Saya serta Perjalanan Musik Rock dan cadas

200367_1581450783900_1267045_n

Tulisan ini terdorong setelah membaca tentang insyafnya (gejala langka) Anak Metal tahun 90’an yang namanya besar karena mendirikan dan mempertahankan band metal jempolan Indonesia: Rotor. Tulisan yang juga merupakan kilasan perkembangan musik cadas di Jakarta, membuat saya teringat pertemuan awal dengan musik cadas seperti Rotor.

Menyebut nama band Rotor mengingatkan saya pada masa ketika SMP. Seorang teman yang kurang akrab memperkenalkanku dengan kaset yang berwarna kuning dengan nama band: Rotor. Ketika itu saya menyangka adalah album G n’R yang Spaggety, ternyata bukan. Aku mendengarkannya, dan kurang tertarik karena begitu keras dan cepat. Kala itu, saya sudah gandrung dengan band yang nyaris sama, seperti Metallica, Sepultura, Obituary, Anthrax, Testament, Slayer, dan Helloween. Selain yang Thrash itu, glam dan rock, saya lebih dulu mengulitinya, seperti Rolling Stones, Led Zedpplin, Skid Row, G n’R, Bon Jovi, UKJ, Pearl Jam, dan Nirvana plus sederet lagu rock 70′ dan 80’an. Rotor menjadi terkenal, terlebih setelah membuka konser Metallica yang rusuh tersebut. Awal tahun 90’an pencarian bakat melalui band tergolong lumayan banyak, akan tetapi khusus pelajar, festival yang amat digandrungi di Jakarta adalah Pesta Pelajar dan bacaan musik-nya adalah HAI, khususnya edisi khusus. Kedua item ini menjadi referensi musik saya.

Waktu beranjak ke SMA. Saya masih tetap suka musik rock dan cadas, dan kini merapat ke Punk. Konser indi di Pulo Mas beberapa kali saya datangi, dan geliat underground semakin mencuat di Poster Cafe. Jakarta pasca kerusuhan 1998, saya tinggalkan. Di sumatra, saya hanya pendengar para musisi bermain. Di sini, metal bukanlah menjadi kekuatan besar dalam festival musik di kampus-kampus, akan tetapi rock n roll. Saya hidup dengan mereka, menikmati sambil menimba ilmu kesarjanaan.

Kembali ke Jakarta mulai bekerja, dan mulai pula mengurai mimpi nonton konser live yang seringkali tertunda karena uang tidak ada. Itu dulu masa sekolah dan kuliah, kini tidak lagi. Namun, kesempatan waktu, teman nonton,  dan kegandrungan terhadap band, seringkali mengurungkan niat untuk pesta di live in concert.  Saya seorang pendidik yang gemar musik rock dan cadas. Nonton live musik, akibatnya, tak menemukan teman satu frekuensi, artinya kesukaan musik yang sejenis. Baru tahun 2008, ketika kuliah pasca mulai lowong, kesempatan nonton live terealisir. Setidaknya live band internasional yang dipantengin antara lain: Skid Row, Helloween, Iron Maiden, Sepultura, dan Gn’r.  Masih ingin nonton yang lainnya….

I see the world…old…

I see the world…death…

IMG02200

One thought on “Saya serta Perjalanan Musik Rock dan cadas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s