Menjadi Storyteller pada Hari Sumpah Pemuda 2012

Setelah “kesuksesan” pada Hardiknas Mei lalu, maka keinginan untuk lebih baik lagi mulai dilakukan beberapa hari sebelum D-Day dengan membuat konsep inti, setelah baca lalu dituliskan. Semua dilakukan untuk sebuh penyempurnaan, perbaikan. Namun semua seakan tidak cukup, rasa itu muncul setelah turun dari atas tempat corong suaraku. Rasanya, menjadi storyteller dalam memperingati Sumpah Pemuda ini tidaklah greget dan tidak bersemangat, tentunya begitupula dengan mereka yang mendengarnya. Salahsatu “pembelaanku” mengapa dapat terjadi demikian adalah beberapa saat mau tampil ada request untuk memendekkan durasi waktu untuk “teriak-teriak” takut siswa pada pingsan. Sebel aja dengernya, karena persiapan cukup memadai. Dalam hati, ini sebuah alibi saja. Saya termasuk lemah?!. Setelah cerita, sms telat berbunyi: yawdh gpp, tp aneh jg ya biasa nya mas paling smangat tuk bicra d dpn. Mikirin apa sich syng?. Dalam hati bergumam: “entahlah, ini semua jadi pelajaran. Jika tidak sempurna, setidaknya saya telah melakukannya. Untuk nantinya, belajar sehingga menjadi baik, bahkan lebih baik”. Thanks Pak Sulistyo atas do’a dan motivasinya, sehingga gumam itu selalu terpatri di saya yang juga selalu bapak ucapkan hampir tiap kali saat kita berbincang-bincang.

 

One thought on “Menjadi Storyteller pada Hari Sumpah Pemuda 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s