Guru Honorer DKI Jakarta Dikeluarkan Tanpa Surat Resmi Pemberhentian

{bukan Sayuti}

Kepedulian yang alpa dari pihak pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan elemen pendidikan lainnya terhadap guru honorer terjadi kembali. Kini, bahkan menimpa guru honorer di daerah DKI Jakarta, khususnya dari satuan pendidikan sekolah negeri, sebuah sekolah pemerintah. Sebelumnya, berbagai pemecatan juga terjadi di daerah, baik itu Indonesia bagian Timur, juga pada bagian Barat, seperti di SD Mayang 01 Jember, Jawa TimurSMP Negeri 1 Jeumpa (NAD), Sekolah Dasar (SD) Negeri 009 Senapelan (Pekan Baru) dan Sekolah Dasar Negeri 2 Namlea, Kabupaten Buru (Maluku). Masalahnya bukan kepada pemecatannya, tapi alasan kenapa memecat, cara, dan dasar hukumya. Silahkan klik contoh kasus pemecatan tersebut.

Tidak Manusiawi

Jakarta, Ibu kota NKRI, tidak lebih baik dibandingkan didaerah. Seorang guru honorer bernama Sayuti, yang telah mengabdi sejak tanggal 17 Juli 2004 diberhentikan begitu saja dari sebuah sekolah pemerintah, yaitu SMP Negeri 253 Jakarta. Pengabdiannya dalam mencerdaskan anak bangsa selama hampir satu dasawarsa, tidak diikuti dengan pengakuan secara resmi oleh pemerintah, baik itu peraturan yang melindungi secara hukum status guru honorer di sekolah negeri, alih-alih malah dikeluarkan. Kepala Sekolah yang bernama Drs. Djoko Towo HB.M.Mpd yang nota bene-nya sebagai “orang pemerintah” (baca:  status pegawai negeri sipil), memberhentikan guru honorer tanpa kebijakan apa-pun, bahkan yang sangat menyedihkan ialah tanpa surat pemberhentian secara resmi/legal, selayaknya dalam sebuah institusi formil. Guru honorer tersebut menyatakan,  “saya merasa diperlakukan tak manusiawi”.

Ngawur

Sayuti selama di SMP Negeri 253 yang beralamat di  Jl. Antariksa Kp. Alang-alang Jagakarsa, Jiganjur, Jakarta Selatan,  mengampu mata pelajaran Agama Islam, dan kini, pengampu mata pelajaran tersebut adalah Guru IPS dan Guru BP/BK. Dimanakah dasar secara formil dan ilmiah, kalau guru IPS dan Guru BP/BK berkompeten mengampu mata pelajaran Agama Islam?. Sayuti mengaku kecewa: “kok jam pelajaran saya bukan diajarkan dengan guru agama?”. Bagaimanakah akhlak Islam peserta didik di SMP tersebut bila di didik oleh guru yang tidak seharusnya?, bukankah pemerintah sudah mengeluarkan UUGD yang menegaskan bahwa pengampu mata pelajaran harus sesuai latar belakang pendidikan guru?. Sekali lagi, dimanakah pemerintah?, apakah pemerintah mau bertanggungjawab lulusan SMP Negeri 253 Jakarta, tidak berakhlak mulia  sesuai tuntutan kurikulum Pendidikan Agama Islam?

Gara-gara Sertifikasi dan kontra UUGD

Tidak adanya pernyataan resmi dari pihak sekolah atau dinas pendidikan DKI Jakarta, dugaan mencuat dengan kuat bahwa disingkirkannya guru honorer disebabkan oleh beban pemenuhan 24 jam. Bagi kepala sekolah yang kurang cerdas karena malas membaca regulasinya dan tidak peka terhadap guru honorer, yang diketahuinya hanyalah: 24 jam harus dipenuhi sebagai syarat sertifikasi guru (baca: tunjangan berupa uang) harus dilakukan dengan dua cara: pertama, “mengambil”  jam pelajaran yang ada di sekolah, atau kedua, mengajar di sekolah lain. Untuk yang pertama, khususnya pada kasus Sayuti, bukan hanya menyingkirkan guru lain, tetapi juga menabrak akal sehat dan regulasi formil. Konflik bisa saja berkecamuk. Kedua, mengajar di sekolah lain berarti bertentangan dengan semangat dikeluarkannya UUGD. Undang-undang ini dikeluarkan agar guru fokus di satu sekolah, dan dengan regulasi tersebut gaji yang selama ini diperolehnya dari beberapa sekolah kemudian “tergantikan”  oleh pemerintah dalam wujud penambahan pendapatan (kesejahteraan). Sebelum undang-undang tersebut dikeluarkan, guru menjadi salahsatu pihak yang “dipersalahkan” karena mengajar diberbagai sekolah sehingga di sekolah pangkal (sekolah negeri) usaha mendidiknya menjadi tidak maksimal. Kenapa demikian?, dengan gaji yang sekedarnya dari pemerintah, dan tuntutan ekonomi yang cukup tinggi, maka nyambi kerja ditempat lain harus dilakoni. Guru ngajar di banyak sekolah. Kini, semangat UUGD berbenturan dengan keharusan 24 jam tatap muka dari kebijakan Sertifikasi Guru (yang juga termaktub dalam UUGD).

Sebuah Penantian

Kasus Sayuti banyak yang belum mengetahuinya. Tahun 2010, kasus serupa terjadi di SMP Negeri 238 Jakarta. Alhamdulillah rekan-rekan SGJ (Serikat Guru Jakarta) kerja cepat sehingga dapat teratasi, dengan seizin Allah, link di Diknas, para pemegang jabatan secara pribadi, rekan-rekan wartawan, DPRD, DPR, bahkan sampai ke RI 1 yang dibangun selama ini oleh SGJ ternyata membuahkan hasil. Semoga kasus Sayuti dapat diselesaikan. Amiiin.

lalu…….., dimanakah orang-orang PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)?, apa sumbangsih mereka terhadap guru honorer sekolah negeri apalagi terhadap mereka yang terkena masalah, sementara kami dikutip Rp.5000 tiap bulannya?…..

——————————

Sumber: Pengaduan Sayuti ke SGJ

4 thoughts on “Guru Honorer DKI Jakarta Dikeluarkan Tanpa Surat Resmi Pemberhentian

  1. Memang sangat mengiris hati ketika ada teman-teman guru honor di DKI yang dikeluarkan dan semua ini seperti virus yang cepat menyebar langsung mengenai ego kepala sekolah yang merasa memiliki kekuasaan di tempat tugasnya dan berbuat semena-mena terhadap guru honor (beraninya cuma hanya kepada kaum lemah saja) tetapi dengan perjuangan HGJ semua guru honor merasa tenang karena ternyata para pejabat yang lebih tinggi dari kepala sekolah masih memiliki hati nurani. Bagaimana kalau kepala sekolah kita bikin kalang kabut untuk mempertanggung jawabkan keuangan sekolah dengan melaporkanya ke KPK terutama kepala sekolah yang telah mengeluarkan guru honor dan akan mengeluarkan guru honor seperti smp 283, 272, 230 dll, sepertinya seru tuh….hanya sekolah yang belum terjamah oleh KPK.

    1. KPK mulai tahun 2012 ini sudah turun ke sekolah, namun baru tahap investigasi terhadap “orang-orang” atas…

  2. Kalau ada guru honor tidak diijinkan lagi mengajar karena tidak punya akta IV , dan tidak punya kompetensi yang memadai untuk mengajar , … apakah wajar guru ini mengatakan dianiaya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s