Tafsir Pidato SBY 1 Sept 2010


Pidato SBY pada malam kamis pukul 21.00 WIB lalu tentang hubungan luar negeri terhadap Malaysia, tidak hanya ditunggu-tunggu oleh berbagai pihak, akan tetapi juga bentuk resmi dari negara yang telah merdeka selama 65 tahun. Pidato tersebut, juga tidak hanya menibulkan  berbagai penentangan disana-sini, dan tentunya dukungan setelahnya, tetapi juga banyak pula tanya yang tersisa. Untuk itu semua, tulisan sederhana ini disuguhkan sebagai bagian dari usaha guna mengungkap apa yang telah terjadi. Boleh jadi tafsir ini benar adanya, bisa jadi juga “jauh api dari panggangnya”. Selamat membaca….

1. dilihat dari pemilihan hari, 1 Sptember, tepat satu hari setelah pesta Kemerdekaan Malaysia, pidato SBY merupakan penyambutan yang tepat, setidaknya bagi sebuah respon dari pernyataan PM Malaysia yang secara tersirat mengimbuhkan: ” tidak takut dengan Indonesia”, dan juga ancaman Menlu-nya beberapa hari lalu, bahwa Malaysia kehilangan kesabaran dengan Indonesia.

2. pemilihan tempat di mabes TNI untuk berpidato, diyakini sebagai bentuk “kesiapan berperang” oleh Indonesia, namun penunjukkan bagi seluruh jajaran TNI, bahwa setelah diplomasi  SBY (maju) tanpa hasil, maka seluruh yang dibelakangnya (baca: TNI) harus kedepan, berperang dengan Malaysia.

3. isi pidato SBY menunjukkan bentuk pencitraan bahwa Indonesia adalah negara damai yang mengedepankan diplomasi, yang juga merupakan konsekuensi logis kebijakan luar negeri RI dengan slogan soft diplomacy policy and  million friends, zero enemy’ s.

4. memilh jalan damai dengan diplomasi, adalah wujud “persiapan” karena tahun depan Indonesia menjadi kepala ASEAN sehingga prinsip-prinsip pokoknya harus dijalankan dengan baik, salah satunya mengedepankan diplomasi damai.

5. cara diplomasi damai adalah pilihan yang lebih aman bagi sejarah Indonesia. RI Belakangan ini dikenal negara damai, dengan bukti berbagai penyelesaian konflik damai di Aceh, Poso, Ambon, dan SBY tidak mau melukai sejarah tersebut. Lebih dari itu, kepercayaan dunia yang memilih Indonesia sebagai anggota HAM sedunia di PBB, pasukan perdamaian, dan penyelesaian konflik internasional di Palestina, dan kasus yang berhubungan dengan gerakan Islam lainnya adalah pertimbangan untuk berpikir ulang untuk perang. SBY tidak ingin ada paradoks.

6. damai dengan Malaysia atas kasus 13 Agustus lalu, merupakan cara yang baik karena apa yang diributkan (perbatasan) masih dalam sengketa, sehingga klaim yang tegas adalah sulit untuk ditunjukkan. SBY mungkin berpikir, adalah bodoh meributkan sesuatu yang belum disepakati bersama.

7. SBY berpikir kalau berperang, maka kesengsaraan yang akan pertama ditemui. TKI, dan warga Indonesia lainnya di Malaysia akan menderita, termasuk berkurangnya pemasukan ekonomi, terlebih Indonesia sedang kriris.

8. isi pidato SBY, bukan hanya terlihat sebagai “progress report” dan tidak tegas, akan tetapi juga wujud ketakutan terhadap Malaysia. Pidato tersebut tidak cocok di gedung TNI, akan tetapi cocoknya di gedung wanita.

9. SBY tidak menyatakan perang dengan Malaysia karena alusista angkatan perang Indonesia kalah kualitas dengan Malaysia, terlebih, Inggris, Singapura, dan Australia akan membantu Malaysia bilamana perang terjadi. Selain itu, Indonesia juga tidak punya anggaran untuk perang.

10. pidato SBY tidak hanya merendahkan bangsa Indonesia yang selama ini dilecehkan Malaysia, akan tetapi melukai banyak perasaan orang-orang Indonesia, kecewa. Saya salah satunya. Saya niat berhenti menjadi guru tahun ini karena akan ikut wajib militer berperang melawan Malaysia, tapi SBY tidak menyatakan perang.

11. ketidaktegasan melalui pidato SBY, semakin menambah panjang daftar “penguapan” sengketa perbatasan dengan Malaysia. Pemerintah Indonesia, dalam kasus ini, tidak berani mengambil tindakan, bahkan hanya menuntut polisi Malaysia yang jelas-jelas mencokok pejabat Indonesia di dalam kedaulatan NKRI dan diperlakukan selayaknya penjahat.

12. ketidaktegasan pemerintah SBY adalah cermin lemahnya Indonesia dimata Malaysia, ini terbukti puluhan nota protes yang tidak digubris Malaysia.

13. Indonesia merindukan Soekarno. Kita merindukan sosok kepemimpinan yang cinta damai, akan tetapi lebih cinta kemerdekaan. Bangsa ini merindukan pemimpin yang menjaga harkat, martabat, dan kedaulatan NKRI. Kita kangen akan kebesaran bangsa ini…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s