Sudah”

Suku Dayak Pemburu Kepala Dari Kalimantan !

Written by Karl Fabricius

Smoked_heads_of_slain_enemies_Indonesian_Borneo
Shrunken smoked heads of slain enemies

Deep in the steamy jungle of Borneo, the bold English ethnologist hacked away with his machete to make headway through the dense vegetation. The short, sharp parang was designed to be drawn quickly, the better to strike for the neck. Yet while Charles Hose no doubt carried a blade during the many days and nights he spent living among the peoples of Borneo, this fanatical observer of the cultures of the huge Southeast Asian island was also armed with a subtler colonial weapon: the camera. Hose took many a well-aimed shot, and among his focus were Borneo’s headhunters. Still, he wasn’t the only snap-happy white chappie sporting britches and taking pictures; others, like the Dutch, were at it too.
Continue reading “Suku Dayak Pemburu Kepala Dari Kalimantan !”