Konser Rock Terbesar dalam Sejarah Indonesia

This slideshow requires JavaScript.

Keinginan untuk menuliskan tema seperti judul di atas selalu terngiang-ngiang setiap kali membaca dan menyaksikan langsung konser di Jakarta.  Konser rock terbesar yang saya maksudkan di sini adalah konser dengan jenis musik rock n’ roll, metal, punk, dan atau musik keras lainnya dengan jumlah penonton terbanyak dan belum ada yang memecahkan lagi di Indonesia hingga kini (September 2012). Konser yang dimaksud juga bukanlah pagelaran semacam festival yang menghadirkan banyak band dalam satu even, namun hanya satu band. Menyoal hari, maka yang dihitung tentunya banyaknya penonton dalam satu paket konser, baik itu satu atau dua hari (maksimal tiga hari, jumlah dikomulatifkan).

Sebelumnya, saya sudah percaya diri menyatakan bahwa konser terbesar dalam sejarah Indonesia, salahsatunya ada dalam tulisan saya (klik). Ternyata saya salah.

Ketika memulai tulisan ini, saya teringat kepada rekan kerja, yaitu seorang ibu yang sudah memiliki anak remaja, namun masih “nge-rock” dan hafal benar dari detik-ke detik tentang konser Deep Purple 1975 ketika saat SMP dulu. Bagaimana beliau menceritakan perjalanannya dari Jawa Tengah hingga menyaksikan laur biasanya konser yang di gelar di Senayan (Gelora Bung Karno – Stadium Sepak bola Terbesar se-Asia Tenggara kala itu). Beliau dengan semangat menkisahkan, betapa penuhnya penonton, beliau ada di festifal, sehingga rasanya dibawa arus manusia dan tanpa sadar sudah di tengah lautan manusia, di tengah lapanagn bola Senayan, menjauh dari tempat ketika beliau pertama berdiri untuk menikmati musik Deep Purple.

Penggalan kisah rekan saya itu dan bacaan terkait lainnya, telah membawa saya kepada fakta baru (bagi saya tentunya). Sepanjang sejarah konser musik rock di Indonesia, ternyata jumlah penonton yang paling banyak dan belum ada yang menandinginya hingga kini adalah band asal Inggris, yakni DEEP PURPLE. Terkait dengan itu, berikut fakta mengapa Deep Purple mampu (saya) beri predikat sebagai Konser Rock Terbesar dalam Sejarah Indonesia dan berbagai kisah menarik lainnya.

  1. Konser Deep Purple hari pertama, 4 Desmber 1975, dihadiri sekitar 75.000 penonton yang datang tak hanya dari Jakarta namun dari luar kota dan bahkan luar negeri, seperti, Malaysia, Singapure dan Filipina. Lapangan, tribun atas, tribun bawah dipenuhi lautan manusia. Penonton malah sampai menonton di atap stadion juga.
  2. Total ada dua belas lagu dalam set list Deep Purple di hari pertama. Konser hari pertama ini  berjalan mulus tanpa represi aparat kepolisian walau ribuan penonton tanpa tiket sempat merubuhkan pagar masuk stadion untuk bergabung dengan penonton lainnya. Pager jebol. Keamanan membiarkan saja orang-orang menerobos. Ada banyak petugas keamanan bersenjata api di setiap sudut dan mereka sibuk menertibkan para penonton, tapi agaknya tidak ada pengamanan yang terorganisir dari polisi.
  3. Total diperkirakan jumlah penonton yang menyaksikan konser Deep Purple selama dua hari di Stadion Utama Senayan berjumlah 150.000 orang!. Rekor yang bahkan tak tertandingi oleh konser Mick Jagger [70.000] tahun 1988, Sepultura [50.000] di tahun 1992 dan Metallica [100.000] di tahun 1993. Yupz, sekali lagi ketika itu (1975) para personel Deep Purple sangat terkejut dengan respon penonton di Indonesia yang luar biasa. Total diperkirakan yang menonton dua hari konser Deep Purple ini 150.000 orang!. Konser-konser mereka sebelumnya di Australia yang menonton hanya sekitar 3000 orang.
  4. Deep Purple mendarat dibandara Halim perdana kusuma, Jakarta pada 2 dember 1975 dari Australia. Ini merupakan kunjungan perdana Deep Purple dan satu-satunya di asia Tenggara. Konser diselenggarakan pada 4-5 Desember 1975, dua hari sebelum Indonesia menyerang atau meng-invasi Timor portugis.
  5. Romobongan Deep Purple Sendiri berjumlah 36 orang yang ditempatkan di dua hotel sekaligus. Para kru menginap di Hotel Sahid Jaya sementara manager dan personill ditempatkan di hotel Mandarin.
  6. Majalah Aktuil dan Peter Basuki dari Buena Ventura Group yang bertindak sebagai promotor dengan digawangi oleh jaringan Denny Sabri (wafat 29 November 2003 di Bandung). Beliau adalah orang yang sangat dekat dengan lingkaran dalam Deep Purple, mulai dari tingkat Manajement, raod crew hingga para personelnya ia kenal sejak lama sebelumnya.
  7. Pada 8 November 1975 diHonolulu Hawaii, Denny Sabri secara spontan diperkenalkan kepada ribuan penonton oleh David Coverdale yang berkata bahwa Deep Purple telah kedatangan “ Seorang tamu dari bagian lain surga. Selamat datang Denny Sabri, sang promoter!” Lampu sorot kemudian diarahkan kepada Sabri yang kebetulan sedang duduk dibarisan depan. Aplaus penonton membahana yang segera disusul dengan bergemanya lagu “Burn”. Sebuah momen impian bagi penggemar band apapun telah menimpa dirinya. “Coba bayangkan, betapa bangganya saya!”, tukas Denny.
  8. John Lord juga sempat melakukan solo keyboarddengan memasukkan lagu “Burung Kakaktua” dan “Padamu Negeri” di Show hari kedua. Denny Sabri-lah yang merekomendasikan dua lagu itu.
  9. Untuk bisa menyaksikan Deep Purple, promotor membagi lima kelas penonton. Kelas VIP A dengan harga tiket Rp 7.000, VIP B seharga Rp 5.000 serta kelas I, II dan III, dengan harga tiket paling murah berada di kelas III dengan seharga Rp 1.000.
  10. Untuk dua konser di Jakarta honor yang diberikan kepada Deep Purple sebesar 48 juta rupiah.
  11. Untuk dua malam membuka konser Deep Purple, God Bless dibayar 1,5 juta rupiah. Fee terbesar God Bless pada saat itu. God Bless membuka konser dihari kedua dan cuma main lima lagu, tiga puluh menit dan bareng supergrup lagi. Sebelumnya, selama sebulan mereka “dikarantina” di sebuah vila di daerah Gadog, Puncak untuk mempersiapkan segalanya
  12. Tak hanya God Blessm band-band Indonesia saat itu masih belum paham fungsi stage monitor, sound system bahakan Mixer. Ketika melihat tata lampu yang hebat dan asap dry ice semua orang terbengong-bengong. Memang belum ada jaman itu. Selain mempelajari teknis produksi, musisi local kita untuk pertama kalinya mengenal konsep manajerial badn dari Deep Purple. Mulai dari fungsi personal Manajer hingga account management. Kedatangan Deep Purple bagai sebuah revolusi yang membuka mata band-band Indoensia.
  13. Bagi Deep Puple, konser hari pertama mereka di Indonesia selain heboh juga juga tragis. Patsy Collins, Bodyguard Tommy Bolin, tewas mengenaskan setelah terjatuh dari sebuah lift yang tengah diperbaiki di Hotel sahid Jaya. Berita tragedi ini berhembus ke seluruh dunia dan bahkan sempat dimuat ROLLING STONE Amerika edisi 29 Januari 1976 dengan judul “Indonesian Nightmare Strikes Deep Purple.”
  14. Konser hari kedua, 5 desember 1975. Pengamana dari pihak kepolisian makin diperketat. Sekitar enam ribu polisi anti huru-hara diterjunkan untuk menjaga keamanan konser tersebut, adapula segerombolan polisi dibantu anjing-anjing Doberman berada tepat didepan panggung untuk berjaga-jaga.
  15. Ratusan penonton yang sedang berjoget mengikuti musik tampak sibuk menghindari dari terkaman anjing-anjing yang mulai mengamuk. Sebuah pemandangan konser yang tidak manusiawi sebenarnya. Bahkan jika ada penonton yang “berdansa kerasukan” (moshing atau headbang or sejenisnya), maka para polisi itu tidak segan-segan untuk menedang dan memukul orang tersebut. Setiap kali ada kerumunan penonton yang berjoget para polisi itu langsung menghajar mereka, bahkan sempat ada peristiwa mengerikan ketika seekor Doberman besar milik polisi dengan buasnya menggigit lengan seorang anak kecil. Aparat keamanan makin menggila.
  16. Deep Purple dihari kedua bermain lebih pendek dari yang dijadwalkan. Mereka tampak ketakutan mengingat kondisi dalam stadion yang makin mencekam.
  17. Sebelum konser dimulai, sebuah peringatan berkumandang agar orang-orang eropa yang menonton konser ini berkumpul di pinggir lapangan demi keamanan.
  18. Setelah konser berakhir, God Bless sempat diajak ke kamar mereka di hotel Mandarin. Malamnya rombongan Deep Purple dan God Bless menggelar after show party di Diskotik Tanamur. Kami ngobrol dan minum-minum hingga pagi. Semua personil Deep Purple walau menyandang status superstar namun tetap ramah terhadap orang yang baru mereka jumpai.
  19. Konser Deep Purple tahun 2002 dan 2004 tidak semegah tahun 1975. Konser awal millenium itu kabarnya atas permintaan Deep Purple sendiri, rasanya Jakarta (Indonesia) memiliki kisah tersenditi bagi mereka.
  20. Deep Purple adalah band rock pertama yang konser di Indonesia, baik itu dari benua Eropa, Amerika, bahkan dari belahan dunia lainnya.
  21. Konser hari pertama, 04-12-1975 di Jakarta ini, oleh Deep Purple di jadikan Bootleg “Jakarta Oh My Mind”.
  22. …..

This slideshow requires JavaScript.

Hughes dan Denni Sabri

Konser di Jakarta di jadikan Bootleg. Berikut kisahnya yang diambil dari Youtube.com

Deep Purple’s show @Senyan Sports Stadium, Jakarta, Indonesia, 04/12/1975!

This concert is called “The Indonesian Nightmare”…here’s the article by Peter Crescenti for Rolling Stones (January 29, 1976):
“Tragedy and mayhem struck the Deep Purple tour December 4 in Jakarta, Indonesia, when one of the group’s road crew, Patsy Collins, a well-loved celebrity of the British rock scene and guitariest Tommy Bolin’s bodyguard, was killed in a six-story fall down a service elevator shaft at the band’s hotel. Then at a Deep Purple concert the following night, Indonesian police armed with machine guns, truncheons and a pack of Doberman pinschers waded into the audience, seriously injuring over 200 people. “Deep Purple played to an estimated 150,000 Indonesians in two shows at the outdoor Senyan Sports Staduim as part of their first tour since adding Bolin to the band. The first concert, which saw about 20,000 people break down fences to join 35,000 ticket holders, was relatively free of police reaction. ‘They let everybody be,’ keyboard player Jon Lord said. ‘There were machine-gun guards all over the place and they were pushing kids around, but there seemed to be no organized police thing.’ “Back at the group’s hotel after the opening concert, Collins got into an argument with two other member of the road crew and left their room to go upstairs to his own. The elevators in the hotel were operating slowly, so the impatient Collins decided to walk up the fire escape stairs to the next floor, only to find the door on the next landing locked. Then, inside the stairwell on the sixth floor he found an unmarked, unlocked door. He opened it and hastily stepped in, plunging three-floors down the service elevator shaft, crashing through some hot water pipes?Hospitalized, he died early the next morning from internal injuries and burns. “Surprisingly, the Jakarta police arrested the two crew members Collins had argued with and, later, the band’s manager, Rob Cooksey. The three were held on suspicion of murder and isolated from the jails other prisoners for two days, said Cooksey, ‘with a kind of threat hangin’ over us. All the time we were under suspicion of murder, they were making us sign autographs and things. You just wouldn’t believe the mentality.’ “The night following the accident, with three of their entourage in jail, Deep Purple played their second show. About 6,000 armed and helmeted policemen, backed by dogs, circulated throughout the stadium. Before the concert began, an announcement warned any Europeans in the audience to congregate near the side of the auditorium. “No sooner did the music begin, getting the rock-starved Indonesians to their feet dancing, then police waded into the crowd, savagely butting, clubbing, punching and kicking the boogieing audience. Then the Dobermans were let loose, joining the attack. Deep Purple keyboardist Jon Lord later said, ‘Every time an effort to get up and boogie was made by any section, it was immediately pounded on.’ He also recalled seeing one mammoth dog dragging a kid across the floor by his arm, its teeth sinking into the boys flesh. “The band played only half a set and left the stage frightened and sickened. ‘They went crazy,’ said Cooksey of the Indonesian police. ‘It was like maneuvers for them. Just a nightmare’. To be honest, this mono audience recording from the first night is rather raw. Some might even call it muddy and it sounds as if the taper is standing somewhere towards the back. While the vocals, guitars and organ are fairly prominent, the drums are buried in the back and, overall, it’s closer to a wall of sound with no distinctive soundstage. The band cannot be said to be at its best (there is a workmanlike feel to the performance until the end when the members let loose a little) though the band did try to be friendly by sprinkling in a couple of “Apa khabar?” (How are you?) and “Terima kasih” (thank you). Only Jon Lord, with his extended solos, seemed to be having fun. The set is built around the key songs from Come Taste The Band and if an old chestnut such as Georgia On My Mind is a throwback to the band’s blues roots, fans would have preferred the more recognisable hits. Guess Smoke On The Water must have been hard (for this line up) to live up to and Soldier Of Fortune, Lazy and Burn are poor consolations, to say the least. But given the events that would happen later that night and the next day, this recording becomes a historical document to an unhappy and tragic tour that not many younger fans of the band know about.”

01: Tune Up
02: Burn
03: Lady Luck
04: Love Child
05: Getting Tighter
06: Georgia On My Mind
07: I Need Love
08: Soldier Of Fortune
09: Keyboard Solo
10: Lazy
11: Drum Solo
12: Lazy (reprise)

David Coverdale – vocals
Glenn Hughes – bass, vocals
Tommy Bolin – guitar, vocals
Jon Lord – keyboards, hammond
Ian Paice – drums

—————————–

Taken from the smash hit DVD/ BluRay “Phoenix Rising” this small piece includes recently discovered, previously unseen footage from the infamous concerts in Jakarta, Indonesia. The darkest point in Purple’s career that saw the band ripped off to the tune of $750,000, but even worse, the tragic death of one of their crewmembers that resulted in some of Purple’s entourage arrested on suspicion of his murder – something no amount of money could have compensated for. A truly Unique film that reveals the excesses of life in the mid-seventies in one of the world’s biggest rock ‘n’ roll bands. An essential purchase for any fans of Deep Purple or classic rock in general.

————————————-

Klik Link Video di atas: http://www.youtube.com/watch?v=C1Qn02t2j7g

————————————-

Sumber dan bacaan Terkait:

Deep Purple Membakar Senayan 1975

Kilas Balik Konser Deep Purple di Jakarta 1975

Cover Bootleg Konser Deep Purple di Jakarta 1975

Bootleg Live – “Jakarta Oh My Mind” at You Tube

Acara Musik Rock Terbesar di Indonesia

Sejarah Konser Musik Internasional di Jakarta

Wenzwrak

Untuk Kaum Muda

4 thoughts on “Konser Rock Terbesar dalam Sejarah Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s