Tentang Simpati dan Empati di SMA Jakarta

Senin pagi 9 Mei 2011, kami berkumpul di Sanggar 9. Di salah satu bagian agenda yang dibicarakan, terkuak kembali tentang masalah “simpati dan empati”. Pembicaraan ini adalah lanjutan dari seminar MGMP Sosiologi se – DKI  beberapa bulan lalu yang dibawakan seorang profesor universitas ternama di Jakarta. Menurut prof yang saya lupa namanya (saya tidak ikut seminar, akan tetapi hanya diceritakan oleh belasan guru), dan dijelaskan bahwa: simpati lebih dalam dibandingkan empati, dan secara otomatis menjungkirbalikan apa yang selama ini diajarkan guru sosiologi di tingkat SMA, khususnya di DKI Jakarta. Mana yang benar dan mana yang salah, masih butuh kajian mendalam. Namun, bukan berarti harus menunggu, oleh karena itu, langsung saya surfing di internet tentang pemahaman kedua kata tersebut. Berikut uraiannya…..

Sumber 1

Tsunami.
Gempa.
Angin puting beliung.
Tanah longsor.
Banjir.

Itulah yang terjadi dan dialami oleh saudara2 kita saat ini. Bencana alam yang silih berganti, kerugian materi dan imateril bahkan nyawa. Mereka butuh bantuan, butuh uluran tangan, butuh perhatian … dan empati.

Dalam buku Social Psychology karangan Robert A Baron dinyatakan : empati adalah kemampuan seseorang untuk bereaksi terhadap emosi negatif atau positif orang lain seolah-olah emosi itu dialami sendiri

Empati beda dengan simpati. Simpati bisa dikatakan sebagai perasaan peduli dengan perasaan orang lain tapi simpati tidak sedalam empati. Dengan simpati kita belum dikatakan bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Contoh : saat melihat rekan sedang limbung bisnisnya kita bersimpati dengan menunjukkan kepedulian menanyakan alasan kebangkrutannya tapi kita belum bisa sepenuhnya merasakan kepedihannya.

Atau ketika terjadi bencana kita bersimpati dengan menyatakan kesedihan namun akan menjadi empati sesungguhnya ketika kita tidak merayakan tahun baru dengan glamor dan foya2 contohnya, karena kita benar2 berusaha memahami perasaan saudara2 kita yang sedang terkena bencana. Akan lebih baik lagi jika kita melakukan kerja nyata dalam memberikan bantuan.

Empati bahkan lebih powerfull jika kita pernah mengalami kejadian yang sama atau minimal orang terdekat dengan kita. Contoh kita berempati dengan korban banjir karena orang tua atau rekan dekat pernah mengalami dan kita ikut dalam penangannya. Walau begitu empati tidak harus pernah kita alami sendiri.

Melatih Empati

1. Muai dari diri sendiri
Kalau kita mengalami perasaan positif atau negatif, segera rekam. Bisa dengan menulis diari atau saat ini yang populer dengan menulis di blog. Satu sisi kita bisa membuka kembali rekaman tersebut ketika ada seseorang yang mengalami hal yang sama dan sisi lainnya rekaman itu bisa berguna bagi orang lain yang membacanya ketika ia mengalami hal yang sama sehingga diharapkan bisa sedikit membantu

2. Dengar curhat
Biasakan mendengarkan curhatan atau cerota orang sampai habis dan penuh perhatian. Semakin banyak mendengar cerita, masalah dan perasaan orang lain maka perasaan kita akan semakin kaya dan pada akhirnya bisa semakin tau cara memahami masalah dan perasaan orang lain.

3. Kalah kejadian sama saya
Coba untuk membayangkan apa yang bakal kita rasakan kalau mengalami satu perasaan atau kondisi yang sedang dialami orang lain. Dengan begitu akan muncul emosi yang sama baik positif maupun negatif entah itu marah, sedih, gembira. Memposisikan diri kita dalam posisi orang lain.

Lakukan Agar Nyata Bahwa Kita Ber-empati

1. Apa akibatnya
Coba pikirkan perilaku dan perkataan kita ke orang lain sebelum kita melakukannya atau mengucapkannya. Apakah akan menyakitinya, apakah cukup bijak dll.

2. Adil
Jangan menyuruh orang lain melakukan sesuatu yang kita sendiri malasa atau tidak melakukannya. Misal menyuruh orang lain untuk berjualan door to door padahal kita sendiri malas melakukannya, maka jangan menyuruh seperti itu.

3. Kasih bantuan
Bari aksi nyata dengan menanyakan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu seseorang. Jika tidak bisa memberikan apa yang diminta cari alternatif lain atau menanyakan apakah ada orang lain yang juga bisa ikut membantu.

Marilah kita asah selalu rasa empati kita. Bukan bermaksud riya bahwa kita telah memilikinya dan kita berjiwa sok sosial namun siapa tau suatu saat kitalah yang mengalami posisi yang sama sulitnya dan tanpa disangka karena kita sudah ber-empati maka akan ada yang ber-empati balik tanpa kita harapkanpun.

Sumber 2

Dari pandangan ethymology, Simpati dan Empati berasal dari bahasa Yunani.

Simpati (syn dan pathos), syn adalah besama-sama dan pathos dalam bahasa inggrisnya feeling dan dalam bahasa indonesianya adalah perasaan. Jadi simpati tersebut dapat diartikan sebagai pikiran atau perasaan yang dapat ikut bersama – sama merasakan perasaan atau penderitaan orang lain. Tetapi simpati hanya dapat merasakan sebatas perasaan atau pikiran luar saja.

Contohnya, di saat ada sahabat atau saudara kita yang baru saja mendapat musibah, kehilangan keluarga atau orang yang kenal dekat dengannya kemudian kita merasa iba atau kasihan kepadanya dan berkata “saya/kami turut ikut berduka cita atas meninggalnya (….)”. Kemudian sahabat atau saudara kita tersebut menangis di depan kita tetapi kita hanya dapat dapat merasa kasihan dan merasakan kesedihannya tidak begitu mendalam.

Kemudian empati (en dan pathos), en dalam bahasa inggrisnya adalah in atau at yang berarti dalam atau pada dan pathos disini sama dengan pembahasan simpati diatas. Jadi empati adalah ikut merasakan perasaan atau penderitaan orang lain secara mendalam melalui perasaan dan jiwa. Berbeda dengan simpati, empati dapat merasakan dan berperilaku dalam hal emosi, pikiran, reaksi organ tubuh dan perasaan yang sama dengan yang sesungguhnya dirasakan oleh orang lain secara mendalam.

Contohnya, di saat sahabat kita baru saja diputus pacar kemudian ia curhat kepada anda. Selama ia menyampaikan penderitaannya kepada kita dengan tangis. tanpa sadar kita terhanyut dalam kisah sedihnya dan kita pun ikut menangis merasakan kesedihan yang mendalam bersamanya seperti apa yang ia rasakan.

Di lain cerita, sahabat kita baru saja terlibat masalah. Kemudian sahabat kita berbagi cerita atas apa yang baru saja dialaminya, ia bercerita dengan emosi amarah yang menggebu – gebu tetapi tanpa disadari kita pun ikut merasakan emosi yang besar seperti apa yang ia sampaikan dan rasakan saat itu padahal kita tak ada sangkut pautnya dengan masalah tersebut.

Sumber 3

Empati adalah pondasi dari semua interaksi hubungan antar manusia.
Ketika ber empati, ketika itu lah kita mampu merasakan kondisi emosional orang lain..
Dengan empati, kita bisa membina relationship yang akrab dengan orang lain.

Contohnya seperti ini:
Kita baru saja ribut dengan teman sekantor.. ributnya lumayan serius..
Sehingga ketika pulang kerja, situasi itu masih terlihat diwajah kita..
Eeeh, dalam perjalanan kita ketemu teman.. dia ngajak karaokean..

Tapi setelah memperhatikan wajah kita, dia mengurungkan niatnya..
Dia melihat, ada yg gak beres diwajah kita.. juga keanehan perilaku kita yg tidak biasanya..
Akhirnya dia mendesak dan bertanya.. apa yg terjadi pada kita..
Dia berusaha agar kita mau sharing.. karena dia juga ikut merasakan apa yg kita rasa..
Itulah yg disebut empati..

Bila dia adalah bersimpati atas penderitaan kita..
Maka dia akan tetap mengajak kita berkaraoke ria.. untuk melupakan problem kita..
Karena dia yakin, dengan bergembira di karaoke.. semua problem akan lenyap!
Kerena dia memang biasa begitu.. maka dia yakin, cara itu pasti berhasil buat anda.

Empati berbeda dengan simpati.
Simpati itu berusaha memahami keadaan orang lain dengan persepsi anda..
Anda merasa punya “resep” untuk menyelesaikan problem yg seperti anda pernah rasakan..
Empati lebih dalam daripada simpati..
Empati menuntut anda berusaha memahami keadaan orang dari sudut pandang orang tersebut..
Itulah bedanya..

Sumber 4

Simpati dan empati ibarat angka yaitu angka 11 dan 12, kenapa begitu? karena hampir mirip.

Simpati dan empati itu suatu gejala kepedulian yg pengertiannya hampir mirip. namun bedanya terletak di empati adalah lebih daripada peduli akibat perasaan kita yg terlalu membawai dalam menyikapi suatu masalah seseorang yg kita empatikan. Sehingga letak perbedaan antara empati dan simpati terletak hanya pada taraf atau prosentase perasaan kita yg lebih mengalur pada  perasaan orang. Pada simpati perlakuan orang terhadap sesama memberikan perhatian lebih tanpa ada alasan apapun, empati perlakuan orang terhadap sesama memberikan perhatian dengan alasan tertentu.

Dalam  hal yang mengenai ketertarikan seseorang kepada orang lain yang seolah-olah merasakan perasaan orang lain inilah salah satu bentuk simpati misalnya seperti membantu korban bencana alam, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang.

Sedangkan untuk rasa simpati yang sangat mendalam yang mampu memberikan pengaruh pada kejiwaan dan atau fisik seseorang nah ini yang biasa disebut rasa empati. Misalnya saja rasa rindu yang terlalu dalam bisa menyebabkan seorang gadis menjadi panas dingin akibat tidak direstuinya hubungan cinta dengan kekasihnya.

Sehingga dapat kita ketahui bahwa Simpati adalah suatu proses dimana seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan.  Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Untuk empati mirip perasaan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja, melainkan diikuti perasaan yang sangat dalam.

Sumber 5

“Teh, Simpati & Empati apa bedanya sih?”

pertanyaan yang diajukan Eka, salah seorang anak CS di kantor gw. Bagus juga pertanyaannya, karena dua kata ini pasti sudah akrab dan sering kita dengar. Sesaat emang terlihat mirip, karena keduanya melibatkan perasaan. Tapi dua kata itu memilik arti & makna yang berbeda.

Simpati

Simpati adalah suatu proses dimana seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan.
Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang.

Empati

Empati mirip perasaan simpati, akan tetapi tidak semata-mata perasaan kejiwaan saja, melainkan diikuti perasaan organisme tubuh yang sangat dalam, seolah-olah kita sendiri sedang mengalaminya. Contoh bila sahabat kita orangtuanya meninggal, kita sama-sama merasakan kehilangan.

Empati bahkan lebih powerfull jika kita pernah mengalami kejadian yang sama atau minimal orang terdekat dengan kita. Contoh kita berempati dengan korban banjir karena orang tua atau rekan dekat pernah mengalami dan kita ikut dalam penangannya. Walau begitu empati tidak harus pernah kita alami sendiri.

Dengan simpati kita belum dikatakan bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Contohnya saat melihat teman yang  sedang limbung bisnisnya kita bersimpati dengan menunjukkan kepedulian menanyakan alasan kebangkrutannya tapi kita belum bisaberempati  sepenuhnya merasakan kepedihannya. Kedua rasa ini harus terus bisa kita asah, karena dengan bisa bersimpati atau berempati terhadap orang lain, hal ini akan bisa membuat kita lebih menghargai & mensyukuri arti kehidupan yang diberikan Allah SWT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s