Tiga jam bersama Guns N’ Roses

G67G5145

Jakarta (ANTARA News) – Para penggemar musik rock di Indonesia pasti terkejut senang mendengar Guns N’ Roses datang ke Indonesia.

Ini bagai mimpi yang jadi kenyataan. Band asal Amerika Serikat itu adalah legenda yang belum pernah sekali pun mampir ke Asia Tenggara.

Jadwal konser ditetapkan Sabtu 15 Desember 2012, pukul 19.00 di Lapangan D Senayan, lalu lima jam sebelum konser mulai, ditunda. Sontak para calon penonton pemegang tiket kaget dan bingung.

Pada pulul 17.00 WIB, promotor Indika Productions kemudian menginformasikan bahwa konser akan dilangsungkan keesokan harinya di MEIS Ancol, Jakarta.

“Panggung outdoor di Lapangan D Senayan tidak dapat digunakan karena hujan deras yang terjadi kemarin sore,” tulis Indika dalam keterangn persnya.

Menunggu satu hari lebih lama, akhirnya penonton bisa juga menyaksikan Guns N’ Roses.

Minggu siang sekitar pukul 13.30, tanpa basa-basi band yang dinakodai Axl Rose itu langsung membawakan lagu andalan ‘Welcome To The Jungle’ . Sang vokalis tidak sempat menyapa penonton.

Keruan saja penggemar yang memenuhi arena terkaget-kaget dan langsung merangsek ke depan panggung. Lagu itu membuat penonton bergairah melompat-lompat dan bernyanyi bersama.

Lolongan suara tinggi Axl masih sangat prima, meski usianya sudah 50 tahun.  Pun ketika membawakan “Knockin on Heaven’s Door, “Patience”, “Civil War”, “Night Train”.  Dia tetap setangguh dan segahar dulu.

Kejutan Guns N’ Roses tak berakhir di situ. Sang Gitaris, Ron “Bumblefoot” Thal bahkan memainkan instrumental lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ di tengah-tengah konser.

Bermula setelah lagu “November Rain” berkumandang, para personil band lainnya mundur ke belakang panggung. Ron ditinggal sendirian untuk memainkan gitarnya secara solo.

Dia pun maju ke bibir panggung dan langsung memainkan lagu kebangsaan Indonesia itu. Para penonton awalnya tidak sadar, namun sedetik kemudian tahu band yang menguasai jagat musik cadas pada era 1980-an dan 1990-an itu tengah memberi mereka kejutan lain.

Suasana di MEIS Ancol berubah hikmat dan semua orang yang hadir langsung bernyanyi ‘Indonesia Raya’.

Tanpa jeda

Dalam setiap pergantian lagu pada konser Guns N’ Roses, hampir tidak terlihat ada jeda. Aksi apapun pasti selalu bisa disajikan oleh band rock itu untuk membuat panggung tetap ramai.

Biasanya Axl lah yang memulai aksi jeda ini. Dia memperkenalkan tiap personil formasi terbaru Guns N’ Rose.

Our Bass Guitar, Tommy Stinson!,” kata sang vokalis sekaligus satu-satunya personil asli yang tersisa.

Setelah itu, Tommy langsung ber-solo ria, bahkan menyanyi sementara personil lainnya berganti kostum atau menyetel ulang alat musiknya.

Bukan hanya dia yang tampil sendirian, Dizzy Reed (keyboard), Richard Fortus (gitar), DJ Ashba (gitar) dan Ron juga berbuat serupa pada setiap jeda lagu.

Kadang, tiga gitaris sekaligus melakukan aksi kolaborasi di panggung, sembari menunggu Axl berganti kostum di belakang panggung.

“Mereka bisa menguasai tiga jam penuh dan dinamikanya stabil,” kata Abdee Negara, gitaris Slank yang menjadi pononton konser siang itu.

“Yang menarik di sela-sela lagu, mereka bisa nyanyiin lagu sendiri dan jam session,” tambahnya.

Nostalgia

Guns N’ Roses yang hadir di Jakarta bukanlah band dengan formasi klasik mereka.  Slash (gitar), Izzy Stradlin (gitar), Duff McKagan (bass), dan Steve Adler (drum) sudah tidak lagi mengiringi lolongan Axl.

Biarpun begitu, lagu-lagu lama masih banyak dibawakan band dengan formasi baru ini. Sekitar 30 lagu disajikan dengan apik ke hadapan penonton.

‘Sweet Child O’ Mind’ misalnya yang biasanya dimulai melodi dari Slash, saat itu harus dibawakan DJ Ashba. Memang agak sedikit berbeda, tapi itulah hasil metamorfosis Guns N’ Roses.

Yang tetap tidak berubah tentu saja pesona Axl Rose.

Meski sudah berumur, keangkuhan dan goyang asiknya ketika berada di atas panggung masih sangat luar biasa menyihir.

Bahkan ketika harus tampil kalem pada “November Rain'” dia tetap berkarisma. Topi koboy, celana jins sobek-sobek, dan kumis tebal yang beberapa kali selalu di pegangnya sendiri, agaknya cukup mewakili Axl sebagaimana seharusnya.

Seluruh penonton pun tetap menikmati penampilan Guns N’ Roses baru ini, apalagi lagu penutup ‘Paradise City’ begitu lengket pada telinga para penggemar.

Sepertinya tidak ada beda, antara Guns N’ Roses yang lama dari yang baru. Apalagi mereka banyak bernostalgia dengan lagu-lagu lama mereka.

“Seru kok, ngobatin kangen selama 20 tahun lebih,” kata Om Bagus, vokalis band Netral yang juga ikut menonton.

“Gue paling suka lagu-lagu terutama dari album Appetite for Destruction-nya, seperti Sweet Child O’ Mind, Nigh Train…Jadi terkenang aja ke masa muda,” tambahnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s