Sistem Penggajian Guru Honorer Sekolah Negeri di Jakarta Sejak Juli 2012

Keresahan guru honorer di Jakarta, khususnya yang mendidik di sekolah negeri, atas diberlakukannya sekolah gratis memang tidak “meledak” seperti kaum buruh yang menuntut kesejahteraan dengan berbagai demonstrasinya. Guru honorer di sekolah negeri Jakarta, sampai sejauh ini masih dalam kategori “adem-ayem”, yah paling jauh ngedumel di sana-sini alias komplain terhadap realitas yang kini melanda di akhir masa jabatan Fasuzi Bowo aka Foke, seorang gubernur yang selama ini didukung oleh guru honorer.

Komplain (mengeluh) adalah salahsatu cara yang dapat dijadikan sebagai kontrol sosial, selayaknya seperti desas-desus di masyarakat, tapi dalam tulisan saya itu bukan gosip, Insya Allah sesuai kenyataan. Seperti tulisan sebelumnya, saya menyatakan bahwa:

….ketidakadilan atau dalam bentuk lainnya yang tidak sesuai semangat “kesejahteraan yang manusiawi dan masuk akal sehat” adalah hal yang sudah seharusnya dikabarkan. Bagi saya, ini selaras dengan himbauan Iwan Fals dalam lagunya: Kesaksian. Baca dengan baik liriknya berikut ini:  Orang-orang harus dibangunkan,  Aku bernyanyi menjadi saksi, Kenyataan harus dikabarkan, Aku bernyanyi menjadi saksi. Saya menulis sebagai saksi, dan orang lain harus dikabarkan. Jangan seperti lagu Slank tentang Kampus Depok pada pertengahan tahun 1990-an   yang menyebutkan: Semuanya hanya tutup mata saja, semuanya nggak berbuat apa-apa. Mereka tidak peduli, tidak mau tahu.

Saya menuliskan untuk mengabarkan, apa adanya tanpa ada rekayasa dengan harapan, minimal, ada yang tahu. Jika para pembaca mengkategorikan sebagai: ada yang “tidak beres”, maka silahkan saja, begitupula, jika ada yang menganggap sebagai “angin lalu” kabar ini, maka silahkan saja, juga. Bagi saya itu masalah penilaian, dan bukan wilayah saya untuk menentukannya.

Setelah menulis tentang sistem penggajian guru honorer sampai bulan Juli 2012, kini saya akan melanjutkannya. Hingga Juli 2012, saya belum juga menemukan dasar hukum tentang sistem penggajian guru honorer di Jakarta. Semuanya, seperti hasil dari kesepakatan antara Komite (Organisasi Wakil Ortu Siswa)  dan managemen sekolah. Selama puluhan tahun, berjalan lancar dengan indikasi tidak ada satupun yang komplain secara besar-besaran oleh karena uang yang diolah dari masyarakat sehingga guru honorer menerima sesuai kemampuan masyarakat. Bagi sekolah yang orang tuanya kaya, maka komite dan managemen sekolah yang punya hati dan rasional, akan memberikan gaji guru honorer yang dapat dibilang manusiawi, minimal sesuai UMR (Upah Minimum Regional) Jakarta. Pihak Dinas Jakarta, selama ini pula tidak ikut campur dalam penentuan jumlah nominalnya. Sejauh ini pula, sebagian besar, bahkan seluruhnya, SMA (Sekolah Menegah Atas) di Jakarta menggaji guru honorer yang full time menggajinya minimal sesuai UMR.

Sejak digulirkan Wajar 12 tahun dengan jargon “sekolah gratis” (di SMA), keadaan kemudian berbeda. Seperti dalam tulisan saya terdahulu, bahwa sejak Juli 2012: GAJI BERKURANG. Ada yang berkurang hanya beberapa ratus ribu, tapi ada pula hingga melebihi satu juta rupiah. Berdasarkan penelusuran saya, sepertinya ada “kesepakatan dan kekuatan tertentu” yang menggariskan jumlah nominal gaji guru honorer di Jakarta. Hal ini saya yakini karena gaji per-hari yang diterima atas keringat guru honrer adalah jumlahnya sama (di SMA yang saya tanyakan).

Sampai sekarang ini, saya juga tidak menemukan dasar hukum tentang penggajian guru honorer sekolah negeri sehingga jumlahnya demikian dan “berlaku” di setiap sekolah. Hingga awal bulan Oktober 2012 ini, guru honorer Jakarta rata-rata baru menerima 2 kali gaji dengan perincian detail sebagai berikut:

  1. Gaji guru berdasarkan jumlah kehadiran/masuk kerja.
  2. Satu hari kerja diganjar Rp.50.000.
  3. Jumlah gaji adalah Rp.50.000 x Jumlah Kehadiran.
  4. Guru yang full time (masuk pukul 06.30-14.45 WIB dari Senin-Jum’at) di bayar Rp.997.500 setelah dipotong pajak.
  5. Tugas tambahan sebagai wali kelas, pembina ekskul, piket, Tim SAS, Jumlah jam mengajar, Jumlah Tahun lama mengabdi, Tunjangan guru honorer, kualifikasi pendidikan, tidak diperhitungkan lagi alias tidak ada rupiahnya.

Berdasarkan detail tersebut, maka:

  1. Kini, guru honorer Jakarta yang berpendidikan S-1, bahkan ada pula yang S-2, sepertinya tak mampu menaikkan gengsi gaji, karena yang diperhitungkan (dibayar) adalah kehadiran.
  2. Sudah barang tentu, kini gaji guru honorer full time yang tahun 2010 setara dengan gaji SPG Even, tahun 2012 ini, terjun bebas jauh meninggalkan gaji SPG yang berkisar 700.000-3 juta rupiah.
  3. Gaji guru honorer lebih rendah dari satpam sekolah dan caraka/office boy karena mereka hari Sabtu hadir untuk piket atau bersih-bersih sekolah.
  4. Gaji guru honorer tentunya sudah dibawah standarisasi UMR Jakarta yang mencapai Rp. 1,5 juta.
  5. Gaji guru honorer lebih rendah dari kuli bangunan di Jakarta karena Tukang diganjar seharga Rp. 70-75 ribu perhari/datang.
  6. Gaji guru honorer setara dengan Kenek bangunan karena sama-sama dihargai Rp 50 ribu perhari/datang

Dasar memang mentalitas guru Indonesia, dalam keadaan yang terjepit dan minim keadilan ini, tetap berkata: SABAR, INI ADALAH COBAAN. SEMOGA KEADAAN SEGERA BERUBAH DAN GAJI KAMI KEMBALI SEPERTI SEMULA, BAHKAN BISA LEBIH TINGGI LAGI. Guru, kamu memang terbaik…..

5 thoughts on “Sistem Penggajian Guru Honorer Sekolah Negeri di Jakarta Sejak Juli 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s