TNI AL vs Y-GEN [Kasus Geng Motor Jakarta]

Sejak diberitakan beberapa minggu lalu, saya yakin gerombolan motor brutal berpita kuning adalah TNI. Kenapa ?

1. postur badan mereka tegap

2. rambutnya cepak

3. terorganisir dengan baik, kompak

4. ada panggilan “Dan” untuk komandan

Selain itu, dalam berita dinyatakan bahwa bekerjasama dengan TNI, khususnya penyidik AL. Sehingga bagi saya, buat apa Polri menggandeng penyidik AL, kalau bukan mereka anggotanya yang berbuat?. Selanjutnya, bagi saya, penyerangan yang terjadi mulai wilayah Utara,  Pusat hingga Timur Jakarta ini, merupakan balas dendam atau apa yang disebut sebagai solidaritas tentara, muncul karena anggota mereka meninggal dunia sekitar bulan Maret. Polisi yang seharusnya menangkap pelaku pembunuhan tidak mampu memenuhi rasa keadilan, lamban dalam mengungkap kasus. Kenapa lamban? karena pengeroyokan yang berakhir pada tewasnya anggota AL, diyakini pelakunya anak anggota pejabat tinggi Polri. Polisi tidak mau menyerahkan, begitupula AL. Sehingga kasus ini berlangsung lama, bila dibuka semuanya maka tercorenglah kedua institusi keamanan dan pertahanan tersebut. Komitmen reformasi dan profesionalisme Polri dan TNI, dipertanyakan kembali.

Sebagai penguat pendapat saya, Tempo mengeluarkan beritanya hari ini. Sebenarnya sudah lama saya meyakininya, tapi baru kali ini ada sumbernya yang tepat. Selamat berfikir !

Cerita Blakblakan Anggota Geng Motor Pita Kuning

TEMPO.CO Jakarta:- Geng motor yang satu ini bukan geng motor biasa. Mereka bergerak secara terorganisasi dan memiliki disiplin yang tinggi. Dalam setiap aksinya, mereka menandai diri untuk memudahkan koordinasi. Diduga, aksi geng motor terorganisasi ini dilakukan oleh prajurit TNI.

Penyerangan yang terjadi pada 7, 8, dan 13 April lalu dilakukan sebagai reaksi atas terbunuhnya anggota TNI AL, Kelasi Satu Arifin Siri. Seorang prajurit bercerita kepada Tempo, Jumat 20 April 2012 lalu, di sebuah tempat di Jakarta Pusat. Berikut ini petikan wawancaranya.

Geng motor berambut cepak atau berpita kuning dibentuk oleh anggota TNI?
Ya, khususnya Angkatan Laut. Ada sekitar 70 anggota AL dalam kelompok itu. Kelompok ini memang dibentuk sebagai reaksi atas tewasnya Kelasi Arifin Siri, 31 Maret lalu.

Sengaja berpita kuning?
Pita kuning itu bukan identitas, tapi penanda untuk pemberi komando. Kalau ada masalah dan massa harus dipecah, anggota harus mengikuti komando yang berpita kuning.

Ini operasi resmi?
Bisa dikatakan abu-abu. Kami tidak mendapat perintah resmi, tapi juga tak dilarang melakukan operasi ini. Atasan tentu tahu. Tapi alur komandonya saya tak tahu pasti. Seperti standar operasi intelijen, ada garis komando yang hilang.

Mengapa harus begitu?
Polisi sangat lamban mengusut kasus ini. Kami tidak langsung muncul setelah Arifin tewas. Ada jeda sekitar satu minggu sebelum penyerangan yang pertama. Untuk balas dendam, jeda waktunya terlalu lama. Tapi, kalau kami tidak mau menimbulkan kecurigaan, jeda waktu ini terlalu singkat. Tujuan kami memang ingin menunjukkan kepada polisi: “Kalau kalian tidak bergerak, kami bisa bergerak sendiri.”

Pengeroyokan ini acak atau terencana?
Terencana. Semua yang kena itu memang target kami. Sebenarnya kami sudah tahu siapa saja yang mengeroyok dan menyebabkan Arifin meninggal. Kami tidak bertindak menyapu bersih semua kelompok, hanya target tertentu.

Termasuk menghilangkan nyawa pun terencana?
Tentu kami tidak berencana membuat mereka tewas. Awalnya, kami hanya berencana menciduk, yah, dipukuli sih pasti…. Tapi, setelah itu, akan kami serahkan ke polisi. Tapi ada beberapa orang yang melawan dan akhirnya meninggal. Anggi, misalnya, ia mengeluarkan sangkur. Situasi jadi sulit dikendalikan sampai akhirnya ia meninggal.

Menurut Anda, mengapa polisi lamban?
Kami yakin ada anak jenderal polisi berbintang tiga yang terlibat dalam geng motor YGEN yang mengeroyok Arifin malam itu. Informasi ini juga sudah dikonfirmasi oleh intel satuan lain.

Ia juga turut menyebabkan meninggalnya Arifin?
Tujuh puluh persen tidak. Tapi, kalau polisi hanya melindungi anak jenderal itu, tentu yang lain akan “nyanyi”. Jadi, semua dilindungi.

Sumber: Tempo 

Berita terkait: Media Indonesia, Detik,

One thought on “TNI AL vs Y-GEN [Kasus Geng Motor Jakarta]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s