Friendster, Facebook, Tweeter, dan Blog [Trend dan Pilihan]

Jejaring sosial dalam dunia memang amat nge-top dan sangat nge-pop sekarang ini, bahkan dimulai sekitar medio 2006 ketika Friendster merajai komunikasi pertemanan sekunder. Perjalanan komunikasi melalui sarana internet ini, kemudian bergeser.  Friendster kemudian secara perlahan di tinggalkan oleh pemirsa dunia maya, dan menemukan jejaring baru yang dikenal Facebook sekitar tahun 2008. Setahun kemudian, menurut CheckFacebook.com Indonesia adalah negara pengguna Facebook terbesar ke-7  dunia. Bulan Agustus 2012 ini, menurut situs tersebut, Indonesia naik peringkat menjadi ke-4 setelah USA, Brazil, dan India.

Tidak kalah menariknya, tweeter yang baru nge-top dan nge-pop setelah “suksesnya” Facebook, telah menempatkan Indonesia di peringkat 5 pengguna terbesar di dunia. Lebih khusus, pada awal Agustus 2012 ini, TechCrunch melansir “prestasi” Jakarta sebagai kota paling aktif nge-twet se-dunia.

Trend persahabatan melalui media internet ini amat didukung oleh media elektronik khususnya televisi nasional swasta. Nyaris semua mata acara selalu mengajak pemirsa televisi untuk mengunjungi FB dan nge-twit untuk keberlanjutan acara tersebut, baik itu sebagai fans atau kemudahan informasi lainnya yang tentunya dapat mendekatkan konsumen, yakni pemirsa. Di samping itu, karakter bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi silaturahmi turut serta meramaikan jejaring sosial tersebut, walaupun aroma ikut-ikutan juga ikut didalamnya. Dimanapun pertemuan langsung terjadi , alamat FB atau Twiter menjadi “pengganti atau pelengkap” pergaulan yang baru dibangun atau pertemanan langsung yang selama ini terputus, hilang kontak-komunikasi. Tren FB dan Tweeter telah nge-top, sekaligus nge-pop (gaul bro !).

Di media FB dan Tweeter, kicauan seakan tanpa henti. Dini haripun, selalu ada saja yang up date status dan mention2-an. Perjalanan dunia dapat dilihat dinamikanya di dalam media tersebut, khususnya Tweeter yang dinilai lebih cepat dibandingkan FB. Belakangan kedua media sosial ini saling menukar kemudahan sehingga “dunia bagaikan desa”, setiap kejadian di luar lingkungan kita, dengan cepat kita mengetahuinya seperti aib dimasyarakat kampung yang dengan mudah menyebar karena kecilnya ukuran wilayah dan kekerabatan di kampung yang begitu dekat. Kedua media sosial ini, amat berperan menyebarkan berbagai informasi, baik itu dari situs/portal berita, maupun tulisan pribadi yang termuat dalam blog.

Penulis yang biasanya, atau awalnya menumpahkan pemikirannya yang panjang-lebar dalam blog, kini banyak yang berpindah ke Tweeter dan FB, bahkan telah ber-revolusi: yang awalnya sebagai bloger menjadi “pesbuker dan tweeter maniac tak sekedar sebagai foloower”. Kedua pecandu sosial media ini, turut serta menolong hidupnya blog, sekali lagi menyebarkan informasi, namun bagi bloger yang terlena, kemudian malas menulis dan, sekali lagi, berubah wujud menjadi pecandu FB dan Twit. Kedua pecandu ini, bisa berubah menjadi orang yang amat kaya informasi dengan catatan jika mereka yang membacanya terlebih dahulu baru kemudian menyebarkannya.

Melihat fenomena bloger yang bermigrasi, penulis dalam kompasiana menuliskan:

Ketika banyak blogger berimigrasi dan menjadi tukang berkicau dan Facebookers, blog akan tetap hidup, dan akan diisi oleh mereka yang memang benar-benar ingin menulis.

Saya selalu ingin menempatkan diri seperti di atas, terutama menjadi orang yang ingin benar-benar menulis. Menulis tentang kesenangan dan keprihatinan, seperti fenomena di atas. Senang rasanya melihat keponakan yang sibuk dengan facebook-nya karena sedang membangun persahabatan, tali silaturahmi dengan orang lain. Bahagia rasanya melihat teman se-kantor yang selalu up date informasinya, baik lokal ataupun internasional melaui Tweeter-nya. Sebagai bloger, saya cukup prihatin dengan kenyataan ini, dibidang informasi dan ekonomi, mereka baru dapat bertindak sebagi penyebar dan pemakai informasi, sebagai distributor sekaligus komsumen. Serupa ketika kita melihat masyarakat Indonesia yang bangga, merasa nge-top dan nge-pop (sesuai perkembangan jaman) memakai ini dan itu, tapi mereka sekedar pemakai, tidak lebih.

Seorang keponakan bertanya pendapat saya tentang FB, Tweeter dan blog. Saya menjelaskan bahwa:

FB dan Tweeter tidak bisa menghasilkan tulisan yang panjang lebar. Di blog,  kita bisa berpendapat lebih banyak, bisa menulis lebih luas tidak terbatas, berbeda seperti di FB dan Tweeter karena keterbatasan sarana. Kedua jejaring sosial tersebut, seperti obrolan interaktif di sms dan BBM-an. Kita cuma bisa memberitahu atau menyebarkan isu terkini kepada orang lain. Di blog, kita bisa memproduksi, menghasilkan tulisan, tapi di FB dan Tweeter kita sebagai distributor dan konsumen.

Pendapat saya ini bukan ingin membangun sebuah pertentangan, namun sebuah ungkapan realitas. Yang harus para pembaca budiman pahami ialah menulis atau menyebarkan dan membaca tulisan adalah sebuah pilihan. Ada orang yang merasa nyaman dengan kicauan singkat di FB atau Tweeter, atau kicauan luas dan leluasa dalam uraian panjang tulisan di blog. Silahkan pilih kenyamanan anda. Sebagai penutup, saya mengajak pembaca budiman agar menjadi bagian dari bangsa yang produktif. Jayalah Indonesiaku !.

2 thoughts on “Friendster, Facebook, Tweeter, dan Blog [Trend dan Pilihan]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s