Konser Iron Maiden 17 Februari 2011, Pantai Karnaval Ancol

Setelah sebulan, akhirnya bon dari toko musik Mahakam Blok M, ditukar dengan tiket asli untuk konser Iron Maiden (IM) yang ditunggu-tunggu. Kamis, 17 Feb 2011, pembelajaran berjalan normal, di sekolah bahkan ada bedah kampus. Siswa ternyata banyak yang tahu kalau hari ini ada konser IM, mungkin tv swasta dan internet yang membawa mereka akhirnya bertanya kepadaku: “pak, nanti nonton konser?”, segera ku jawab: “pasti, neh dah beli tiketnya”. Sejak rabu, rasanya seneng banget. Nostalgia masa SMA segera terjadi!

Pukul 16.30 WIB, aku bersama teman ke rumahnya untuk siap-siap, apalagi rumahnya dekat Ancol. Setelah sholah Maghrib, My bike – Djagoer, membawa kita menuju Ancol. Setelah memasuki pintu masuk Ancol, suasa konser begitu kentara. Penunjuk arah “konser Iron Maiden” begitu banyak, satpam penunjuk jalan juga ada, dan yang tak kalah banyaknya ialah barisan manusia menuju pantai karnaval, baik itu yang menggunakan motor, mobil, juga jalan kaki. Macet buanget!.

Banyak banget orang bule (kebanyakan kepalanya plontos), Malaysia, Singapura, dan Jepang. Rata-rata mengenakan busana hitam. Baru kali ini, nonton konser datengnya malam, biasanya sebelum maghrib sehingga antrinya ngak panjang. Tapi malam Jum’at ini, aku kebagian antri panjang. Tanpa diduga, ternyata tepat didepanku mengantri adalah Candil (eks bvokalis Seriues), ada juga basis Sucker Head dan asiiknya: “John Paul Ivan, Bro!”. Langsung minta foto bareng. Ramah juga tuh Paul, aku nge-fans berat sejak album pertama saat dia masih jadi gitaris di Boomerang. Negfans karena gayanya kaya Slash. Selain mereka, aku juga bertemu dengan Bagus dan Eno Netral.  Malam yang indah.

Setelah melalui beberapa pemeriksaan, yang kiri-kanannya terdengar bukan hanya bahas Indonesia, dan juga tidak hanya logat Indonesia, tetapi Inggris dan melayu gitu, akhirnya kami memasuki lapangan konser….Langsung lari kecil untuk cari posisi yang tepat, maklum di festival C, kita berdiri tepat di pagar pembatas dengan festival B. Band pembuka Raise to remain (vokalisnya anaknya Bruce) mulai main tepat waktu, pukul 20.00 WIB. Selang 30 menit, panggung diubah oleh tim IM. Kira-kira 1 jam, dan selama  itu penonton festival A teriak-teriak: “maiden, maiden”, lalu panggung menjadi gelap. Jamku menunjukkan pukul 21.30 WIB. Dua layar besar menampilkan animasi IM, di panggung utama taburan bintang laksana di langit malam, wuiiih keren buanget, pantai ancol kala itu ditemani sinar rembulan dengan efek halo-nya.

Dua lagu pertama, mayoritas penonton cuma angguk-angukan kepala. Lagu terbaru IM banyak yang tidak hafal, bahkan tidak tahu (termasuk aku). Namun lagu berikutnya: “2 minutes to midnight”, buat suasana menjadi hangat. Semakin hangat, bahkan, pagar besi pembatas menjadi goyong, serasa hampir roboh ketika IM membawakan “The Trooper”, selain itu juga ketika pada lagu seperti “The Wicker Man”, “Blood Brothers”, “Fear of the Dark”, dan “Iron Maiden”. Dari yangku perhatikan, para penonton festival C sepertinya mayoritas OldSchool, mereka nyanyi kalau ada lagu-lagu tahun 1980 dan 1990-an dan tampangnya tua-tua, bahkan ada juga yang membawa anaknya. Oya, tak lupa, monster besar “Eddi” juga ikut tampil.

Seusai lagu ke-13 berikut aksi penutupnya yang mengejutkan, penonton seolah dibuat “terkecoh” oleh Iron Maiden. Pasalnya, Dickinson sudah mengucapkan kata, “Thank you!“. Sang penabuh drum pun telah melemparkan beberapa buah stiknya ke penonton, sementara para personel lain juga melepaskan semua alat musik dari badan masing-masing kemudian pergi ke balik panggung. Seisi panggung juga telah berubah menjadi gelap gulita. Tapi, aku ngak terkecoh, ini lazim. Suatu hal yang tak biasa, ternyata pintu pembatas festival B dibuka. Kontan penonton di festival C, masuk, kitapun langsung merangsek, cari posisi yang asiik untuk “menyerapi” lagu terakhir konser IM.

Dari panggung terdengar suara yang tidak asing lagi, sebagai “speech intro” lagu “The Number of the Beast”. Iron Maiden kembali menggebrak, yupz, ini adalah lagu yang telah ditunggu dan langsung dielu-elukan oleh penggemarnya. Dua lagu penutup lainnya adalah “Hallowed Be Thy Name”, dan “Running Free”. Dickinson kemudian melempar kupluk yang dipakainya ke arah penonton, suara riuh. Walaupun tanpa penghormatan band kepada seluruh penonton, para penonton begitu meriah, applaus tidak henti diberikan kepada: “maiden, maeden”. Kamipun mengabadikan suasana festival, rasanya asiiik banget. Sebuah konser terbaik yang selama ini aku tonton. Cool!!!!!.

—————

Tulisan terkait: Kompas1, Kompas2, Kompas3,…


2 thoughts on “Konser Iron Maiden 17 Februari 2011, Pantai Karnaval Ancol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s