Nyontek adalah Nenek Moyang-nya Korupsi [di Indonesia]

Kamis, 6 Januari 2011, Pukul 00.00-an, saya membuka blog. Ada sebuah komentar yang  “menarik”, bahkan sempat membuat saya sedikit geram. Namun, segera saya sadari bahwa beda pendapat itu biasa, bisa jadi beda karena belum paham apa yang orang lain yakini, atau mempertahankan keyakinannya karena alasan-alasan yang menurutnya benar. Komentar terkait yang dimaksud ada di sini <klik> ,  berpendapat bahwa “apa hubungannya mencontek sama korupsi? kayaknya nggak ada deh” yang diutarakan oleh  Seseorang {klik}. Pendapat demikian merupakan respon dari keyakinan saya bahwa Nyontek adalah nenek Moyang-nya Korupsi [di Indonesia]: mata rantai korupsi yang merajalela kini, bahkan membudaya di bumi Indonesia, terkait dengan tindakan mencontek yang dimulainya sejak dibangku sekolah [Sumber: Mimpi “Nakal” Seorang Guru].

Masa-masa di bangku sekolah, secara psikologis, adalah ruang potensial bagi pembentukan kepribadian / karakter seseorang. Masa ini lazim dikenal sebagai usaha mencari jati diri untuk menentukan siapa dirinya, hasilnya sudah barang tentu membekas / melekat tahan lama. Contoh sederhana: jika di masa sekolah suka pada jenis musik metal, maka sampai tua pun tetap akan suka. Pada masa ini pula, secara sosiologis, merupakan dua buah agen sosialisasi yang berpengaruh dalam pembentukan bagaimana manusia belajar agar sesuai harapan masyarakat. Jika mereka belajar bahwa menyontek adalah hal biasa {baca: bukan tindakan salah}, maka ini merupakan sebuah proses belajar bahwa mencontek adalah sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Sehingga, dengan logika kedua pendekatan di atas, dapat ditegaskan bahwa mereka yang terbiasa mencontek pada masa sekolah telah membentuk dirinya terbiasa dengan kebohongan, karena mencontek saya yakini sebagai sebuah perbuatan yang bermuara kepada [mentalitas] pembohong, dan selanjutnya telah menjadikan mereka sebagai sosok yang cerdik / kreatif  sekaligus culas / curang. Mereka tidak akan mencontek dengan cara yang sama karena telah terdeteksi oleh pihak lain (guru), mereka akan mengembangkan cara lain yang tidak terpikirkan sebelumnya, misalkan dengan kode tertentu. Kreatif, bukan?. Maling tidak akan selalu memasuki rumah korban dengan topeng dan berbaju hitam di malam hari melalui pintu belakang atau atap rumah, melainkan berbusana rapih menyamar sebagai kurir PLN misalnya, lalu memanfaatkan keluguan pembantu pada siang hari ketika pemilik rumah kerja dan masuk melalui pintu depan seperti lazimnya orang bertamu. Pada bagian “how to make something”, mereka itu kreatif, karena kreatif yang saya yakini adalah mencari dan mengembangkan cara baru yang seringkali tidak terpikirkan kebanyakan orang. Demikian pula dengan korupsi. Koruptor akan menjalankan cara-cara tertentu yang orang lain tidak mampu mendeteksinya, baik itu ketika tindakan dilaksanakan, dan <semoga> selamanya. Pada saat yang sama, mereka bertindak “se-kreatif” itu, bukan masalah karena mereka dianggap/mengaganggap dirinya cerdas/cerdik, akan tetapi mereka tidak memiliki karakteristik pribadi yang jujur, yang harusnya melalui cara-cara benar sesuai nilai dan norma yang berlaku. Pada bagian ini, dengan tegas saya nyatakan bahwa “kreatif-nya” mereka merupakan usaha melestarikan perilaku bohong yang telah didapatnya dari bangku sekolah karena mereka dididik [dibentuk] untuk tidak merasa bersalah kalau membohongi orang lain. Di tempat dia bekerja, mereka memanipulasi pajak, mereka mengelembungkan anggaran, mereka me-mark up laporan keuangan, dst. Keyakinan saya ini sesuai dan diperkuat oleh kesimpulan sebuah riset, bahwa siswa yang melakukan tindakan kebohongan akademik cenderung akan berbohong di tempat kerja (Lawson, 2008). Sehingga, salah satu dari sekian banyak dimensi tentang menyontek, dapat dijelaskan bahwa Nyontek adalah Nenek Moyang-nya Korupsi, yang artinya menyontek adalah bibit-bibit / cikal bakal / awal / pintu gerbang dari sebuah korupsi. Begitulah hubungannya. Semoga dapat dipahami.

Beberapa bagian tulisan saya selanjutnya dapat dibaca pada tulisan berikut {klik}:

satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, 

3 thoughts on “Nyontek adalah Nenek Moyang-nya Korupsi [di Indonesia]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s