Fakta Sejarah PAPUA

Oleh: Sucipto Ardi

Seperti apakah sejarah Irian Barat/Irian Jaya/Papua, tentunya banyak versi yang beredar. Diluar itu semua, saya ingin menyajikan fakta (belum kisah sejarah)

    1. Istilah Irian dikemukakan oleh Frans Kaisiepo dalam Konferensi Malino, Sulawesi Selatan, tahun 1946 yang menurut salah satu bahasa lokal di sana berarti “sinar yang menghalau kabut”. Kata itu diusulkan untuk mengganti istilah Papua yang konon memiliki konotasi negatif. Papua berasal dari sebutan “papoa” yang berarti “si kriting”, dan Irian seringkali diartikan sebagai “Ikut RI Anti Netherland”.

  1. Penamaan sebuah kota mencerminkan kepentingan kekuasaan. Semasa Orde Lama, Holandia disebut Soekarnopura. Kemudian pemerintah Orde Baru melakukan desoekarnoisasi dengan menukarnya menjadi Jayapura.
  2. Dalam kitab Negarakertagama, beberapa tempat di pulau Irian/Papua disebut. Yang harus dipertanyakan ialah apakah dengan penyebutan nama itu maka secara otomatis daerah tersebut menjadi dibawah kekuasaan Majapahit?
  3. Indonesia berwilayah bekas jajahan Belanda di Hindia Timur, dimana Tidore menjadi bagiannya yang juga menguasai Irian. Pertanyannya ialah, apakah kekuasaan Tidore mencakup seluruh wilayahnya seperti sekarang, atau malahan hanya dibagian pesisir pantai saja?.
  4. Belanda memilih untuk menjadikan Irian lepas dari Indonesia dengan mencoba membuat semacam negara “boneka” pada tahun 1961 lengkap dengan bendera dan lagu kebangsaan sendiri. Bagi warga Papua belakangan ini, usaha Belanda tersbut diklaim sebagai niat tulus untuk memerdekakan tanah Papua.
  5. Menjawab manuver Belanda tahun 1961 tersebut, Soekarno , mengumumkan Trikora di Yogyakarta tanggal 19 Desember 1961.
  6. Tanggal 15 Agustus 1962 ditandatangani New York Agreement di kantor PBB. Irian diserahkan selama setahun kepeda pemerintahan sementara PBB (UNTEA) setelah itu menjadi daerah perwalian Indonesia sampai dilakukan PEPERA (Penentuan Pendapat Rakyat) yaitu semacam referendum dengan sistem perwakilan, dan bukan one man one vote pada tahun 1969.
  7. Sebanyak 1025 wakil rakyat Irian dalam hal ini ialah kepala suku atau tokoh masyarakat yang tersebar pada delapan kabupaten menyatakan bersatu dengan Indonesia. Sistem perwakilan ini, mempertimbangkan pembangunan fisik di Irian yang sama sekali belum dimulai, dimana faktor komunikasi dan transportasi menjadi masalah besar.
  8. Kondisi fisik tersebut dipahami oleh anggota PBB dalam sidang pada tanggal 19 Desember 1969 dengan mengukuhkan hasil Pepera melalui resolusi nomor 2504 dengan 84 negara setuju, 30 negara abstain, dan tidak satupun yang menentang. Dengan demikian, secara hukum internasional Irian sah menjadi bagian dari NKRI.
  9. Suksesnya Indonesia mendapatkan Irian dari Belanda, lebih karena kebijakan negari paman sam dengan presidennya: JFK yang memiliki slogan active mediation policy yang sebelumnya ialah passive neutrality policy dipegang erat oleh Presiden Ike. AS khawatir Indonesia akan jatuh dibawah dominasi Unisoviet yang telah banyak menyuplai persenjataan sehingga “memaksa” Belanda berunding dengan Indonesia, kekhawatiran ini juga yang menghantarkan Indonesia menyerbu Timor Portugis secara besar-besaran pada 7 Desember tahun 1975.
  10. Selama proses menuju Pepera, agen-agen Indonesia “merayu” para ketua adat atau tokoh masyarakat dengan “wisata sek”, yakni mengajak mereka keliling Indonesia untuk melihat pembangunan sekaligus disediakan kesenangan duniawi berupa hostes atau PSK yang menemaninya selama perjalanan, setidaknya ketika di hotel dan financial yang melimpah.
  11. Setelah tahun 1969, rakyat Irian banyak mendapati perlakuan tidak menyenangkan dari pihak militer Indonesia, mulai gesekan karena pertemuan kebudayaan sampai pelanggaran HAM berat. Sementara itu, para pendatang mendominasi sumber-sumber energi dan birokrasi formil di Papua, pribumi termarjinalkan.  Kekerasan dan dominasi ini kemudian terakumulasi menjadi memoria pasi\ssionis (ingatan akan penderitaan) yang kini telah menjadi ingatan kolektif rakyat Papua.
  12. Kondisi yang tidak menyenangkan ini, menjadi claim truth sejarah, bahwa keberadaan Indonesia ditanah Papua tidak lebih dari musuh, bahkan penjajah. Dalam konteks ini, dengan propagandanya, OPM (Organisasi Papua Merdeka) kemudian mendapat pijakan kuat bagi apa yang mereka yakini sebagai perjuangan pembebsan, setelah sebelumnya mengukuhkan diri sejak 1961. Sejarah telah menjadi alat kuat untuk hari ini.

Tulisan ada yang bersumber dari: Asvi Warman Adam, Seabad Kontroversi Sejarah. Yogyakarta: Ombak, 2007.

One thought on “Fakta Sejarah PAPUA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s