Pesan dari Geng Motor Rambut Cepak (GMRC)

Tulisan saya terdahulu yang berjudul: “TNi AL vs Y-Gen…”, sepertinya mendapat penguatan lagi. Lihat saja Fb dukungannya, lihat Gambar diatas , pahami bahasa dalam pesan, militer banget…..namun dmeikian, saya tidak ingin berspekulasi lebih jauh, yang pastinya tulisan yang sedang ramai di situs terluas-teramai di jagad Indonesia (kaskus.us), bahkan menjadi HT (Hot Treat), sepertinya ingin memunculkan dirinya sebagai “pembela” GMRC. Saya sampai tertawa, karena bagi saya, id “penimbulsituasi” sang penulis posting, salah sasaran. Bukannya mendapat simpati sesuai harapan “pesan dari GMRC”, tapi malah cemoohan, bahkan menuai keyakinan bahwa memang, tentara-lah yang bermain di sana (sweeping yang tewaskan rakyat sipil).

Berikut PESAN dari GMRC :

1. Aksi GMRC pada awalnya adalah aksi solidaritas. Bukan untuk membalas kematian Arifin, tapi sebagai bentuk ketidakpuasan terhadap kinerja polisi dalam pengusutan pengeroyokan Arifin. Tidak akan ada itu namanya GMRC jika sejak awal kasus ini terang benderang.

2. GMRC tidak mewakili institusi manapun. Gerakan ini pada awalnya tidak memiliki nama. Penggunaan nama GMRC justru diambil dari masyarakat yang melabel kami dengan “gank motor” yang anggotanya “berambut cepak”. Gerakan ini lebih sebagai simbol perlawanan terhadap ketidakpastian hukum. Jika seorang Arifin yang anggota TNI saja tidak mendapat kepastian hukum, lantas bagaimana dengan rakyat sipil biasa?

3. Kami tidak ingin menimbulkan keresahan, kerusuhan, atau berbagai macam huru-hara lainnya. Yang kami inginkan hanya satu: usut tuntas peristiwa pengeroyokan yang mengakibatkan meninggalnya Arifin. Jika ada pihak-pihak yang menggunakan peristiwa ini untuk hal-hal yang bersifat politis, itu urusan mereka masing-masing. Kami arus bawah tidak mau dan secara tegas menolak untuk terlibat dalam kepentingan politik lapisan atas.

4. Kami mengutuk segala macam bentuk cipta kondisi dan penggiringan opini, baik oleh media, polisi, maupun kelompok-kelompok lain, yang menempatkan GMRC sebagai “objek sasaran” dan “musuh masyarakat”. Jangan mengaburkan permasalahan dan mengalihkan isu. Fokuslah pada asal muasal permasalahan ini, sebagaimana tersebut dalam butir 1.

5. Sampai kapan kita akan terus menerus bungkam?

————————————

Lihat pada page 76. Bacalah dengan baik….

21-04-2012, 04:10 PM   #1513
kaskuser
PenimbulSituasi's Avatar
UserID: 3021734
Join Date: Jun 2011
Location: Bukit Manoreh
Posts: 169
PenimbulSituasi  sedang di jalan yg benar
*****Sudah hari ke-21. Mari kita bernyanyi… 

Selamat datang pahlawan muda
Lama nian kami rindukan dikau
Bertahun-tahun bercerai mata
Kini kita dapat berjumpa pula

Dengarkan suara gegap gempita
Mengiringi derap langkah prajurit muda
Hilangkan rindu
Pada ibumu
Selamat datang di Jakarta Raya

*****

Jadi inget tahun 1998 ya?….

Saya juga semakin yakin, berita di media yang mensinyalir TNI vs Polisi ternyata tidak salah, setidaknya untuk tataran di akar rumput. terlepas dari itu semua saya ingin nyatakan bahwa:

1. bagi saya memalukan, bahkan lucu, tentara Indonesia yang terkenal di dunia, bahkan banyak mendapat penghargaan oleh PBB, ternyata tewas ditangan Ababil (ABG Labil) alias remaja.

2. disayangkan, kasus ini terlalu lama diselesaikan oleh Polisi. Bukti sudah banyak, tapi tidak berani bertindak. Supremasi hukum runtuh.

3. di mata internasional, profesionalitas aparatur negara kita, semakin sulit dipercaya. TNI tidak berani menyerahkan diri, begitupula polisi tidak berani menangkap pelaku yang diyakini anak petinggi Polri. Sama-sama pembunuh tidak berani bertanggungjawab.

Oh, bangsaku…

Oh, Indonesiaku…

8 thoughts on “Pesan dari Geng Motor Rambut Cepak (GMRC)

  1. ane komentari pernyataan :
    “1. bagi saya memalukan, bahkan lucu, tentara Indonesia yang terkenal di dunia, bahkan banyak mendapat penghargaan oleh PBB, ternyata tewas ditangan Ababil (ABG Labil) alias remaja.”
    mungkin agan belum baca cerita kronogis pengeroyokan kelasi arifin itu soalnya ente komentar kayak gt, Menurut ane tentara super tempur manapun di dunia jika posisinya seperti kelasi arifin dikeroyok ama orang banyak ya pasti mati soalnya kalah banyak apalagi membawa senjata sedangkan kelasi arifin tidak.gt aja pendapat ane

    1. @nelly: komentar anda pada no.1 tergolong tafsir literlijk (apa adanya-tersurat). Namun ada tafsiran lain. Saya ingin menjawab sebagai warga Jakarta yang lebih dari 20 tahun tinggal di Ibu kota.

      Perkelahian yang terjadi antara sopir bis dan pengendara mobil adalah kasus sipil. Ngapain tentara ikut urusan sipil?. Ngapain juga arifin mengeluarkan Sangkur?. Tentara itukan pekerjaannya mengurusi keamanan nasional. Ini Jakarta..keras. Bukannya mau individualis, pesannya jelas: janganlah gemar mencampuri urusan lain. Bagi saya, apa yang terjadi kepada Arifin, adalah konsekuensi logis atas perbuatannya dia sendiri. Jika Arifin tidak campuri urusan lain dan tidak mengeluarkan sangkur, bisa jadi dia tak akan tewas.

      Bukan bermaksud meremehkan atau merendahkan korban, tapi inilah realitas Jakarta. Ngapain juga mengurusi orang berantem yang tanpa tahu juntrungannya, tidak paham masalahnya, apalagi di jalanan dan jumlahnya banyak (massa). Kalau saya jadi Arifin, saya akan melaporkan ke polisi karena merekalah yang berwenang terhadap permasalahan sipil, ingat lho, jika kasusnya banyak warga, massa. Tapi kalau orang berantem satu-lawan satu atau ada kecelakaan motor, saya segera menolongnya. Banyak kasus di Jakarta, orang yang melerai perkelahian malah dipukuli, bahkan terlibat perkelahian.

      Inilah maksud point no.1. Lucu, tentara (militer) urusi kasus sipil (berantem). Tentara kita ini dikenal dunia internasional, masa seh soal perkelahian sipil, tentara juga ikut campur?. apalagi, perkelahian yang melibatkan, bahkan kemudian hadap-hadapan dengan remaja?, memalukan, bukan?. Jika arifin tewas karena berperang, itu terhormat. Lumrah disebut ksatria atau martir. Lha, ini berantem dengan remaja, bahkan digebukin?!.

      Solusi sekarang sudah jelas pada point 2, polisi-lah yang harus menyelesaikannya. Namun, realitasnya sekarang adalah berlangsung lambat atau sebagainya. Maaf jika kurang berkenan kepada berbagai pihak. Terima kasih…

      1. Perkelahian yang terjadi antara sopir bis dan pengendara mobil adalah kasus sipil. Ngapain tentara ikut urusan sipil?. Ngapain juga arifin mengeluarkan Sangkur?.
        ——————————————————————————-
        udah bagus dia mau bantu dan melerai,.btw kalo gak ngurusin masalah rakyat ngurusin masalah sapa tong??
        bisa jelaskan kenapa mereka disebut aparatur negara ,di negara yg berlandaskan kemanusiaan yg adil dan beradab?

        Tentara itukan pekerjaannya mengurusi keamanan nasional
        ———————————————————————————-
        nah itu tau,dan hal APAPUN yg mngganggu keamanan masyarakat luas, dmn aparat yg berwenang tdk bisa memberikan keamanan (polisi), saya rasa aparat yg satu lagi berhak turun tangan

        Kalau saya jadi Arifin, saya akan melaporkan ke polisi karena merekalah yang berwenang terhadap permasalahan sipil,
        ————————————————————————————-
        terus kalo polisi udh gak bisa bertindak tegas ente mau apa?

        Bukannya mau individualis, pesannya jelas: janganlah gemar mencampuri urusan lain.
        —————————————————————————————
        saya rasa orang2 seperti anda yg membuat geng2 motor dan organisasi peresah masyarakat lain bermunculan

        Solusi sekarang sudah jelas pada point 2, polisi-lah yang harus menyelesaikannya.
        —————————————————————————————-
        solusinya jelas,..MASALAHnya yang harus diselesaikan, gak peduli oleh siapa, masyarakat cukup lelah menanti polisi menyelesaikannya

        1. @dave: pesannya jelas: urusan sipil diselesaikan oleh yang berwenang, yaitu polisi. ngak usah merasa lelah, toh kami yang sipil merasa memang polisi-lah yang harus turun tangan, ngak usah merasa dirinya ber-hak untuk urusi soal sipil. Bukankah tentara mulai reformasi?.

  2. ane setuju ama bro DAVE kl kita tak saling membantu di JAKARTA ini malahan kekerasan akan sering terjadi. semua perbuatan tergantung dari niatnya bos niat arifin siri baik ingin menolong. SEMOGA BRO YG KOMEN THREAD SAYA DI POSISI SUPIR YANG DIKEROYOK PEMUDA DAN TAK ADA YANG MENOLONG…………BIAR BRO NGARASAIN

    1. nelly: ini Jakarta, harus rasional. mungkin, bahasa kasarnya “jangan sok jadi pahlawan”. kalau mau bantu, dilihat-lihat dulu dengan jeli, jangan serampangan. sekali lagi, kalau satu-lawan satu, maka bolehlah kita lerai, tapi kalau massa, lebih baik mundur dan serahkan ke polisi. masuk akal sehat kan?. tapi kalau mau mati konyol, yach silahkan saja.

      kan lucu juga akhirnya, TNI yang terkenal di dunia Internasional kemudian tewas (bukan gugur ya) oleh sekelompok Ababil, bukan wafat melawan musuh negara tapi oleh remaja!.

      selanjutnya, yang saya tangkap dari opini Dave: jika polisi ngak mampu, maka tentara berhak untuk turun tangan. kalau begitu, kenapa juga Tentara ngak hajar tuh organisasi teroris, FPI, Pemuda Pancasila, FBR yang dapat dikategorikan sebagai organisasi peresah masyarakat?. kenapa juga tentara ngak hajar tuh preman-preman dan mafia di Jakarta, kan polisi ngak mampu urusi mereka?, atau lebih lanjut bela negara, kenapa juga ngak hajar koruptor yang merusak bangsa?, kenapa juga tentara ngak hajar pelaku illegal loging atau human traffiking yang jelas-jelas meresahkan masyarakat, bahkan merugikan negara? toh semua itu, terkesan polisi tak mampu menanganinya, atau logika Dave hanya berlaku kalau ada Tentara yang tewas?. gimana sih tong logikanya?.

      Ingat tong, Indonesia adalah negara resmi, bukan hutan. Jika polisi dianggap tidak mampu, bukan harus tentara yang turun tangan, walaupun tentara berhak membantu, maka harus sesuai dengan apa yang telah diatur dalam undang-undang, salahsatunya membantu atas permintaan polisi. Ingat lagi tong, ada peraturannya, bukan sekonyong-konyong langsung turun-tangan membantu. Jika Arifin bukan centeng atau “backing” atau “keamanan” angkutan sopir yang dipukuli, maka sepertinya itu kasus kekerasan spontanitas. Oleh karenanya, jika aparatur kita, salahsatunya, dilatih sebagai penolong, maka dalam kurikulum pendidikan dasar atau lanjutannya, harus dilengkapi tentang pengetahuan tata hukum yang mapan dan belajar logika-rasionalitas atau psikoloigi massa. Jadi lebih profesional dan cerdas.

      Menolong orang itu adalah baik, namun yang tak kalah baik-nya ialah melihat kapasitas diri. Bantulah semampu kita mampu membantu. Ngak usah ngotot, tapi rasional. Ada kok yang urus soal keamanan sipil. Jika kita membantu, kemudian berpotensi membahayakan diri kita sendiri, atau bahkan tidak mampu ikut menyelesaikannya, maka lebih baik “ngak usah sok jadi pahlawan”, lalu diserahkan ke yang berwajib. Ada kok yang urus soal keamanan sipil. Ini adalah sikap rasional dan taat hukum. Sekali lagi, jika kira-kira, kita dapat membantunya, maka lakukanlah.

      Semoga setelah kasus ini, jangan lagi ada Tentara Indonesia yang tewas, bukan karena membela negara, tapi malah kalah di tangan remaja, bukan tewas di medan perang, tapi malahan di jalanan. Lanjutkan profesionalisme Tentara dengan tugas menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

      Semoga, dengan kejadian tersebut, Polisi lebih mawas diri untuk meningkatkan pelayanan keamanan sipil, khususnya di daerah rawan kekerasan dan kejahatan. Lanjutkan profesionalisme polisi untuk memelihara Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (HarKamTibMas), menegakkan Hukum (Penegakan Hukum), memberikan Perlindungan, Pengayoman, dan Pelayanan kepada Masyarakat (Melindungi Mengayomi dan Melayani Masyarakat).

      So, serahkan kasus sesuai tugas yang harus diembannya:
      Polri = menjaga keamanan & ketertiban masyarakat.
      TNI = untuk perang dan non perang (biasanya untuk bantu-bantu pas ada bencana alam).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s