Guru Rebutan Jam Mengajar

Kalau para pengunjung budiman telah membaca tulisan saya pada tanggal 3 Feb. 2012 yang berjudul: Merebut/Berebut Jam Mengajar di Sekolah Negeri Ibu Kota Negara Indonesia, tulisan berikut ada kemiripan. Salah satu yang membedakannya ialah dalam tulisan portal Kompas ini dilengkapi landasan legal formal. Sebulan lalu saya sudah mewartakannya, dan kini versi penulis wartawan yang mumpuni. Selamat membaca….

————————————————————————————-

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketentuan beban mengajar guru minimal 24 jam/minggu tatap muka diberlakukan ketat mulai tahun 2012. Para guru pun berebutan jam mengajar, teutama yang sudah lolos sertifikasi, supaya tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok bisa cair pada Maret nanti.

Para guru yang di sekolahnya terjadi kelebihan guru mulai kebingungan mencari tambahan jam mengajar. Para guru di berbagai sekolah saling berebutan jam mengajar pascadiberlakukannya Surat Keputusan Bersama 5 Menteri Tentang Penataan dan Pendistribusian/Pemerataan Guru PNS mulai tahun 2012.
Sesuai ketentuan, guru bersertifikat bisa mendapatkan tunjangan sertifikasi jika memenuhi jam mengajar tatap muka minimal 24 jam/minggu.

Sebelum diberlakukan SKB 5 Menteri untuk mengatasi distribusi guru secara nasional yang semrawaut, guru bersertifikat yang jam mengajar tatap muka kurang dari 24 jam/minggu masih bisa memenuhi dengan tugas-tugas tambahan lain di luar kelas dan sekolah, misal pembimbing ekstrakurikuler, wali kelas, dan tutor paket A,B, dan C.

“Dengan adanya SKB 5 Menteri ini, beban mengajar guru benar-benar diberlakukan untuk tatap muka minimal 24 jam/minggu dan maksimal 40 jam/minggu. Beban kerja guru ini hanya di depan kelas saat mengajar siswa. Akibatnya, para guru banyak yang kekurangan jam mengajar,” kata Retno Listiyarti, Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia, di Jakarta, Minggu (11/3/2012).

Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Iwan Hermawan. “Terjadi konflik horisontal di antara sesama guru. Apalagi sekarang kan jumlah guru yang bersertifikat semakin banyak, terutama di sekolah negeri,” ujar Iwan.

Guru yang tidak memenuhi 24 jam mengajar di sekolah terpaksa harus mencari sekolah lain. Persoalannya, sekolah lain juga mengalami masalah sama. “Para guru pun kebingungan karena ancamannya tunjangan sertifikasi tidak bisa cair,” ujar Iwan.

Dengan adanya SKB 5 Menteri ini, beban mengajar guru benar-benar diberlakukan untuk tatap muka minimal 24 jam/minggu dan maksimal 40 jam/minggu. – Retno Listiyarti

One thought on “Guru Rebutan Jam Mengajar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s