Bara Dua Negeri Serumpun

  • Oleh Chusnan Maghribi

HUBUNGAN bilateral Indonesia-Malaysia dari masa ke masa tak pernah sepi dari percikan api konflik dengan berbagai masalah yang melatarinya: mulai sengketa wilayah perbatasan, tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, hingga klaim sejumlah budaya Indonesia oleh Malaysia.

Kini, percikan api konflik itu muncul lagi, dipicu penangkapan tiga petugas Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kepulauan Riau oleh Polisi Laut Diraja Malaysia di wilayah perairan sebelah utara Pulau Bintan (13/08) dan ancaman hukuman mati 355 TKI yang dianggap bersalah (karena melakukan tindak kejahatan semisal pembunuhan, perkosaan, dan kasus narkoba) oleh Mahkamah Tinggi Malaysia. Kedua kasus itu direspons berbeda oleh pemerintah dan rakyat Indonesia.

Pemerintah meresponnya dengan lamban, tercermin lewat diplomasinya yang lembek (tidak cekatan, tegas dan galak). Seolah pemerintah menyikapinya sebagai kasus biasa, yang tidak menyinggung harga diri bangsa yang berdaulat. Dua kasus tersebut direspons hanya dengan melayangkan nota protes yang tidak terlalu digubris pemerintah Malaysia.

Sementara (sebagian) rakyat Indonesia menanggapinya dengan geram, marah. Mereka melancarkan aksi demo di beberapa kota besar dengan menginjak-injak dan membakar bendera Malaysia. Mereka menuntut pemerintah Malaysia minta maaf.
Alih-alih minta maaf, pemerintah Malaysia lewat statemen Menlu Datuk Seri Anifah Ahmad merespons serangkaian aksi demo di Indonesia beberapa hari terakhir malah seakan menantang Indonesia. Dalam wawancara dengan wartawan (26/08), Seri Anifah menyatakan rakyat Malaysia sudah habis kesabaran.

Secara implisit pernyataan ini mengungkap kepercayaan diri Malaysia yang kuat, di samping perasaan jengkel dan tidak takut, menghadapi apapun yang hendak dilakukan Indonesia, termasuk (kemungkinan) konfrontasi militer (perang) sekalipun.
Mengapa Malaysia tampak sangat percaya diri menghadapi Indonesia? Sekurangnya ada dua hal yang membuat self-confidence Negeri Ipin-Upin tersebut sedemikian kuat menghadapi Indonesia.
Cepat Dipulihkan Pertama; kesuksesan ekonomi Malaysia. Siapapun tahu, Malaysia tampil menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang sukses pembangunan ekonominya.
Di bawah kepemimpinan Mahathir Mohammad (1981-2003) perekonomian negeri yang kini berpenduduk sekitar 25 juta jiwa itu melaju kencang, sehingga negara itu bersama beberapa negara lain Asia pada akhir dasawarsa 1980-an masuk dalam kelompok new industry countries (NICs).

Malaysia juga dikenal hebat dalam mengatasi badai krisis moneter 1997-1998 yang sempat meluluhlantakkan perekonomian beberapa negara Asia, termasuk Indonesia. Tanpa merengek bantuan IMF dan World Bank, perekonomian negeri jiran itu bisa cepat dipulihkan sehingga keberadaannya kembali diperhitungkan oleh banyak negara luar.

Malaysia juga mampu cepat mengatasi dampak krisis finansial global tahun 2008. Krisis yang memorakporandakan perekonomian negara maju itu hanya berdampak sedikit bagi perekonomian Malaysia. Pertumbuhan ekonomi Malaysia melambat namun tidak sampai terjadi kontraksi.

Berdasarkan hasil riset Forum Ekonomi Dunia (FED) belum lama ini, yang laporannya bertajuk Daya Saing Global 2009-2010, Malaysia bertengger di urutan 24, sedangkan Indonesia di posisi 54.

Dengan fakta seperti itu Malaysia tetap mempunyai magnet tersendiri bagi banyak TKI. Terbukti, sekitar lima juta warga Indonesia bekerja sebagai buruh migran saat ini 60 persen di antaranya berada di Malaysia. TKI di Malaysia menghasilkan devisa Rp 50 triliun per tahun.

Kedua; diplomasi lemah pemerintah Indonesia. Diplomasi pemerintahan SBY terutama dalam merespons dua kasus yang memicu ketegangan RI-Malaysia sangatlah lemah. Diplomasi Menlu Marty Natalegawa bersama jajarannya asal jalan saja. Di samping dangkal dalam merespons masalah, juga pernyataan diplomatiknya datar-datar saja, tak muncul pernyataan resmi yang tegas, garang, dan galak.

Kalau praktik diplomasi pemerintah ke luar lemah seperti itu, bagaimana negara luar mau menghargai dan menghormati kita? Tentulah, yang terjadi cuma pelecehan terus-menerus mereka terhadap kita yang dipandang inferior.

Mungkin saja praktik diplomasi pemerintahan SBY yang lemah ini akibat dari prinsip zero enemy millions friends yang kerap diucapkan Presiden SBY di berbagai forum internasional. Tapi, apakah dengan prinsip itu berarti kita harus mengalah demi menghindari permusuhan walau muncul masalah krusial yang jelas menyinggung harga diri bangsa? Sangatlah konyol jika jawabnya ya. (10)

— Chusnan Maghribi, alumnus Fisipol UMY, peneliti pada Central of International Issues Studies di Yogyakarta

Sumber:  Suara Merdeka

One thought on “Bara Dua Negeri Serumpun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s