Isi Sumpah Pemuda dari Masa ke Masa

Hampir berbarengan setelah mendapat amanat untuk tampil saat upacara Sumpah Pemuda, di sekitar arah menuju rumah banyak terpampang pamflet tentang Sumpah Pemuda. Judul-nya membuat saya tergelitik untuk kemudian mengumpulkan berbagai sumber, sekaligus untuk persiapan pada tanggal 29 Oktober lalu itu yang kurang greget. Judul yang dimaksud adalah SUMPAH PEMUDA JILID 2 tertanggal 28 Oktober 2012 Tertanda Putera-Puteri Indonesia. Dalam hati bergumam, apa bener seperti itu?, memang ada kongres seperti pada tahun 1928?, pamflet ngak jelas nih!.
Continue reading “Isi Sumpah Pemuda dari Masa ke Masa”

Sepultura: Back to Jakarta again, Nov 10, 2012

Beberapa bulan lalu, ketika mengetahui Sepultura akan hadir di Jakarta, rasanya senang. Dulu ketika baru menginjak di bangku SMP tahun 1992, hanya bisa membaca di majalah HAI tentang konser mereka yang di Jakarta serta Surabaya dan rusuh. Selain, itu band sangat nge-top saat remaja dahulu, rasanya lagu dan “ke-cadas-annya”  klik juga. Kemudian, soal harga tiket rasanya kemahalan bagiku sebagai bukan penggemar berat Sepultura. Saat berita konser band asal Brazil ini ramai pada awal tahun 2012, tertulis: Jakarta (Lap. Parkir Selatan Senayan) :  Presale 1 ; Rp.175.000,- Presale 2 ; Rp. 225.000,- & on the spot (harga normal) ; Rp 250.000,- (harga tidak termasuk pajak perforasi ). Harga ini memang sedikit lebih rendah dibanding band yang juga “pecahan” Sepultura, yakni Soulfly. Band yang digawangi oleh pentolan Sepultura, Max Cavalera sudah manggung 21 Oktober lalu dengan harga tiket: Presale : 1 Sep s/d 31 Sep 2012 Rp.300.000, danNormal : 1 Oktober s/d 20 Oktober Rp.350.000. Aku tidak nonton. Beda untuk Sepultura, tanggal 10 November nanti, kemungkinan besar akan ke lapangan D Senayan untuk nonton.
Continue reading “Sepultura: Back to Jakarta again, Nov 10, 2012”

Menjadi Storyteller pada Hari Sumpah Pemuda 2012

Setelah “kesuksesan” pada Hardiknas Mei lalu, maka keinginan untuk lebih baik lagi mulai dilakukan beberapa hari sebelum D-Day dengan membuat konsep inti, setelah baca lalu dituliskan. Semua dilakukan untuk sebuh penyempurnaan, perbaikan. Namun semua seakan tidak cukup, rasa itu muncul setelah turun dari atas tempat corong suaraku. Rasanya, menjadi storyteller dalam memperingati Sumpah Pemuda ini tidaklah greget dan tidak bersemangat, tentunya begitupula dengan mereka yang mendengarnya. Salahsatu “pembelaanku” mengapa dapat terjadi demikian adalah beberapa saat mau tampil ada request untuk memendekkan durasi waktu untuk “teriak-teriak” takut siswa pada pingsan. Sebel aja dengernya, karena persiapan cukup memadai. Dalam hati, ini sebuah alibi saja. Saya termasuk lemah?!. Setelah cerita, sms telat berbunyi: yawdh gpp, tp aneh jg ya biasa nya mas paling smangat tuk bicra d dpn. Mikirin apa sich syng?. Dalam hati bergumam: “entahlah, ini semua jadi pelajaran. Jika tidak sempurna, setidaknya saya telah melakukannya. Untuk nantinya, belajar sehingga menjadi baik, bahkan lebih baik”. Thanks Pak Sulistyo atas do’a dan motivasinya, sehingga gumam itu selalu terpatri di saya yang juga selalu bapak ucapkan hampir tiap kali saat kita berbincang-bincang.