Guru Hononer Siap-Siap Verifikasi Mulai Juli

JAKARTA — Guru honorer yang mengajar sebelum tahun 2005 boleh mulai bersiap diri melakukan verifikasi data di Badan Pusat Statistik (BPS) yang rencananya digelar mulai Juli hingga September 2010. Verifikasi data ini diperlukan agar guru honorer tersebut dapat diangkat statusnya sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tanpa tes dengan kualifikasi dan syarat tertentu.

Hal tersebut disampaikan Direktur Profesi Pendidik, Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Achmad Dasuki, Selasa (29/06) di Jakarta. Penyataan tersebut disampaikannya saat berdialog bersama perwakilan guru-guru honorer yang tergabung dalam Komite Guru Bekasi (KGB), Komite Aksi Mahasiswa dan Masyarakat Peduli Sosial (NGO KAMMPUS), Forum Komunikasi Tata Usaha (FKTU), dan Rumah Diskusi Guru (Rumdis).

“Pengangkatan guru non-PNS menjadi CPNS tanpa tes merupakan komitmen para wakil Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan tenaga honorer yang tercecer, terselip, dan tertinggal ini,” ujar Dasuki yang didampingi Kepala Pusat Informasi dan Humas, M. Muhadjir.

Ia menjelaskan bahwa setiap guru berstatus bukan PNS yang mengajar sebelum tahun 2005 berhak mendapatkan kenaikan status menjadi CPNS asalkan memenuhi kualifikasi dan syarat tertentu. “Dia mengajar terus menerus tanpa putus, memenuhi 24 jam mengajar per minggu, diangkat oleh pejabat yang berwenang, serta penghasilannya dibiayai oleh APBN dan APBD,” papar Dasuki.

Namun, ia mengingatkan, guru yang telah melakukan verifikasi data dan dinyatakan lulus, tidak dapat diangkat sekaligus dalam tahun yang sama. Ini disebabkan terbatasnya anggaran yang pemerintah miliki. “Jadi, memang guru harus sabar. Kami tidak mungkin mengangkat sekaligus guru yang berstatus honorer itu menjadi CPNS. Prosesnya harus bertahap,” tegas Dasuki.

Kepala Biro Kepegawaian Kemdiknas, Mashuri Maschab yang juga hadir sebagai narasumber dalam dialog tersebut menjelaskan bahwa meskipun lulus dalam verifikasi, namun apabila tidak memenuhi ketentuan batas umur maksimum, maka guru tersebut tidak bisa diangkat sebagai CPNS. Namun, berdasarkan kebijakan pemerintah, guru yang tidak diangkat sebagai CPNS berhak atas kebijakan pendekatan kesejahteraan.

Mashuri menjelaskan dengan ketentuan tersebut, maka guru itu tetap mengajar dengan statusnya sebagai honorer tetapi mendapat perhitungan kesejahteraan tertentu. Ia mengungkapkan bahwa guru yang tidak lolos verifikasi akan dikembalikan pada pemerintah daerah. “Pemerintah daerah berkewajiban memberikan gaji di atas UMR (upah minimum regional),” tegasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa sejak diberlakukannya peraturan mengenai otonomi daerah, maka kebijakan pendidikan di tingkat dasar dan menengah, termasuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) menjadi kewenangan pemerintah daerah. “Jadi, kami tidak berwenang mengangkat guru. Itu sepenuhnya kewenangan pemerintah daerah,” ujar Mashuri.

Saat berdialog tersebut, perwakilan guru honorer asal Kota Bekasi, Jawa Barat ini menyuarakan sejumlah sikap, di antaranya mendorong peningkatan kesejahteraan dan status bagi pada pendidik dan tenaga kependidikan yang berstatus honorer di sekolah negeri. Selain itu, mereka juga mendukung percepatan pembubaran Ditjen PMPTK dan menyambut baik pembentukan tiga direktorat pengganti Ditjen PMPTK.

“PMPTK tidak mengakomodasi guru honorer di sekolah negeri untuk sertifikasi padahal kami memenuhi 24 jam mengajar per minggu dan telah mengabdi selama belasan tahun. Kami ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, namun tidak diberikan kesempatan yang sama,” kata Ketua Komite Guru Bekasi (KGB), Abdul Rozak.

Menanggapi hal itu, Dasuki menjelaskan bahwa berdasarkan peraturan penggunaan dana APBN, dana tersebut tidak boleh dipakai membiayai aktivitas non-permanen. Itu sebabnya, kata Dasuki, pemerintah tidak dapat memberikan sertifikasi kepada guru yang masih berstatus honorer. “Kalau menyertifikasi guru honorer, berarti kami menyalahi aturan,” tegas Dasuki.

Ia juga menambahkan bahwa permasalahan tercecernya guru honorer di daerah akibat pengangkatan yang dilakukan sepihak oleh Kepala Sekolah. Untuk itu, mulai tahun 2014, Kepala Sekolah yang masih mengangkat tenaga honorer, maka Surat Keputusan pengangkatan dirinya sebagai Kepala Sekolah akan langsung dicabut. “Kami harus tegas, agar permasalahan ini tidak terjadi lagi,” katanya.

Sumber: Kemendiknas

12 thoughts on “Guru Hononer Siap-Siap Verifikasi Mulai Juli

  1. Bagaimana dengan mereka-mereka yang lulus verifikasi tapi umurnya sudah lewat batas? sementara, mereka benar-benar guru yang memang dari awal berniat menjadi guru dengan ijazah IKIP Negeri? yang karena faktor X tidak pernah lolos seleksi PNS? tidak pernah lolos seleksi PTT? sementara dedikasi mereka didunia pendidikan tidak diragukan lagi? saya kenal yang seperti ini, mudah-mudahan Allah tetap meringankan langkah mereka dalam berkarya dan tetap melapangkan rizkinya. Amin

    1. pertanyaan ibu sudah terjawab dalam tulisan di atas. Silahkan dibaca dengan baik (kalau mau komentar, baca dulu tuylisan di atasnya yaaa….)

  2. Inti berita dari Kemendiknas tersebut dirinci sebagai berikut:

    1. Berita di atas menegaskan bahwa, tidak seluruh guru honorer diangkat menjadi CPNS, akan tetapi ialah Guru Bantu dan Guru PTT.

    2.Apa yang dipaparkan merupakan “Kebijakan Pemerintah Pusat”, dengan demikian, mengingat kuatnya otonomi darah, maka “Kebijaksanaan Pemerintah Daerah”-lah yang berperan besar dalam “menterjemahkannya”.

    3. Untuk daerah yang kekurangan guru, maka Guru bantu, Honor Sekolah Negeri, dan PTT, semuanya akan diangkat menjadi CPNS, tentunya anggaran provinsi memadai.

    4. Untuk kasus Jakarta, (hanya dugaan) mempertimbangkan anggaran daerah untuk pendidikan, loyalitas bekerja pada instansi pemerintah, dan syarat yang disebutkan di atas, maka Guru PTT dan Guru Honor Sekolah Negerilah yang akan diangkat menjadi CPNS.

    5. Semoga implementasinya berjalan lancar, adil, dan tepat sasaran.

  3. Sepertinya pemerintah hanya mengakui guru-guru yang mengajar di sekolah negeri kami guru yang mengajar di sekolah Swasta selalu di anak tirikan dengan alasan dalam pendidikan swasta ada komersialisas, tapi pada keyataannya banyak sekolah swasta yang untuk menggaji guru saja tidak sanggup. Sudah gajinya kecil terlambat pula, begitu dapat sertifikasi guru dibayar terlambat bahkan satu tahun baru di bayar, sementara hutang untuk makan sudah di mana-mana, dengan harapan setelah tunjangan sertifikasi turun hutang tersebut baru di bayar. Bagaimana kami bisa meningkatkan kualitas pendidikan anak didik kami, sementara setiap hari kami harus memikirkan hutang, dan berpikir kemana lagi kami harus berhutang untuk makan nanti sore. sementara kami mendidik anak orang lain tapi anak sendiri tak bisa melanjutkan sekolah karena ayahnya seorang umar bakri dari sekolah swasta yang gajinya selalu tertunda. Dengan perut keroncongan kami datang ke sekolah karena pagi tadi tak bisa membeli makanan untuk sarapan. sementara anak didik kami menanti dengan penuh harap agar kami dapat mengajar mereka dengan penuh keikhlasan, merekapun tak kuasa membayar SPP dengan lancar karena mereka juga terlahir dari ayah yang senasib dengan kami yaitu seorang guru swasta yang di anak tirikan oleh pemerintah yang matanya tertutup sebelah oleh kain kecongkakan, kemunafikan dan ketidak pedulian oh nasibmu guru swasta siapa yang mau peduli……

  4. Saya hanya berharap keberadaan guru2 honor murni di sekolah2 Negeri lebih di perhatikan masa depan & kesejahteraan nya

  5. terimakasih mas cipto atas tulisan-tulisan dan info-infonya…saya guru honor SD Negeri yang baru mengabdi selama 6 tahun. semoga perjuangan kita mencerdaskan putra-putri Indonesia di masa depan dapat tempat di hati Pemerintah dengan memberikan kesejahteraan yang layak yang sampai saat ini hanya di nikmati oleh rekan-rekan ber-NIP saja …amiinn….bravo terus…mas ..

  6. Saya gtt sudah mengabdi dari taon 2004 tetapi Nuptk saya kata masi di proses adakah peluang saya untuk jadi Cpns.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s