Timor Timur, Kerikil yang Jadi Batu Besar

Oleh
Renne Kawilarang

Jakarta-Bangsa Indonesia dan Timor Leste (Timor Timur) akan terus mengingat tragedi yang kelam selama periode 1975-1999. Di satu sisi, mayoritas rakyat Timor Leste tidak akan begitu saja melupakan ribuan sanak saudara mereka yang tewas selama masa integrasi, entah karena terbunuh maupun oleh karena berbagai sebab lain. Begitu pun keluarga prajurit TNI/Polri yang gugur juga tidak mudah melupakan duka ditinggal suami, ayah, atau adik/kakak demi mempertahankan “integrasi” Timor Timur sebagai provinsi ke-27 Repubik Indonesia. Masalah Timor Timur adalah catatan kelam kegagalan Soeharto dalam menjalankan politik luar negeri yang tidak didukung oleh kekuatan-kekuatan di dalam negeri. Berbagai kekerasan berdarah, seperti insiden Santa Cruz (1991) dan berbagai kekerasan pasca-referendum Agustus 1999, telah mencoreng citra Indonesia di mata masyarakat internasional. Dan ini semua antara lain juga karena kegagalan membaca perubahan orientasi politik global. Kesia-siaan, itulah yang dirasakan ketika Timor Timur, akhirnya merdeka setelah “Referendum Berdarah” 30 Agustus 1999, dan kemudian menjadi negara yang berdaulat sejak 20 Mei 2002.

Aksi bumi hangus, kekerasan berdarah, dan eksodus yang mengikuti peristiwa itu membuat citra Indonesia tercoreng. Namun itu semua terjadi ketika Soeharto sudah tidak berkuasa. Mantan Luar Negeri Ali Alatas merupakan salah satu dari sekian saksi hidup yang merasakan beratnya memperjuangkan kepentingan dan citra Indonesia di forum internasional karena isu Timor Timur. Di panggung internasional di mana isu Timor Leste dijadikan suatu hikayat yang “hitam-putih,” yaitu pertarungan antara si baik dengan si jahat. Kemerdekaan Timor Leste akhirnya diartikan sebagai kekalahan bagi Indonesia. “Saya tak terkejut saat mendapatkan sebuah pertanyaan dari seorang anggota delegasi Portugal dari Centro Nacional de Cultura dalam suatu pertemuan akhir April 2001, soal apakah keputusan Timor Leste memisahkan diri dari Indonesia merupakan suatu kekalahan bagi saya?” tulis Alatas yang mengisahkan perjuangan diplomasi Indonesia atas isu Timor Leste dalam buku berjudul The Pebble in the Shoe yang diluncurkan tahun 2007. “Saya jawab kepada perempuan tersebut bahwa saya tidak merasakan aroma kekalahan (atas lepasnya Timor Leste dari Indonesia). Yang saya rasakan adalah penyesalan dan kegagalan karena tidak mampu mencapai penyelesaian atas isu Timor Leste secara lebih damai,” lanjut Alatas. Sebagai pembantu presiden Soeharto yang sangat diandalkan dalam hubungan luar negeri, wajarlah bila Alatas menolak lepasnya Timor Leste dengan cara kekerasan dan pertumpahan darah.

Restu Amerika
Soeharto mempertaruhkan banyak hal untuk mengintegrasikan Timor Timur ke Indonesia, demi menampung aspirasi sebagian rakyat—terutama mereka yang tergabung dalam partai Associacao Popular Democratica de Timor (Apodeti). Ketika itu perang saudara melanda koloni Portugal yang ditinggalkan begitu saja pada 26 Agustus 1975. Pasukan Indonesia masuk karena Indonesia tidak mau tertular kekacauan yang ditimbulkan kelompok-kelompok yang bertikai di Timor Timur karena kekosongan kekuasaan. Namun muncul juga dugaan yang bermuatan politis bahwa kampanye tersebut merupakan cara Soeharto membendung munculnya kekuatan komunis “di halaman belakang Indonesia” mengingat saat itu Timor Timur dikuasai oleh para milisi bersenjata dari Partai Frente Revolucionaria de Timor Leste Independente (Fretilin) yang beraliran sosialis radikal. Kebetulan pula di masa Perang Dingin, sikap antikomunis yang ditunjukkan rezim Soeharto mendapat dukungan dari kekuatan Blok Barat, Amerika Serikat (AS), yang khawatir dengan “Teori Domino” kekuatan komunis di Indo-China dan tak mau mengulang kegagalan di Vietnam. Apalagi Fretilin menyatakan akan menyambut baik bantuan dari Uni Soviet dan China. Selain itu, menurut William Scully dalam lembar Backgrounder #220 yang diterbitkan The Heritage Foundation 12 Oktober 1982, AS menerima kampanye Indonesia di Timor Leste karena sebagian juga didasari kekhawatiran bila kebijakan permisif Indonesia atas penggunaan selat-selat di sekitar Timor oleh Amerika bisa dicabut secara tiba-tiba. Maka AS, konon, memberi restu kepada Soeharto untuk melakukan invasi tersebut saat Presiden Gerald Ford dan Menteri Luar Negeri Henry Kissinger berkunjung ke Jakarta pada 5-6 Desember 1975. Alatas mengungkapkan Soeharto mengutarakan invasi tersebut kepada Ford dengan cara yang halus dan tersirat, “Perlunya menciptakan perdamaian dan stabilitas di wilayah tersebut demi keamanan di kawasan dan dia berharap pengertian Amerika atas perlunya langkah cepat dan mantap”. Presiden Ford dilaporkan mengangguk, dan (kemudian) Kissinger menambahkan peringatan atas penggunaan senjata buatan Amerika dan menegaskan perlunya menyelesaikan masalah tersebut secepat mungkin. Maka jadilah Indonesia menyerbu Timor Timur pada 7 Desember 1975, dan pada 1976 wilayah ini masuk menjadi provinsi ke-27 Indonesia. Namun perlawanan tidak berakhir di Timor Timur, darah terus tercurah, kekerasan dan penindasan terus terjadi dan mulailah kecaman dan tekanan internasional atas Indonesia. Dalam hal ini ASEAN pun “terpaksa” memihak Indonesia. Seiring dengan pergeseran fokus di negara-negara Barat dari isu keamanan menjadi isu HAM dan demokratisasi, seusai Perang Dingin, tragedi pembantaian di Pemakaman Santa Cruz pada 1991, menjadi titik balik kemerosotan posisi Jakarta di mata dunia, Indonesia dicap sebagai pelanggar HAM.Memang benar kata Alatas, awalnya tragedi di Timor Leste ibarat “kerikil dalam sepatu”, namun lambat laun berubah menjadi “batu besar” yang menjatuhkan reputasi Indonesia ke titik terendah.

Sumber: Sinarharapan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s