Menjadi Storyteller pada Hardiknas 2012

Sejak Jum’at lalu, saya sudah mendapat kabar dari Wakasek untuk menceritakan sejarah Ki Hajar Dewantara (KHD) pada upacara bendera 2 Mei 2012. Saya menjadi semacam storyteller, yakni menceritakan kisah sejarah suatu peristiwa atau tokoh tertentu. Sebagai hasil raker tahun lalu, sekolah kami mengutamakan (mewajibkan) upacara bendera pada hari-hari besar yang disahkan oleh pemerintah. Bagi saya, maksud kegitatan tersebut adalah untuk mengenang, mereviuw, introspeksi, dan menyemangati seluruh peserta didik.

Dalam bulan ini adalah upacara HARDIKNAS (Hari Pendidikan Nasional). Beberapa hari sebelum hari ini, bahan dari internet segera dihimpun, dan saya baca baik-baik. Saya berfikir akan merasa grogi untuk bercerita di hadapan ratusan peserta didik dan puluhan guru serta pegawai TU, apalagi saya berdiri di atas altar selayaknya pembina upacara dan ini adalah untuk pertama kalinya saya melakukan. Saya meyakinkan bahwa saya ini guru yang setiap hari berbicara di depan orang banyak, dan saya bisa untuk menjadi storyteller kali ini. Tentunya doa juga dipanjatkan.

Upacara seperti biasanya berjalan tertib, dan relatif hening, padahal dewan guru dan karyawan tidak ada yang berdiri dibelakang barisan peserta didik seperti upacara hari senin, akan tetapi mereka berbaris di sebelah (paling) kanan pembina upacara. Setelah pembina upacara memberikan amanahnya, pembawa acara menyebut nama saya sebagai pencerita sejarah Ki Hajar Dewantara. Saya keluar barisan sambil membaca Bismilah…dengan dibunyikan sambil senyam-senyum dengan rekan-rekan guru dalam barisan sambil saya berkata: “grogi ngak ya?…”

Menaiki tangganya saja saya berucap doa. Uh, rasanya enak, selain memang ini moment yang ditunggu juga beda aja kalau sudah di atas altar. Manstap bro!!. Awalnya saya pikir akan grogi, tapi hilang semua ketika saya berbicara bak waktu dulu ketika demonstrasi saat kuliah S1. Saya lepas saja, apa adanya saya. Serius, ada sindiran, bahasa tubuh, gerak mata, dan tentunya ilmu. Pagi yang cerah dan cenderung terik bagaikan vitamin bagi saya. Pada kesempatan itu, saya hanya sekedar berbagi informasi, dan membuat orang yang mendengarnya tergerak untuk sadar bahwa BANGSA KITA INI (INDONESIA) ADALAH BANGSA YANG BESAR dan itu diperolehnya melalui usaha dalam bidang pendidikan, tentunya tanpa menafikan usaha dalam bidang yang lain juga.

Setelah upacara usai, ucapan selamat dari rekan guru dan TU membuat saya merasa nyaman. Apresiasi mereka diantaranya sebagai berikut: “bagus pak, berapi-api”, ada juga yang menyatakan kepada saya: “orator”, “pak, tadi semangat”. Selain itu, ada juga yang komplain: pak saya protes, tadi bukan Suryadi Suryaningrat, tapi Suwardi. Selanjutnya adapula yang bilang: “saking semangatnya, sampai lupa assalamualaikum saat buka tadi..” . Kata seorang teman, “pidatonya bagus”, ternyata: “tadi (pidato) bapak lebih lama dari pembina upacara”.

Saya merasa masih kurang matang, namun untuk sebuah awal, ini adalah langkah perdana yang positif. Semoga para pendengar dan yang melihat storyteller-ku tadi pagi dapat menfaatnya. Amiiin.

2 thoughts on “Menjadi Storyteller pada Hardiknas 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s