Amerika terkecoh isu komunis di Timor Timur

3ZZei62egQ

“Ngak ada bosen-bosennya lihat video ttg timor-timur hingga timor leste dan bacaan terkait tentang negara baru itu…”…kalimat ini adalah status saya di FB hari ini. Di hari yang diguyur hujan sejak tengah malam, tidak menyurutkan kegemaran saya untuk melihat-lihat kisah Timor Leste. Di sore ini, akhirnya saya berlabuh di sebuah tulisan yang cukup mewakili seperti apa sebenarnya permasalahan yang terjadi, sejak di tahun 1975.

Tulisan Yos Naiobe yang dibuat di Sindonews, bagi saya, cukup mewakili perspektif yang lebih adil, setidaknya karena beberapa hal berikut:

1. Tahun 1975, tidak hanya disebut sebagai invasi Indonesia terhadap Timor Portugis, akan tetapi juga sebagai sebuah Integrasi Timor Timur.

2. Data yang di paparkan adalah dari dari PBB khususnya 3 bulan vakum of power 1975, begitu juga dilengkapi dengan versi Indonesia

3. dan lainnya, yang menurut saya lebih rasional tanpa menghilangkan rasa nasionalisme bagi mereka yang berkewarganegaraan Indonesia dan Timor Leste.

Ketiga poin itu, semoga menjadi gairah bagi para pembaca untuk berdiskusi lebih lanjut. Selamat membaca…

————————————-

PERANG bagi warga Timor Lorosae bukan hal baru. Di telinga orang Timor Timur, perang adalah pemandangan yang sudah biasa dilihat dengan indera mata.

Bunyi mesiu yang diletuskan dari senjata, bak kicau burung hantu di pagi dan malam hari. Ya, pemandangan itu pula yang pernah terjadi pada saat revolusi bunga tahun 1959. Peperangan hebat kala itu terjadi melawan penjajahan Portugal, meninggalkan wilayah jajahannya dalam kondisi memprihatinkan.

Pemandangan kedua, terjadi pada tahun 1975. Perang seakan tak pernah berkesudahan. Sejarah baru lahir ketika mayoritas masyarakat memilih untuk berintegrasi dengan Indonesia, melalui sebuah piagam kesepakatan yang bernama Deklarasi Balibo tahun 1975.

Pertikaian dan perang saudara yang berkecamuk di Timor Timur ibarat kobaran api yang harus segera dipadamkan, kata Menlu RI Adam Malik. Keterlibatan tentara Indonesia dinilai sebagai upaya pemadaman api agar tidak berkobar hingga merambat ke wilayah Indonesia.

Pernyataan Adam Malik ini untuk meyakinkan PBB, tentang keterlibatan militer Indonesia di Timor Timur. Dalam waktu yang sama, ketegangan melanda Blok Barat yang disponsori Amerika Serikat dan sekutu NATO, dengan Blok Timur yang dipimpin Uni Soviet dengan paham komunisnya.

Ketegangan ini dimanfaatkan Presiden Soeharto untuk meminta dukungan Amerika Serikat. Kepiawaian mantan penguasa Orde Baru ini mampu melumat Presiden Jimmy Carter. Soeharto tahu arah politik Blok Barat yang antikomunis. Karena itu, isu yang diangkat mengenai Timor Timur adalah bahaya paham komunis yang merambah ke Asia Tenggara, termasuk Timor Timur.

Soeharto meyakinkan Amerika, bahwa perang yang terjadi di Timor Timur sebagai akibat melebarnya paham tersebut. Amerika kemudian memberikan dukungan penuh kepada invasi militer Indonesia di Timor Timur, sebagai upaya untuk memberantas komunis.

Amerika bahkan memberikan bantuan berupa persenjataan. Selain Amerika, Australia juga memberikan dukungan itu. Amerika Serikat dan Australia “merestui” tindakan Indonesia, karena takut Timor Leste menjadi kantong komunisme terutama, karena kekuatan utama di perang saudara Timor Leste adalah Fretilin yang beraliran Marxis-Komunis.

AS dan Australia khawatir akan efek domino meluasnya pengaruh komunisme di Asia Tenggara, termasuk Indonesia setelah AS lari terbirit-birit dari Vietnam dengan jatuhnya Saigon atau Ho Chi Minh City.

Keyakinan Amerika dilandasi Revolusi Bunga di Portugal pada tahun 1975. Gubernur Portugal di Timor Leste Lemos Pires, sempat meminta bantuan Pemerintah Pusat di Portugal untuk mengirimkan bala bantuan ke Timor Leste yang sedang terjadi perang saudara. Sepeninggal Portugal dari bumi Timor Lorosae, Fretilin mengendalikan pemerintahan di Timor Leste.

Menurut suatu laporan resmi dari PBB, selama berkuasa selama tiga bulan ketika terjadi kevakuman pemerintahan di Timor Leste antara bulan September, Oktober dan November, Fretilin melakukan pembantaian terhadap sekitar 60.000 penduduk sipil (sebagian besarnya adalah pendukung faksi integrasi dengan Indonesia).

Dalam sebuah wawancara pada tanggal 5 April 1977 dengan Sydney Morning Herald, Menteri Luar Negeri Indonesia Adam Malik mengatakan bahwa “jumlah korban tewas berjumlah 50.000 orang atau mungkin 80.000”.

Tidak lama kemudian, kelompok pro-integrasi mendeklarasikan integrasi dengan Indonesia pada 30 November 1975 dan kemudian meminta dukungan Indonesia untuk mengambil alih Timor Leste dari kekuasaan Fretilin yang berhaluan komunis.

Sumber

4 thoughts on “Amerika terkecoh isu komunis di Timor Timur

  1. Apakah stlh bapak habibie menjual pulau timor timor atau timor leste dari negara kesatuan republik indonesia anda pernah pulang ke indonesia lagi?atau menetap dijerman terus bersama keluarga anda setelah dapet uang banyak kacang lupa kulitnnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s