Musisi memang salah satu saksi dan kritikus sosial-politik yang mampu mengemas sebuah jaman/era menjadi lagu. Saya pernah menurunkan tentang Lagu Kesaksian Iwan Fals yang menjadi saksi akan ketidakberdayaan masyarakat terhadap penindasan Orde Baru akhir tahun 1980-an dan awal 1990-an. Kali ini, masih tetap era Orde Baru, namun dilihat dari pergerakan kampus.

Sekitar tahun 1997-1998, saya sering mendengar lagu ini, terlebih ketika sedang naik Gunung Galunggung bersama Firman (kabar-kabarnya, kini dia menjadi Aspri Wakapolda Jakarta). Senang hanya karena lagunya enak dan suaranya tinggi, panjang seperti vokalis Gn’R. Lagu yang dimaksud adalah karya Slank. Lagu ini berkisah tentang kaum intelektual yang bisanya hanya diam saja, tak berbuat apa-apa melihat kesewenangan, kekerasan, ketidakadilan pada pertengahan tahun 1990-an. Kisah kaum intelektual tersebut dibungkus oleh Slank dengan judul: Kampus Depok, dan saya yakin kampus tersebut ialah: UI (Universitas Indonesia).

Ketika kuliah S1, saya selalu mendapat cerita tentang anak pergerakan UI (semisal BEM atau Senat kampus) yang dikirimi BH dan celana dalam wanita sebagai simbol pengecut karena mereka tidak turun ke jalan untuk protes pemerintahan Orde Baru. UI baru “terlihat” di forum-forum pergerakan antar kampus  dan di jalan-jalan ketika bulan-bulan awal tahun 1998. Sebelumnya mereka “absen”, dan dipotret oleh Slank dengan lagunya tersebut.

Seperti apa lagu Kampus Depok, berikut syairnya….

Kampus Depok – Slank

(Slank Lagi Sedih – 1996)

Banyak orang bicara tentang kebebasan
Banyak orang bicara tentang keyakinan
Dan banyak orang bicara tentang keadilan
Banyak orang bicara tentang perubahan

Semuanya cuma dalam bisikan
Semuanya nggak berbuat apa-apa [2x]

Banyak orang melihat manipulasi teman-temannya
Banyak orang melihat cara-cara kekerasan
Dan banyak orang melihat kesewenangan Kekuasaan
Banyak orang melihat segala kebobrokan

Semuanya hanya tutup mata saja
Semuanya nggak berbuat apa-apa [2x]


(Formsi 1996)