Belajar dari Disintegrasi Unisoviet dan {akan} Amerika Serikat

Setelah mendapat kabar dari hasil diskusi di kelas, saya segera mencari informsinya. Yang tadinya berjumlah 12 negara bagian Amerika Serikat mengirimkan petisi untuk “perceraian damai”, sehari kemudian menjadi 50 negara bagian alias nyaris 100%. Mereka menguarakan niatnya ini karena Obama menang lagi.

Texas adalah negara pelopor yang menginginkan berpisah dengan Amerika Serikat, dan diikuti oleh beberapa negara bagian yang, secara kebetulan ?, adalah anti (bukan pendukung) Obama dalam Pilpres Amerika Serikat kali ini. Melihat kenyataan ini, sepertinya kedigdayaan AS sedang diuji oleh rakyatnya sendiri, dan negara adidaya yang lalu itu (Uni Soviet) telah runtuh.

Jika Ababil-Uncare-Cupid membaca tulisan ini, bisa jadi dia akan berkata: “trus, gw harus ngomong wow gitu?”, “apa hubungannya dengan kita, RI ?”. Ada dul, berikut relevansinya:

Lalu apa relevansinya dengan NKRI?
Sangat relevan sekali. Kasus bubarnya Uni-Sovyet, dan mungkin tak lama lagi akan dialami USA, sangat menarik dikaji oleh negeri kita yang juga dikenal sebagai negeri multi-kultur dan etnis (bhinneka tunggal Ika). Uni Sovyet dan AS dikenal sebagai negara multi etnis, budaya dan bahasa, sama seperti Indonesia. Kalau Uni Sovyet dulu bisa bubar akibat dipicu lemahnya kepemimpinan Pusat di Kremlin dan akibat kesulitan ekonomi karena defisit APBN yang sangat besar setelah perang Afghanistan, sehingga kontrol ke negara-negara satelitnya menjadi lemah (karena subsdi dari “Pusat” semakin kurang). Maka pemerintahan AS sekarang pun memiliki gejala-gejala sama dengan kondisi Uni Sovyet sebelum bubar dulu. Kesulitan ekonomi akibat krisis finansial tahun 2008 belum juga berhenti, sementara keuangan negara terus dibayangi defisit dengan utang Pemerintah sudah melebihi US$ 15 triliun. Akibat semua itu, bantuan sosial dan jaminan sosial untuk rakyat AS banyak yang dipotong Pemerintah Federal maupun Pemerintah negara bagian, yang berujung pada sangat menderitanya warga AS di seantero negeri (terutama kalangan menengah kebawah yang menyebut dirinya “We are 99%”, sementara yang 1% adalah Kapitalist sekelas Bill Gates dan penguasa pasar modal dan sektor keuangan/perbankan). Karena sebelumnya mereka (yang 99%) sudah terbiasa hidup enak karena adanya subsidi-subsidi sosial dari negara. Inilah salah satu bibit-bibit kekecewaan itu. Lalu beberapa negara bagian yang kaya seperti Texas itu, merasa sekiranya mereka diperkenankan mengurusi masalah perekonomian negara bagiannya sendiri, tidak akanlah rakyatnya semenderita seperti saat ini. Maka minta merdeka dari pusat (Pemerintah Federal) adalah sebuah pilihan yang masuk akal jua.

Kaitan antara krisis ekonomi dan separatisme, di negara kita pun sering terjadi. Terakhir waktu krisis tahun 1997 lalu (krismon), hampir saja NKRI terpecah belah menjadi negara-negara kecil seperti zaman-zaman kerajaan dulu. Itu semua akibat daerah-daerah merasa tidak diurusi dan diperhatikan lagi oleh Pusat. Beberapa daerah yang kaya sumber daya alam seperti Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Papua, Sulsel, Sulut dan Kaltim, kemudian merasa kesal karena kekayaan alam di wilayahnya tak banyak memberikan konstribusi pada kesejahteraan penduduk mereka. Tuntutan separatisme pun kemudian bergaung keras di wilayah itu. Dalam sejarah separatisme di NKRI sejak 1945 lalu, selalu saja yang banyak menuntut merdeka dari NKRI itu, adalah provinsi-provinsi yang kaya akan sumber daya alam, sepeti halnya Texas di Amerika Serikat saat ini. Selanjutnya kalau kita melihat sejarah separatisme di NKRI, terutama saat awal-awal reformasi dulu ketika banyak daerah yang menuntut merdeka (separatisme), kita beranggapan bahwa kekuatan asing berada dibalik upaya meminta merdeka itu. Tapi melihat kasus di AS saat ini, kita jadi berfikir ulang, apa iya karena bantuan asing maka semangat separatisme itu muncul di negeri kita? Apa iya orang-orang AS di Texas atau negara bagian lainnya di AS yang saat ini melakukan gerakan separatisme itu, minta merdeka dari Pusat karena digosok-gosok China atau Cuba misalnya? Jelas tidaklah yau! Begitu pula dengan NKRI ke depan. Sebaiknya para elit di Jakarta (Pusat) jangan mementingkan dirinya, kelompok dan golongannya saja, dengan mengabaikan kepentingan penduduk dan rakyat yang tinggal jauh di luar Jakarta. Atau kita akan bernasib sama seperti AS dan Uni Sovyet pula?

Ayo, pesannya singkat nih:…yang terpenting bukan hanya “bagaimana belajar sejarah”, tetapi “bagaimana belajar dari sejarah”. Jangan sampai kita tergilas oleh roda sejarah yang telah menggelinding di negeri lain….

One thought on “Belajar dari Disintegrasi Unisoviet dan {akan} Amerika Serikat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s