[Awali] Berantas Korupsi dari Sekolah [Metode Fast Training Moment ]

Tulisan berikut adalah perluasan dari tulisan sebelumnya di sini. Tulisan ini juga pernah diikutsertakan dalam lomba, namun belum berhasil menjadi juara. Saya merasa perlu untuk menerbitkannya, karena yakin akan berguna, baik itu nantinya diterapkan, atau sekedar pengetahuan baru (juga tambahan) bagi para pembaca yang budiman. Bagi saya, ini adalah secuil sumbangsih untuk sebuah perubahan terkait dengan pemberantasan korupsi yang selama ini distigmakan kepada sekolah (baca: sekolah ikut berperan memproduksi koruptor). Bagi sebagian orang, stigma yang tersebut adalah tidak selamanya benar. Saya memilih untuk meng-amininya. Sampai hari ini, sekali lagi, sekolah ikut menyumbang amunisi bagi pembentukan peserta didik menjadi koruptor dikemudian hari. Saya harus mengakuinya itu, dan oleh karena perilaku mencontek.

Sebagai tanggungjawab moral, walaupun saya bukan pendukung peserta didik yang mencontek, tulisan yang merupakan “catatan harian” ketika mendidik, khususnya saat menghadapi UAN saya sajikan sebagai bahan diskusi bagi mereka yang menginginkannya. Selamat membaca. Terima kasih.

Membangun Kepercayaan Diri Siswa Melalui Metode fast training moment

Oleh: Sucipto Ardi, S.Pd.

Secara psikologis, masa di bangku sekolah adalah ruang potensial bagi pembentukan kepribadian/karakter seseorang. Masa ini lazim dikenal sebagai usaha mencari jati diri untuk menentukan siapa dirinya. Hasil nyata usaha ini sudah barang tentu membekas dan melekat tahan lama. Pada masa ini pula, secara sosiologis, dipertemukan dua buah media sosialisasi yang juga berpengaruh dalam pembentukan: bagaimana manusia belajar agar sesuai harapan masyarakat, yakni melalui media sosialisasi sekolah dan teman sebaya. Jika siswa belajar bahwa mencontek adalah hal biasa (baca: bukan tindakan salah karena tidak ditindak secara tegas oleh guru) maka ini merupakan sebuah proses belajar bahwa mencontek adalah sesuai dengan nilai dan norma di masyarakat. Berdasarkan pemahaman psikologis dan sosiologis di atas, dapat dijelaskan bahwa mereka yang terbiasa mencontek pada masa sekolah telah membentuk dirinya terbiasa dengan kebohongan. Berikutnya, mencontek menjadi sebuah perbuatan yang bermuara kepada mentalitas pembohong yang juga mampu menjadikan mereka sebagai sosok yang cerdik/kreatif sekaligus culas/curang. Mereka, para siswa, tidak akan mencontek dengan cara yang sama karena telah terdeteksi oleh pihak lain (guru), dan mereka akan mengembangkan cara lain yang tidak terpikirkan sebelumnya, misal dengan merumuskan kode-kode tertentu, kreatif, bukan?. Begitupula dengan perilaku korupsi. Koruptor akan menciptakan cara-cara tertentu yang orang lain tidak mampu mendeteksinya, baik itu ketika korupsi dilakukan, maupun usaha menutupinya untuk jangka waktu yang lama, bahkan selamanya. Pada dasarnya, mereka bertindak “se-kreatif” itu, bukan masalah karena mereka dianggap/menganggap dirinya cerdas/cerdik, akan tetapi mereka tidak memiliki karakteristik pribadi yang jujur, yang seharusnya melalui cara-cara benar sesuai nilai dan norma yang berlaku dalam berfikir dan bertindak. Pada bagian ini, dengan tegas saya nyatakan bahwa “kreatif-nya” mereka merupakan keberlanjutan dan melestarikan perilaku berbohong yang telah didapatnya dari bangku sekolah karena mereka dididik (dibentuk) untuk tidak merasa bersalah jika membohongi orang lain. Di tempat kerja, mereka memanipulasi pajak, mereka menggelembungkan anggaran, mereka mark up laporan keuangan, dan lainnya. Mereka berbohong dengan cara kreatif. Sehingga dapat dirumuskan bahwa mencontek adalah nenek moyangnya korupsi, artinya mencontek menjadi bibit/cikal-bakal/awal/pintu gerbang pertama dari sebuah perilaku korupsi. Dengan kata lain, mata rantai korupsi yang tetap merajalela hingga kini, bahkan membudaya di bumi Indonesia, adalah terkait dengan tindakan mencontek yang dimulai sejak dibangku sekolah. Untuk memotong mata rantai ini, guru merupakan garda terdepan sebagai solutor. Berdasarkan pengalaman saya sebagai guru SMA, penyebab mendasar dari munculnya perilaku mencontek dikarenakan masalah kepercayaan diri. Siswa merasa tidak percaya diri (PD) akan kemampuannya dalam menjawab soal. Oleh karena itu, maka solusinya ialah membangun kepercayaan diri siswa.

Dalam konteks menyongsong pelaksanaan Ujian Nasional (UN), sekolah tempat saya mendidik menyelenggarakan tiga minggu intensif mata pelajaran yang akan diujikan dalam UN pada 26 Maret-12 April 2012. Setelah mengikutinya bertahun-tahun, kali ini saya tidak ingin sekedar intensif biasa. Saya membutuhkan sebuah suasana belajar yang mirip UN, bahkan lebih ekstrim untuk dijadikan fast training moment. Gayung bersambut, saya teringat dalam pertemuan Musyawarah Guru Mata Pelajaran, bahwa kami telah menilai tiga paket soal prediksi UN dan menjatuhkan pilihannya kepada SATU paket soal simulasi. Kami memilihnya dengan alasan kesesuaian indikator Standar Kompetensi Lulusan (SKL), soal-soal yang dibungkus dalam paket juga sesuai dengan kriteria tata cara pembuatan soal yang benar, dan ditulis oleh orang yang selama ini (diyakini) salahsatu tim penyusun soal UN Sosiologi. Lalu, kami memulai rangkaian metode baru dalam menghadapi UN 2012 ini.

Pertama, saya membagikan paket soal 01 dan sebuah Lembar Jawaban Komputer (LJK). Suasana dikondisikan seperti UN, saya berikan gambaran bahwa dalam pelaksanaan UN tidak ada kesempatan mencontek dan amat membutuhkan konsentrasi. Kedua, soal tersebut dikerjakan dengan cara membubuhkan tanda (silang atau dicentang) pada pilihan jawaban di LJK. Waktu untuk mengerjakan soal berkisar antara 15-45 detik, bergantung kepada tingkat kesulitan. Ketiga, untuk mengontrol agar siswa tidak mencontek, selama simulasi ini saya berdiri dan menyebutkan pergantian nomor soal. “Soal no.1, kerjakan”. Setelah antara 15-45 detik, saya bersuara lagi: “lanjut no.2”, dan seterusnya hingga selesai no.50. Saya juga menegaskan bahwa nilai mereka tidak dimasukkan ke dalam raport, sehingga mereka merasa nothing to loose, apa adanya, yang secara mendasar adalah wujud kemampuan mereka yang sesungguhnya (tanpa mencontek). Keempat, setelah berlangsung selama 30-an menit, soal selesai dikerjakan dan langsung dibahas secara dialogis. Sehingga satu kali pertemuan selama 90 menit, penyelesaian soal dan pembahasan dapat dilangsungkan. Setelah itu, siswa dapat mengetahui nilainya dengan menghitung sendiri yang dipandu saya, dan inilah kemampuan mereka sebenarnya, apa adanya. Ternyata, sedikit sekali yang tidak lulus atau nilainya dibawah/kurang dari 5,5.

Untuk pelaksanaan simulasi pertama, cukup banyak yang kaget. Setelah ditanya, saya memakluminya karena ternyata hanya saya yang menjalankan metode cepat seperti ini dalam intensif UN di sekolah kami. Selain karena proses penyelesaian soal tergolong amat cepat, ini juga adalah yang pertama bagi seluruh siswa. Namun demikian, pada pengerjaan simulasi paket soal berikutnya, siswa cepat beradaptasi.

Diawal ketika akan mengerjakan simulasi paket soal pada pertemuan terakhir, saya jelaskan maksud fast training moment ini. Saya berkata di depan kelas: “Saya yakin diantara kalian bertanya-tanya, kenapa ya Pak Cip mengadakan ujian cepat seperti ini?, apa maksudnya ya?”. Saya menuturkan kepada mereka: “soal yang kalian pegang itu adalah soal pilihan yang mendekati kebenaran seperti UN nanti. Ini merupakan kajian dari kami, guru-guru sosiologi  dalam satu rayon”. Dengan demikian mereka merasa seperti telah mengerjakan UN yang sesungguhnya. Lanjut saya: “sadarkah?, dibawah tekanan, kalian bisa menyelesaikan soal tepat waktu. Dibawah tekanan dan himpitan waktu, kalian nyaris seluruhnya dapat nilai diatas 5,5 melebihi batas minimal lulus UN…bahkan, ada yang memperoleh 8,6 tanpa mencontek. Nanti, ketika UN, mengerjakan sosiologi waktunya 4 kali lipat dari sekarang yang hanya 30-an menit!.  Harusnya nilai kalian jauh lebih tinggi karena waktunya lebih panjang untuk dapat membaca soal berulang kali”. Kemudian saya menutup penjelasan dengan menyatakan: “jadi, saya ingin mengatakan kepada kalian semua bahwa pada dasarnya, simulasi soal UN dengan waktu cepat ini adalah untuk membangun kepercayaan diri. Kini kalian mampu mengerjakan soal sebanyak 50 buah dalam waktu 30-an menit tanpa mencontek dan hasilnya: lulus!. Kalian harusnya PD, UN nanti bisa jauh lebih baik nilainya karena waktu mengerjakan lebih luang”.

Berdasarkan uraian di atas, apa yang saya sebut sebagai fast training moment, adalah usaha untuk membangun kepercayaan diri siswa  yang merupakan solusi mendasar dari permasalahan perilaku mencontek. Dalam perkataan lain, saya dan siswa memulai sejak dini usaha mengikis akar budaya korupsi, memotong mata rantai alur pembentukan perilaku korupsi di kemudian hari. Semoga….

(Siang ini, 19 April 2012, saya ke sekolah untuk ketik tulisan di atas, banyak siswa yang bertemu saya dan berkata: “saya bisa pak kerjakan soal sosiologi, tanpa mencontek. PD pak!”. Alhamdulilah, saya berucap….)

This slideshow requires JavaScript.

    (Semua foto diambil pada: Kamis, 12 April 2012)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s