Perjalanan Istilah PSK [Pekerja Seks Komersial]

753165_20120605024447

Sebuah istilah dalam Bahasa Indonesia dapat mengalami penyempitan makna, maupun perluasan makna. Hal demikian terjadi atas konsekuensi rasional dari perkembangan zaman, dan perkembangan manusia sebagai dampak dari interaksi manusia. Tulisan ini bukan kajian bahasa Indonesia, akan tetapi sosiolog karena perubahan istilah merupakan konsekuensi dari perkembangan realitas di masyarakat.

Di Indonesia, setidaknya di Jakarta, istilah PSK (Pekerja Seks Komersial) menjadi sebuah singkatan yang banyak dilafazkan dan dikenal di berbagai media. Ini menjadi semacam kejamakan, lazim sejak sekitar tahun 2000-an. Bagi mereka yang baru melek berita, dianggap istilah PSK inilah yang benar-benar “baku” untuk melabelkan bisnis seks, padahal ada istilah lain yang pernah hidup sebelum tahun tersebut.

hingga Reformasi

Prostitusi telah menjadi istilah yang melukiskan sebuah aktivitas “jual-beli seks”. Prostitusi seringkali dianggap kata yang lebih santun untuk melabelkan salahsatu bisnis tertua manusia.

Jauh sebelum tahun 2000-an, prostitusi adalah istilah yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan memiliki berbagai variasi kata, walaupun maknanya relatif sama. Prostitusi diterjemahkan sebagai pelacuran, dan pelaku yang menjual kesenangan seksual disebut pelacur. Selain kata tersebut, juga dikenal dengan sebutan hostes, dan perek. Mereka ini melakukan dua transaksi, yakni transaksi seksual dan transaksi uang, artinya pembeli akan membayar sejumlah uang setelah melakukan hubungan seksual.

Sebuatan yang seringkali diserupakan, namun belum jelas maknanya ialah Bispak (bisa dipakai) dan Jablay (jarang dibelai). Kedua kategori ini, belum tentu sebagai palaku prostitusi, walaupun seringkalai terjadi transaksi seksual. Saya lebih senang meyakini sebagai istilah yang berlaku trendy hanya sesaat saja sesuai perkembangan jaman dan tidak meluas bahasanya sebagai bahasa “baku” selayaknya kata hostes dan perek.

Setelah Indonesia open mind sebagai dampak gerakan reformasi, banyak perubahan istilah terjadi. Gugatan disana-sini, termasuk terhadap soal pelacuran. Selama ini, pelacuran diidentikkan dengan perempuan sebagai pelakunya, dan merekalah yang menjadi pokok pembicaraannya. Isu gender telah menjadi hal utama, sehingga istilah yang mendeskriditkan kaum wanita harus dilakukan perubahan, apalagi setelah tahun 2000 fenomena pelacur pria mulai marak. Dibalik itu semua, pelacur telah menjadi bagian tulang punggung kehidupan menjelma sebagai sebuah profesi, pekerjaan.

Istilah PSK

Pekerja Seks Komersial (PSK) kemudian menjadi pilihan rasional untuk mendeskripsikan pelaku paket transaksi seks dan uang. Sepertinya PSK adalah istilah yang netral dan kontekstual dalam menyikapi kenyataan kini bahwa yang menjual-beli seks bukan hanya wanita, akan tetapi laki-laki juga tidak mau tertinggal. PSK menjadi istilah “baku” dan tidak mendeskriditkan gender tertentu.

Penutup

Perubahan istilah tersebut bukan sekedar bentuk kesadaran rasional dan humanitarian, akan tetapi cerminan betapa semakin memburuknya perkembangan bisnis jual-beli seks ini. Kini, kenyataannya ada pelacur (PSK) laki, perempuan dan tidak jelas jenis kelaminnya karena dengan kreasi tertentu. Kini juga cukup sulit menentukan penggunaan istilah yang tepat. Dahulu, pelakunya disebut Pelacur, dan kegiatan/bisnisnya dikenal sebagai Pelacuran. Mengikuti pola tersebut, maka sekarang pelakunya dikenal sebagai PSK, kegiatan/bisnisnya disebut apa ya?, PSK-an?…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s