Gerakan NII Masuk SMA di Jakarta: Gejala di sekolah

Ketika mengetahui NII Crisis Centre akan tampil di sekolah kami, sontak hiruk-pikuk kenangan sekitar 4-7 tahun lalu menyeruak. Setelah tayang pada tanggal 20 Juni lalu, pembicaraan semakin marak, membahas seorang remaja siswa SMA kami (Jakarta) masuk ke dalam organisasi NII (Negara Islam indonesia). Selain di sekolah kami, LSM tersebut juga manggung di SMAN 38, SMAN 109, SMAN 82, dan SMAN 28.

Terlepas mekanisme yang lebih tinggi di tingkat keorganisasiannya, di lapangan, siswa yang terlibat atau tepatnya terjebak akan mengalami gejala sebagai berikut dalam aktifitasnya:

  • nyaris setiap hari selalu pulang malam dengan dalih pengajian atau pertemuan keagamaan
  • prestasi di sekolah menurun, mulai ulangan harian hingga ujian akhir semester
  • sering membolos atau jarang sekolah, dan tentunya tanpa keterangan dari orang tua
  • gemar berbohong, ada saja alasan jika tidak mengerjakan PR atau ditanya kenapa sering tidak sekolah
  • menjual barang apapun untuk memperoleh sejumlah uang
  • menghalalkan jalan apa saja, bahkan dengan mencuri atau memanipulasi harga buku atau kegiatan sekolah
  • terlihat lesu, ngantuk, dan lelah jika masuk ke sekolah, sringkali tertidur di kelas dan seperti orang yang tidak sehat
  • tertutup dengan teman-temannya, juga kepada guru, cenderung tidak ramah dan pendiam sekali
  • jarang pulang, bahkan bisa jadi tidak akan pernah pulang ke rumahnya lagi
  • siswa yang masuk NII buakan anak anggota TNI atau Polri

Gejala tersebut ternyata akibat dari keharusan anggota NII mengumpulkan uang untuk perjuangannya. Setiap anggota harus menyetor sebesar Rp.500.000-5.000.000 setiap bulannya dengan apapun caranya. Cara yang ditempuh antara lain:

  1. meminta sumbangan dengan label “anak yatim” dan sejenisnya yang berbau agama Islam seperi wanita2-wanita yang berserakan di SPBU, ATM, dan tempat-tempat makan.
  2. mencuri, biasanya rumah yang anaknya sudah masuk jaringan NII, seringkali kehilangan uang> Itu bukan ulah tuyul, tapi anak yang terjebak NII.
  3. membohongi (memanipulasi), misalnya: harus membeli buku dengan harga yang lebih besar dari yang sudah ditentukan, bahkan berdalih untuk membantu temannya yang tidak mampu atau untuk kebutuhan amal.
  4. pengumpulan dana fiktif dengan label untuk “anak yatim”, “pembangunan masjid”, “panti asuhan”, atau “bencana alam”.

Mereka, anak sekolah, merupakan segmen terbesar dan amat menjanjikan bagi NII. Selain berpendidikan, mereka terbilag “kelas bersih” karena keluguan dan masih bersatus “pelajar” sehingga banyak orang tua atau masyarakat umum dengan sukarela memberikan uang atau simpatik terhadap aksi (kebohongan)-nya dengan dalih-dalih keagamaan. Di lapangan, mereka ini, tidak lebih dari “para pengutip, atau pengutil uang” dengan target besar dan pengawasan yang amat ketat dari Imam (ketua/pemimpin) se-tingkat kelurahan. . Bermimpi mendirikan NII secara pragmatis-praktis dengan menghalalkan berbagai macam cara dan berjenis proses, tanpa peduli dengan nilai-nilai Islam itu sendiri.

Sepertinya, yang ada di kepala siswa yang masuk dalam jaringan NII adalah nyetor. Seorang yang sudah diberikan hidayah dan keluar dari NII menilai bahwa rugi menjadi anggota NII:  “Ya rugi, karena kita cuma disuruh nyetor-nyetor aja.” Dampaknya, sekolah terlantar, bahkan keluar alias drop out. Jarang pulang, bahkan tidak akan pernah pulang. Badan kurus dan tidak sehat. Selalu bokek alias miskin karena semua uang di setor untuk si Imam untuk “perjuangan”. Mereka, pelajar, seperti  “sapi perahan”.

Melihat itu semua, aku berharap semoga pihak sekolah lebih kritis dan peka melihat gejala yang bisa jadi muncul kembali mengingat begitu massif-nya gerakan NII Pragmatis-praktis ini. Amiiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s