Empat Persoalan Besar di Papua

VIVAnews – Kerusuhan pecah di Distrik Waena, Jayapura, Papua, Kamis 14 Juni 2012. Perusuh berasal dari kelompok yang protes dan tidak terima atas penangkapan Wakil Ketua Komite Nasional Papua Barat, Mako Tabuni. Mereka membakar motor, mobil, dan rumah.

Polisi sendiri menangkap Mako Tabuni karena menduga kelompoknya lah yang melakukan rangkaian aksi penembakan misterius belum lama ini di Papua. “Kelompok ini yang melakukan penembakan terhadap TNI, Polri, dan Pegawai Negeri Sipil,” kata Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan HAM Djoko Suyanto.

Kerusuhan di Distrik Waena ini pecah tidak sampai sepekan setelah rombongan Komisi I DPR mengunjungi Jayapura. Peristiwa ini juga terjadi hanya berselang dua hari setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengeluarkan instruksi kepada Panglima TNI dan Kapolri untuk melancarkan Operasi Pemulihan Keamanan di Papua, Selasa 12 Juni 2012.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Komisi I Tubagus Hasanuddin menyatakan eskalasi yang terjadi di Papua saat ini bukan hanya berpusat pada persoalan keamanan. Oleh karena itu ia menganggap Operasi Pemulihan Keamanan yang dilakukan pemerintah kurang efektif.

“Ada masalah yang lebih besar di Papua yang harus diselesaikan lewat upaya-upaya komprehensif dan terpadu,” kata Hasanuddin kepada VIVAnews. Ia lantas memaparkan empat masalah besar di Papua yang belum berhasil diatasi hingga saat ini.

Pertama, gagalnya penerapan otonomi khusus, terutama di bidang kesejahteraan ekonomi, kesehatan, dan pendidikan. Kedua, adanya diskriminasi dan marjinalisasi terhadap masyarakat asli Papua. Ketiga, adanya perasaan traumatis dari sebagian masyarakat Papua sebagai akibat tindakan represif aparat di masa lalu yang tak pernah diselesaikan secara tuntas.

Keempat, masih terdapatnya perbedaan persepsi tentang integrasi Papua ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Penentuan Pendapat Rakyat tahun 1969,” ucap Hasanuddin. Keempat masalah ini, sambungnya, semakin runyam dengan munculnya kasus-kasus penembakan gelap di bumi cendrawasih itu.

Hasanuddin mengungkapkan dalam 18 bulan terakhir ini saja, terjadi lebih dari 30 kali penembakan di Papua. “Situasi ini menimbulkan rasa saling curiga antara TNI/Polri dengan rakyat Papua,” kata dia. Apapun politisi PDIP itu sepakat hukum harus ditegakkan di bumi Papua.

“Tapi saya khawatir Operasi Pemulihan Keamanan hanya akan menimbulkan gejolak baru dalam masyarakat Papua,” ujar Hasanuddin. Pada akhirnya ia berharap pemerintah bersama semua elemen masyarakat di Papua dan di tanah air dapat menyelesaikan keempat persoalan besar Papua itu secara bertahap dan damai.

Sementara itu, Kapolri Jenderal Timur Pradopo sendiri meminta masyarakat Papua, khususnya Jayapura, untuk tetap tenang. “Jayapura dan sekitarnya sudah dikuasai aparat Polda dibantu Kodam dan intelijen,” kata Timur.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s