Barangkali ini kunjungan paling mengejutkan sekaligus sensitif sepanjang sejarah diplomasi Indonesia. Pada 16 Oktober 1993, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin menemui Presiden Soeharto di kediaman pribadinya, Jalan Cendana nomor 8, Menteng, Jakarta Pusat. Misi dibawa Rabin sangat jelas. Dia meminta bantuan Indonesia sebagai pemimpin Gerakan Non-Blok menengahi konflik Palestina-Israel.

Lawatan itu berlangsung lewat sebulan setelah Rabin dan pemimpin PLO (Organisasi Pembebasan Palestina) Yasser Arafat dengan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton sebagai mediator meneken Perjanjian Oslo. Kesepakatan ini mendasari pembentukan Otoritas Palestina setahun kemudian.

Kedatangan Rabin ini terjadi setahun sebelum perjanjian damai dengan Yordania dicapai. Tokoh Islam dari Nahdhatul Ulama Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur ikut menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Nahas, setahun berselang pegiat dari kelompok sayap kanan Yigal Amir membunuh Rabin sebagai protes atas kesepakatan itu.

Di masa pemerintahan Gus Dur sejarah juga tercipta antara Israel dan Indonesia. Melalui keputusan Menteri Perdagangan dan Industri Muhammad Jusuf Kalla pada 1 Februari 2000, pemerintah mencabut larangan hubungan dagang langsung antara perusahaan swasta kedua negara.

Negara Zionis itu mengakui Indonesia memang sangat penting bagi mereka. Namun isu nasionalisme terkait penjajahan Israel terhadap bangsa Palestina kerap menjadi batu sandungan buat membina hubungan diplomatik.

Meski begitu, Kedutaan Besar Israel sudah mengepung Indonesia. Hanya tersisa tiga negara di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam) belum memiliki hubungan diplomatik dengan negara Bintang Daud itu. Bahkan Timor Leste, negara termuda di kawasan ini dan bekas provinsi ke-27 Indonesia, sudah membuka hubungan resmi sejak 2002 meski masih ditangani Kedutaan Israel di Singapura.

Menurut Duta Besar Israel buat Singapura Amira Arnon, Indonesia sangat penting lantaran merupakan negara terbesar di Asia Tenggara dan berpenduduk mayoritas muslim terbesar di dunia. “Indonesia juga amat penting bila dilihat dari sisi ekonomi karena memiliki jumlah penduduk sangat banyak dan kekayaan alamnya amat besar,” katanya kepada merdeka.com April tahun lalu.

Sebab itu, dia sangat berharap hubungan diplomatik bisa segera tercipta di antara kedua negara. “Saya sangat berharap besok atau sesegera mungkin.

Harapan dan keyakinan juga dilontarkan Duta Besar Israel untuk Thailand Simon Roded. “Saya yakin hubungan itu bakal tercapai di masa depan,” ujarnya saat menghubungi merdeka.com kemarin.