Dampak Wajar 12 Tahun Bagi Guru Honorer DKI Jakarta

Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun dapat berarti sekolah gratis dari tingkat SD hingga SMA untuk sekolah negeri. Sejak Juli 2012, Gubernur DKI ketika itu, Fauzi Bowo, memulai sekolah gratis bagi SMA sebagai implementasi “penyempurnaan” Wajar 12 tahun dalam wilayah DKI Jakarta. Mulai bulan itu pula, di SMA, seluruh peserta didik tidak ditarik uang se-peserpun. Totally free!, gratis semuanya.

Banyak orang tua senang dengan program ini, namun banyak yang tidak tahu (atau tidak mau tahu) kalau kebijakan tersebut menyisakan permasalahan di sekolah, salahsatunya di tingkat SMA. Permasalah tersebut, khususnya terkait dengan gaji guru honorer yang selama ini ditopang dari iuran tiap bulan orang tua siswa (baca: SPP dan sejenisnya).

Berdasarkan, informasi yang diperoleh permasalah menohok pada satu hal: GAJI BERKURANG. Ada yang berkurang hanya beberapa ratus ribu, tapi ada pula hingga melebihi satu juta rupiah. Hal demikian, salahsatu alasannya adalah TIDAK ADA PEMASUKAN (dari bayaran siswa), sehingga gaji yang dibayarkan menjelang lebaran/Idul Fitri menjadi, sekali lagi, BERKURANG. Bagi saya, yang tidak kalah irrasionalnya adalah JUMLAH GAJI YANG DI SAMARATAKAN/PUKUL RATA antara Guru dengan Non Guru (Admininistrasi hingga caraka (office boy)). Perhitungan yang cukup rasional yang selama bertahun-tahun dianut, kemudian hilang sekejap. Guru Honorer atau pegawai Non-PNS lainnya di sekolah, semuan “harganya” sama, mereka yang setiap hari mengajar/hadir, dapat tugas tambahan wali kelas, pembina ekskul, dan atau tim SAS (pengolahan nilai dan administrasi online), adalah setara “rupiahnya” dengan mereka yang hanya mengajar, dateng 2-3 hari tanpa tugas tambahan, bahkan tidak mencapai 20-an jam. Menjelang lebaran itu (Agustus 2012), semua sama mendapatkan gaji: Rp. 1.045.000, bahkan di sekolah lain ada yang tak sampai 1 juta rupiah. Gaji sebesar 1 juta-an itu sudah dipotong pajak.

Selain mengagetkan, juga menyedihkan bagi guru honorer karena lebaran kali ini mendapat gaji di luar perkiraan. Selain kecil, THR-pun ikut-ikutan kecil. Pernahkan membayangkan, setelah di atas 3 tahun bekerja, uang THR cuma Rp.100.000 ?. Bagi guru honorer, itu bukan mimpi/khayalan, tapi kenyataan. Kini, guru honorer di Jakarta memiliki gaji yang lebih rendah dari buruh di pabrik, namun sama dengan gaji OB walaupun berpendidikan S-1 dan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ketika tulisan ini diterbitkan dalam blog, bahkan ada sekolah yang belum membayar hak Pahlawan Tanpa Jasa ini. Berbagai alasan di ungkapkan, kalau regulasi/peraturan dari pusat (Gubernur) belum ada. Inisiatif menjadi barang mahal, sedangkan kehidupan di rumah (biaya makan, listrik, dan ngontrak) tidak pernah menunggu regulasi dari gubernur…..

7 thoughts on “Dampak Wajar 12 Tahun Bagi Guru Honorer DKI Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s