2012: PGRI Akhirnya Miliki Situs Internet

Dimata guru honor Jakarta, terlebih pengurus atau aktivis HGJ (Himpunan Guru Jakarta), sepak terjang PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia) terasa hambar, itu jika tidak mau dibilang “nothing” atau NATO (No Action Talk Only). Salahsatu alasannya, PGRI, walaupun banyak yang menilai sebagai “stempel pemerintah”, organisasi yang meng-klaim keanggotaannya seluruh guru dalam wilayah NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), terkesan kegiatan-kegiatannya bercitra biraokrat yang hanya gemar upacara, dan seringkali “alpa” menyoal guru honor.

Penilaian yang kurang sedap ini, pada tahun 2012 semoga saja dapat terkurangi. Pasalnya, PGRI punya situs internet, akhirnya… Setelah informasi yang disampaikan pengurus PGRI dalam upacara Hari Guru Nasional pagi tadi, saya langsung mencarinya melalui Google. Ternyata benar. Semoga, guru-guru muda yang tergabung dalam HGJ atau guru honor lainnya di seluruh Indonesia dapat menyalurkan aspirasinya melalui situs baru PGRI: www.pgri.or.id.

Tahun ini pula menghentikan “keluhan” saya dan lainnya, khususnya seperti pada dua tahun lalu: PGRI semakin jauh lagi bagi pecinta IT, padahal dengan internet, berbagai kemungkinan akses yang lebih luas dapat teralisir. Namun sayangnya, “PGRI tidak memiliki situs internet“. Menyedihkan, bukan?. Sebuah organisasi yang dibentuk pada tahun ketika awal Indonesia merdeka (baca: sejak tahun 1945 hingga 2010), yang katanya memiliki keanggotan di seluruh provinsi Indonesia, yang diyakini jaringannya luas se-Indonesia, dan kelahirannya dijadikan sebagai hari Guru Nasional, ternyata tidak ada satupun anggotanya yang mampu, bisa, atau mau membuatkannya (situs resmi PGRI).

Kini, semoga PGRI bukan hanya melek internet dengan ditandai lahirnya situs baru tersebut, tetapi juga melek terhadap nasib kami guru honor Jakarta ataupun provinsi lainnya. Jika mau membantu kami, bersemangatlah seperti dulu ketika PGRI berjibaku meluluskan kesejahteraan PNS dengan melahirkan UUGD 2005, namun jika tidak mau, biarkan kami yang berusaha.

Harapan lainnya, kami merasa senang jika PGRI memperjuangkan nasib guru honor seperti mereka memperjuangkan nasib PNS tahun 2005 lalu, sehingga kesan tahun 2010 bahwa PGRI membiarkan anak-anaknya ”keleleran” kemana-mana, hampir mirip dengan pepatah: anak ayam kehilangan induknya, segera luntur dan hilang. Maka, semoga tidak ada lagi ditemukan kalau pengurus PGRI di tingkat sekolah sampai provinsi tidak pernah mengajak bicara, duduk bersama, atau berdiskusi dengan organisasi guru honor untuk membicarakan berbagai kebutuhan dan kepentingan tentang pendidikan, termasuk masa depan GTT.

Jika, sekali lagi, hal demikian tidak ada realisasi yang jelas, sepertinya HGJ semakin menjadi pilihan utama, dimana sudah diketahui bahwa HGJ terbentuk karena organisasi yang selama ini diharapkan (baca: PGRI) sudah tidak membawa kepentingan guru, khususnya GTT secara nyata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s