Slash: tentang Konsernya di Jakarta

Mantan gitaris Guns N` Roses menelepon Rolling Stone dari kediamannya di Los Angeles.
Oleh : Wendi Putranto

Eks-gitaris Guns N’ Roses sekaligus gitaris elektrik terbaik nomor dua di dunia sepanjang masa versi majalah Time ini menelepon Rolling Stone dari kediamannya di Los Angeles, Amerika Serikat untuk bercerita tentang rencana konser pertamanya di Istora Senayan, Jakarta, 3 Agustus mendatang yang akan digelar Mahaka Entertainment, pendapatnya tentang Chinese Democracy, Axl Rose, Ozzy Osbourne, Lemmy Kilmister, Steven Tyler dan pengalaman masa kecilnya membenci Kiss.

Kapan terakhir kali Anda mendengar tentang Jakarta atau Indonesia? Apa yang Anda tahu?
Well, pertanyaan yang bagus. Saya hanya tahu sedikit sekali tentang Indonesia. Saya banyak tahu tentang ular yang berasal dari Indonesia [Tertawa]. Sejujurnya, saya terakhir kali ke Jakarta waktu itu tahun… Saya pasti terlalu banyak minum makanya jadi lupa semua… [Tertawa]

Sejujurnya, Anda malah belum pernah datang ke sini, Slash [Tertawa]
Oh ya? [Tertawa]

Tidak masalah. Apa janji Anda bagi fans di Jakarta yang akan datang ke konser Anda nanti?
Saya cukup sering ngobrol dengan fans dari Jakarta melalui Twitter. Sangat sering. Konsernya akan sangat keren nanti. Saya sudah konser beberapa kali dengan formasi ini dan videonya ada di YouTube. Band ini sangat bagus dan Myles Kennedy juga sangat keren, lagu-lagunya pun begitu. Semua di band sangat siap. Makanya konser saya nanti di Indonesia akan menjadi sangat… Killer!

Apa pendapat Anda tentang Chinese Democracy?
Menurut saya itu album bagus. Itu adalah album Axl yang sempurna…

Oh ya? Diplomatis sekali jawaban Anda…
Dengan semua bullshit yang beredar, jujur, menurut saya Axl bernyanyi bagus di album itu. Dia adalah salah satu vokalis rock & roll terbaik sepanjang masa. Ketika dia bernyanyi tentang sesuatu dia selalu jujur [Tertawa].

Apa hambatan-hambatan yang Anda temui ketika berurusan dengan para legenda dan nama besar di industri saat menggarap album debut solo ini?
Memang proyek album solo saya ini terdengar sangat besar dan rumit mempersiapkannya. Tapi harus diakui, ini memang proyek yang besar, namun sangat menyenangkan juga. Semua artisnya fantastis, membuat saya memiliki perspektif baru tentang vokalis utama yang belakangan banyak yang tidak menarik lagi. Mereka semuanya penyanyi yang keren, saya sangat menikmati rekaman dengan mereka. Kami merekam semuanya secara analog dengan pita dua inci. Semua dilakukan secara rock & roll ala jaman old school dulu. And it was really cool! Satu-satunya yang rumit tentang album ini malah tidak ada urusannya sama sekali dengan musik dan proses rekamannya. Malah yang rumit adalah proses merilis album ini dari perusahaan rekaman karena banyak vokalis yang datang dari label rekaman berbeda. Dan ini malah menyita waktu sangat panjang, jauh lebih panjang dari proses rekamannya sendiri [Tertawa].

Seberapa sulit mengatur jadwal rekaman para artis-artis besar ini?
Sederhana saja. Kami mulai rekaman akhir April 2009 dan kami sudah selesaikan semua bulan September tahun yang sama. Tadinya saya jadwalkan album ini rilis awal 2010 tapi ternyata ada beberapa lagu yang belum bervokal dan saya tidak tahu siapa yang harus bernyanyi. Akhirnya butuh beberapa waktu lagi karena banyak vokalis yang sedang tur saat itu. Sampai akhirnya saya bertemu Myles Kennedy dan semuanya berakhir mantap. Rata-rata di album ini saya garap satu lagunya selama tiga hari, begitu seterusnya.

Siapa artis pertama yang Anda telepon untuk proyek solo ini?
Orang pertama yang saya ajak ngobrol untuk bernyanyi di album ini adalah Ozzy Osbourne. Dan orang yang pertama kali saya pikirkan untuk mengisi vokal ketika membuat musiknya adalah lagu yang dinyanyikan Ozzy itu. Waktu  itu saya  sedang membuat scoring film. Kebetulan setelah tur Velvet Revolver berakhir saya masuk ke studio dan menggarap scoring film Meksiko berjudul This Is Not A Movie. Nah, ketika menulis bagian-bagian musik itu, yang tercipta menurut saya sangat identik dengan gaya lagu-lagu Ozzy. Itulah yang membuat saya akhirnya berpikir untuk membuat album solo. Esoknya saya telpon Ozzy mengajak dia menyanyikan lagu itu, dan seterusnya saya berpikir untuk membuat lagu-lagu lain lagi [Tertawa].

Anda menelepon langsung Ozzy sendiri atau melalui Sharon?
Saya melakukan semuanya sendiri untuk album ini. Langsung dengan Ozzy.

Jadi Anda memiliki nomor Ozzy Osbourne di ponsel Anda?
Ya, kira-kira begitulah…

Wow, keren. Bagaimana dengan nomor ponsel Axl Rose? Anda punya?
Saya lupa punya atau tidak. Kami tidak pernah… Saya mundur dari Guns N’ Roses sejak tahun 1996…

Ceritakan tentang pengalaman Anda bekerjasama dengan Lemmy dari Motorhead di album ini. Dia salah satu idola saya..
Oh, dia idola Anda juga? Well, dia juga salah satu idola saya. Saya beberapa hari yang lalu baru saja manggung dengan Lemmy. Buat saya Lemmy adalah salah satu ikon rock & roll terbaik dari beberapa generasi. Sebuah kehormatan bagi saya untuk mengajak dia… Sebenarnya saya sangat dekat dengannya, tapi tahulah, baginya untuk meluangkan waktu, merekam satu lagu saja, datang ke studio adalah sesuatu yang sangat berarti besar bagi saya. Dan Lemmy adalah salah seorang yang paling sopan, jujur, baik yang pernah saya temui dalam bisnis ini. Saya selalu mengaguminya dan menjadikannya contoh. He’s a hardcore looking good, you know. Very much a gentleman. Dan hal paling keren bekerjasama dengan Lemmy adalah dia yang menulis lirik bagi lagu tersebut dan pengalaman pertama saya juga memesan Jack Daniel’s dan potato chips bagi orang lain [Tertawa]

Apakah benar lirik lagu ”Crucify the Dead” bercerita tentang Axl Rose?
Sepertinya itu memang persepsi semua orang tentang lagu tersebut, tapi bukan begitu kalau menurut Ozzy. Interpretasi Ozzy tentang liriknya atau arti lagu itu jauh lebih luas dari itu baginya.

Apa cerita dibalik lagu ”Nothing To Say” dan ”Chains and Shackles”. Mengapa ada dua judul lagu tapi lagunya sama?
Mungkin maksudnya dua versi berbeda. Ini pertanyaan yang bagus. Saya menulis musiknya, saya yang memiliki ide dasar bagi lagu ini, saya dapat M. Shadows [vokalis Avenged Sevenfold] untuk bernyanyi di lagu ini dan Eric Valentine, produser saya, ingin Nick Oliveri [eks-bassist Queens of the Stone Age] yang menyanyikannya karena menurutnya Nick punya jeritan suara yang gila. Akhirnya kami merekam dua lagu yang sama dengan versi yang berbeda, satu untuk M. Shadows dan yang satu lagi Nick Oliveri [Tertawa].

Apa yang ada di benak Anda ketika pertama kali menciptakan intro melodi ”Sweet Child O’Mine.” Sangat klasik dan tak lekang oleh waktu.
Terimakasih untuk pujiannya. Sayangnya, saya tidak ingat apa yang ada di pikiran saya dulu…

Oya? Mungkin Anda sedang ”tinggi” saat itu?
Tidak. Yang saya ingat waktu itu siang hari dan saya tidak sedang mabuk atau menggunakan narkotika. Saya sedang main gitar saja dan tiba-tiba mulai menemukan melodi tersebut. Sangat menarik karena Izzy yang duduk dekat saya kemudian mulai memainkan kord juga dan Axl yang mendengar kami memainkan melodi itu langsung menulis lirik secara berbarengan. Dan esok harinya ketika kami latihan Axl berkata, ”Hey, coba mainkan lagi lagu yang kemarin.” Saya mainkan, Axl mulai bernyanyi dan jadilah ”Sweet Child O’Mine”. It came out of nowhere, really [Tertawa].

Anda lebih memilih reuni dengan siapa? Axl Rose atau Scott Weiland? Mengapa?
Saya pikir mungkin – walau pun saya ragu juga – akan terjadi dengan kedua orang tersebut, akan sangat mudah dipahami bagi saya untuk melakukannya dengan Scott [Tertawa].

Apakah masih ada secercah harapan bagi fans untuk menyaksikan reuni formasi klasik Guns N’ Roses? Mungkin untuk terakhir kalinya dalam hidup kami?
Saya pikir itu sulit jadi kenyataan. Terus terang, itu adalah ide yang menarik, bahkan sangat keren, tapi pada kenyataannya sangatlah muluk…

Jadi agak mirip dengan menunggu Led Zeppelin menggelar tur reuni?
Ya, itu ide yang bagus tapi tidak akan pernah terjadi!

Kabarnya Anda sangat tidak suka dengan Kiss? Mengapa?
Ketika saya kecil saya sangat tidak suka dengan Kiss. Saya pikir seluruh kostum dan make-up yang mereka pakai terlalu berlebihan. Tapi lucunya sekarang, saya suka semua hal yang berbau Kiss. Beberapa hari yang lalu saya malah manggung bareng Ace Frehley [gitaris/vokalis Kiss] dan Lemmy. Jadi sebenarnya saya sekarang sangat suka Kiss tapi dulu saya tidak sanggup melihatnya [Tertawa].

Setelah merilis album solo dan menuntaskan tur konsernya, apa yang akan dilakukan selanjutnya dalam hidup Anda? Reuni dengan Velvet Revolver?
Sebenarnya itu sudah pasti ada dalam jadwal yang saya harus lakukan, mungkin tahun depan. Tapi sepertinya saya akan tur bagi album solo ini sepanjang musim panas tahun ini dan hingga tahun depan atau musim panas berikutnya. We’ll see.

Bisa disebutkan siapa saja lima orang vokalis terbaik Anda sepanjang masa?
Wow, ini baru pertama kalinya seseorang bertanya hal itu kepada saya. Biasanya daftar gitaris [Tertawa]. OK, saya akan membatasinya hanya vokalis-vokalis rock saja. Bon Scott..

Dia urutan teratas?
No particular order. Mereka semua sangat bagus. Saya tidak bisa memeringkatkan mereka. Bon Scott, Axl Rose, Steve Tyler, uhm, fuck… John Lennon, dan [berpikir cukup lama] Who was it? It was there a second ago…

Ozzy?
Bukan. Saya cinta mati dengan Ozzy tapi…

Lemmy?
Bukan. Mungkin Robert Plant!

OK, terimakasih. Tapi jika Anda harus memilih vokalis rock di urutan teratas daftar Anda, siapa dia?
Saya pikir posisi teratas adalah Steven Tyler.

Bukan Axl Rose?
Axl juga termasuk tapi saya kan juga berada satu band dengannya, ini berbeda. Steven adalah orang yang memiliki pengaruh terbesar bagi saya pribadi.

Dia pasti seperti tuhan bagi Anda?
Ketika saya berumur 14 tahun dan pertama kali bermain gitar, lagu “Back in the Saddle” bagi saya adalah ekspresi mahal dari sebuah kemarahan, kecemasan, gairah seks remaja yang tidak pernah saya dengar sebelumnya [Tertawa]

Bagaimana dengan daftar lima album terbaik sepanjang masa Anda?
Led Zeppelin II – Led Zeppelin
Beggars Banquet – Rolling Stones
Rocks – Aerosmith
Sabbath Bloody Sabbath – Black Sabbath
Powerage – AC/DC.

* Wawancara Slash ini merupakan versi non-edit dari rubrik Q&A di Majalah Rolling Stone Indonesia edisi Juni 2010. Apa yang Anda baca adalah apa yang dibicarakan saat itu antara Executive Editor Wendi Putranto dengan Slash.

Sumber: Rollingstones

2 thoughts on “Slash: tentang Konsernya di Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s