Sepenggal Lorosae

19 Indonesia departs scorched earth

Membaca cerpen ini mengingatkan kisah Referendum 1999 yang mengharubiru. Cerpen ini cukup kontekstual melukiskan tentang keadaan situasi perang, antara lain tentang:

1. penghianatan, pembelotan

2. kecurangan UNAMET

3. keteguhan pejuang/tentara, dan

4. nasionalisme

“…sebagai sebuah potret sisi Indonesia di wilyah Timur yang layak dibaca”, gumamku.

——————————–

“Permisi!” Hampir serentak suara di teras depan rumah disertai ketukan di pintu. Pagi itu pandanganku beradu dengan dua orang setelah pintu terbuka.
“Sonia!, om Alfredo!, selamat datang di Indonesia!” sambutku spontan, sembari mempersilahkan masuk.
“Oh terima kasih, kukira kau sudah tak kenal kami lagi, bagaimana dengan bahasa Indonesiaku?” canda om Alfredo.
“Sangat baik tapi perlu latihan lagi.” sahutku dan suara tawa kamipun meledak.

Om Alfredo, aku mengenalnya semenjak masa kanak-kanak di bumi Timor Lorosae. Seorang penduduk berdarah campuran porto tetun yang pernah bertetangga denganku. Bertahun-tahun kami hidup damai berdampingan, apalagi setelah Timor Lorosae diakui menjadi bagian integral Republik Indonesia dengan nama propinsi Timor Timur. Namun sayang sekali kedamaian tersebut tak berlangsung lama. Bermula ketika dimumkannya hasil referendum nasib Timor Timur yang sebelumnya diberikan oleh pemerintah Indonesia. Sungguh mencengangkan!, kubu pro kemerdekaan telah dimenangkan mutlak oleh UNAMET yaitu lembaga bentukan PBB yang bertugas mengawal proses referendum di propinsi ke-27 itu. Referendum terdiri dari dua opsi yaitu pro kemerdekaan dan pro otonomi.

Saat itu 4 September 1999, Sabtu Pahing tepat pukul 09.15 waktu Indonesia Timur. Massapun mengamuk, benturan-benturan fisik berskala besarpun terjadi antara warga pro otonomi dan pro kemerdekaan yang diiringi perusakan, pembakaran dan penjarahan massal. Asap kebakaran mengepul di mana-mana. Kerusuhanpun merebak hingga ke seluru penjuru. Tak ayal lagi sebagian besar sarana dan prasarana bangunan milik masyarakat maupun pemerintah hancur total dan korban jiwapun berjatuhan. Warga pro otonomi yang selama 23 tahun berintegrasi dengan Indonesia, membawa bukti-bukti kuat tentang kecurangan UNAMET dalam membantu warga pro kemerdekaan. Anggota UNAMET yang mayoritas warga Australia dituntut dan diancam agar tidak meninggalkan lokasi mereka di 13 kabupaten di seluruh wilayah Timor Timur. Apapun alasannya, nyatanya dunia internasional dibawah pimpinan Amerika Serikat dan sekutunya sangat menekan pemerintah kami. Australiapun sangat berambisi memposisikan dirinya sebagai polisi Asia.

Kami benar-benar tidak siap menghadapi kekecewaan ini, kami semua merasa dikhianati oleh pihak asing. Siapa sangka bahwa hasil referendum yang jelas-jelas diwarnai kecurangan sistematis tersebut tak pernah diinvestigasi oleh pihak-pihak yang terkait baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Semua bungkam sejuta bahasa. Padahal bukti-bukti tersebut tercatat secara kronologis, yaitu dari mulai berdatangannya polisi Australia yang tak ingin dicampuri oleh pihak Indonesia. Mereka berdalih agar dapat bekerja independen. Rupanya ini hanyalah siasat undercover operasi intelijen. Kegiatan-kegiatan spionase menjadi pemandangan sehari-hari. Hasutan, bujuk rayu serta iming-iming mereka lontarkan pada warga pro otonomi bahkan tak jarang berakhir dengan intimidasi dan kekerasan. Sekali lagi tak satupun anggota Komnas HAM dalam dan luar negeri berteriak. Terkuak setelah hasil referendum, banyak ditemukan kertas suara pro kemerdekaan luar biasa banyaknya dan kertas suara pro otonomi banyak yang dirusak serta masih sangat banyak kecurangan dalam bentuk lain.

Detik itu pula, kami yang telah lama mendiami Timor Timur dan mencintai tanah kelahiran kami dipaksa untuk meninggalkannya, mengungsi keluar wilayah Timor Timur secepatnya. Dengan pengawalan tentara dan polisi banyak di antara kami mengungsi hanya dengan pakaian melekat di tubuh, meninggalkan rumah dan harta benda. Banyak juga dari kami menghancurkan atau membakar harta bendanya daripada dijarah dan dinikmati oleh kelompok pro kemerdekaan. Rumah-rumah warga pro otonomi telah dikuasai secara beringas dengan berbagai ancaman, ditambah dengan kehadiran sekelompok tentara Timor Falintil bersenjata lengkap yang keluar dari persembunyian menambah suasana makin mencekam. Bukan hanya harta benda yang menjadi jarahan tetapi juga harkat dan martabat manusia. Kami menjadi sasaran amukan warga pro kemerdekaan. Banyak pula keluarga harus rela kehilangan anggotanya dan terpisah, bahkan turut menjadi korban jiwa selama kerusuhan terjadi. Begitu pula diriku, kulepas kedua orang tuaku mengungsi. Aku berusaha mengejar keduanya yang bergegas menaiki truk tentara.

“Berlakulah sebagai prajurit profesional!” Ayah segera pergi dengan langkah pasti menuju ke arah truk tanpa menoleh lagi. Hanya suara tangisan pilu para pengungsi termasuk ibuku. Rengekan bayi-bayi dan anak-anak yang belum mengerti politik sangat menyayat hati siapa saja.

Aku mengenal almarhum ayahku sangat dekat. Seorang mantan Marinir yang banyak malang melintang bertugas di medan tempur. Beliau termasuk sosok prajurit yang loyalitasnya tidak diragukan!, begitu mendapat perintah pindah dinas ke Timor Lorosae, dengan lapang dada hal itu diterima. Di bumi Lorosae aku lahir, tanah tumpah darahku yang tak terlupakan.

“Aku turut berduka cita atas wafatnya ayahmu.” Terpancar rasa kedukaan yang mendalam di wajah om Alfredo, setelah dia mengetahui kabar itu dari kerabatnya.
Om Alfredo, sempat membuat diriku terguncang dan marah serta kecewa, hingga tak pernah melupakan peristiwa yang membuatku memandang dunia ini dari banyak sisi. Saat itu aku dan para tentara yang lain mempersiapkan kendaraan pengungsi menuju perbatasan. Di tengah-tengah penjagaan tentara Australia dan Timor Falintil, mataku melihat seorang pria akrab dengan mereka, sungguh sukar dipercaya!. Belakangan kuketahui ternyata dia adalah salah seorang tokoh klandestin bekas Tropaz, salah satu unit tentara Timor Portugis, nama lain Timor Timur sebelum integrasi. Setiba di Indonesia kuceritakan hal ini pada ayah.
“Dia punya cara perjuangan sendiri.”
“Tapi ini pengkhianatan!”
“Siapa yang dikhianati, apa kau merasa dirugikan?”
Aku terdiam menebak-nebak jalan pikiran beliau.
“Suatu saat kau akan tahu, dia memiliki jalan sendiri, begitu pula kau dan aku, sama-sama memiliki kepentingan, mempercayai apa yang kita yakini.”

Aku belum bisa menerima kenyataan, bahkan di saat-saat kekacauan terjadi. Ternyata banyak warga pribumi Timor yang semula pro otonomi berbalik menjadi pro kemerdekaan, apakah ini yang disebut perjuangan? atau mungkinkah hanya sekedar mencari selamat dan aman?
“Sudah biasa hal seperti itu, mengatasnamakan perjuangan, tugas tentara adalah berperang demi perintah tapi tidak memerangi umat manusia! Kapan berperang dan kapan berdamai kau harus tahu itu!” jelas ayah seakan membaca jalan pikiranku.

Setelahnya aku tak pernah membicarakan hal itu lagi. Ayahku adalah keturunan trah tulen menak Sumedang, hanya karena intrik klasik dalam keluarga ningrat, ayah harus rela meninggalkan tanah kelahirannya dan menjadi orang kebanyakan. Mendaftar sebagai prajurit rendahan yang dimasa itu hanya pantas untuk kalangan rakyat jelata. Namun beliau merasa nyaman dengan kehidupan barunya, yang tidak pernah dijumpai semasa hidup dalam kungkungan tata cara keraton. Seorang prajurit sejati, yang berpesan tidak ingin dimakamkan di Taman Makam Pahlawan karena memang bukan itu yang beliau cari. Perjuangan hanya demi bangsa dan negara bukan untuk yang lain, apalagi hanya mengukir nama sendiri.!
“Oh Ibu dan kakak adikmu?” Dia mencoba berbicara ringan.
“Semua baik, ibu dan adikku Silvia Singorejo menetap di Amsterdam.”
“Oh gadis bule itu!”.
Silvia Singorejo, sebenarnya bukan adik kandungku. Ayah mendapatinya sewaktu masih bayi lemah di hamparan rumput tanah lapang. Entah dibuang atau akibat korban kekerasan dari pihak-pihak yang bertikai di masa itu. Meskipun dia bayi porto yang bisa saja anak dari musuh tetapi ayah dan ibu tidak mempedulikannya. Bagai anak kandung mereka membesarkannya. Bagiku kearifan ayah melebihi jenderal bintang lima. Dengan welas asih ibu merawat dan menjaganya.
“Keluarga sehatkah?” tanyanya menyelidik setelah melihat bingkai foto yang tergantung di dinding. Foto kedua putriku bersama diriku.
“It’s over.”
“ehm,.. I’m so sorry.”

Rumah tanggaku bubar hanya karena aku dan isteri berbeda paham. Aku hanyalah seorang tentara rendahan, sementara mantan isteriku adalah seorang pengusaha keturunan Arab-Jawa. Selalu ada saja kesalahpahaman karena istri kental dengan pengaruh budaya Barat yang diperoleh saat kuliah S2 di Jerman. Menurutku budaya Barat yang hanya mengejar materi kurang cocok dengan kepribadian bangsa Indonesia. Suatu hari dia menginginkan diriku meneruskan usaha sarang burung walet abinya. Maaf aku lebih mencintai diriku seperti saat ini, menjalani kehidupan sebagai seorang tentara yang sederhana. Sempat terlintas dalam anganku bahwa bisa saja berbisnis sembari bekerja tapi bagaimana mungkin akan menjadi profesional jika ditengah-tengah rutinitas pekerjaan, yang melulu muncul dalam benakku adalah segebok pundi-pundi rupiah? bahkan Euro?!. Profesionalkah? Alangkah kasihan rakyat yang telah memberi amanah kepada tentara semacam itu. Profil tentara yang ideal menurut anggapanku sederhana dan bersahaja.

Lima tahun rumah tanggaku bertahan, kedua buah cinta kami yaitu Sekar Arum Jagad dan Lintang Pamungkas berada dalam pengasuhan mantan istriku, Vierra Kharami. Sebenarnya dia adalah ibu yang baik tetapi pandangan dan prinsip kami sudah tidak mungkin berjalan dalam satu rel! Aku tidak pernah menyesal karena aku meyakini ini adalah jalan hidup, banyak orang menganggap diriku bodoh, tapi hanya Tuhanlah yang tahu.

Jalan hidup tiap orang berbeda, kalau ada sebagian tentara hidup bergelimang kemewahan, mungkin memang itu nasib yang harus mereka peroleh, nasib seorang manusia. Demi mengabdi pada negara kujauhkan diri dari kemewahan. Kutelan mentah-mentah dogma dan indoktrinasi secara total, terutama tentang perilaku berorganisasi, karena disinilah letak keteraturan manajemen organisasi. Apa jadinya kalau seorang bawahan kurang ajar terhadap atasan hanya karena sang atasan adalah kawan dekat apalagi sanak famili, tentu ini pelecehan terhadap institusi. Profesi harus dijunjung tinggi, adil terhadap siapa saja, tidak ada kawan dekat apalagi sanak famili yang harus kita lindungi ketika melakukan kesalahan. Stick and Carrot, titik!.

Aku anak bangsa yang berjanji dalam hati akan mengawal tegaknya kedaulatan negara ini, sejarah membuktikan bahwa bangsa yang besar akan runtuh hanya dengan infiltrasi budaya dari luar secara sistematis, bukan dengan peperangan besar. Diawali dari hal-hal kecil yang remeh seperti pemberian nama anak cucu kita! Mengapa sekarang nama-nama bangsa Indonesia yang asli telah punah? Apakah nama “Jihan” atau “Maria” terdengar lebih merdu daripada nama “Lestari”?. Itulah sebabnya kedua anakku masing-masing satu tahun baru kunamai ciri khas Indonesia. Sangat disayangkan pula bahwa “kebaya” yang merupakan identitas nasional pakaian wanita Indonesia harus berganti dengan “cadar” atau pakaian Eropa. Negara-negara benua Amerika saja yang lantang menobatkan dirinya menjadi bangsa baru, namun penduduknya mengakui keanekaragaman warisan Eropa! Mengapa di Amerika bisa mempertahankan budaya negara-negara Eropa? Sedangkan kita? Dari nama-nama mereka kecuali warga kulit hitam, masih bisa diketahui kalau mereka imigran bekas bangsa Eropa. Sungguh aku malu bangsaku! padahal Sutasoma berabad-abad yang lampau telah menyebut “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa”. Keanekaragaman budaya adalah hal yang biasa dalam kehidupan bernegara. Mengapa kita harus menyeragamkan semua itu? Mudah-mudahan bangsa ini segera disadarkan dari kemerosotan moral, setidaknya cita-cita mengembalikan identitas bangsa dimulai dari hal yang paling kecil! Mimpi luar biasa dari seorang prajurit biasa, tapi aku akan selalu bermimpi meski hanya seorang diri.

Putra Angkasa namaku! Nama sakral yang memiliki legenda tersendiri. Tigapuluh Tujuh tahun yang silam di pagi buta ketika ibu hendak melahirkanku ke rumah bidan, ayah yang mengantar dan mengemudikan mobil melihat burung rajawali terbang membelah angkasa. Atas saran beliau nama itu diberikan. Putra Angkasa yang telah membuat udara berdetak.
“Oh my God, kau masih menyimpan foto kita semasa perjuangan dulu?!” tatapan tajam mata Sonia beradu denganku. Sedari tadi dia asyik memandangi jajaran bingkai foto di pojok ruang tamu yang banyak bercerita tentang keindahan bumi Lorosae.
Sonia Dora, sepuluh tahun aku mengenalmu hingga negara Timor Leste terbentuk kitapun harus terpisah jauh.

“You’re always keep on my mind,” meluncur deras begitu saja dari bibirku, sebentuk kalimat yang tidak pernah kuucapkan sebelumnya, sehari sebelum propinsi Timor Timur diserahkan ke UNTAET. Di tengah-tengah kekacauan dan tidak ada keteraturan tatanan, aku berhasil menemukanmu dengan semboyan reguler, alternatif dan emergensi. Mendapatkan dirimu di senja itu.
“Suatu hari nanti, kalau Tuhan memberikan umur panjang semoga kita dipertemukan lagi!” pintamu.
“I must go!, aku akan merindukanmu.”

Timor Timur selamat tinggal! Iring-iringan kendaraan pasukan melewati jalan perbatasan menuju Atambua. “Invasi Road” begitu jurnalis barat menyebut jalan itu. Jalan yang dibangun oleh Tentara dan Polisi sekaligus menandai program ABRI Masuk Desa. Infiltrasi dan eksfiltrasi selama perang berlangsung juga melalui jalan itu. Dari sana pulalah “The Blue Jeans Soldier” memulai aksinya dan selalu meninggalkan untold story bagi generasi berikutnya. Operasi Seroja lebih mendekati operasi intelijen terpadu daripada operasi militer. Prestasi, pangkat dan jabatan serta kisah-kisah heroik diperoleh sebagian orang sementara banyak orang harus meratapi kegetiran nasib.

Pagi hari 30 September 1999, Kamis Pon jam 9 tepat Waktu Indonesia belahan Timur, Provinsi Timor Timur dipaksa lepas dari pangkuan ibu pertiwi. Lepas karena campur tangan negara-negara besar yang secara sistematis menekan pemerintahan kami baik dari segi ekonomi, politik dan militer. Dengan teganya mereka memboikot perdagangan dan embargo alutsista militer di saat-saat negaraku sedang mengalami krisis multidimensi yang melelahkan. Di kancah internasional, mereka tak henti-hentinya berkampanye tentang status Timor Lorosae. Perang Psikologispun berlangsung. Ironisnya dari dalam negeripun sekelompok orang yang mengaku cerdik cendekia ikut menyuarakan kemerdekaan bagi provinsi termuda itu. Ada apa dengan kalian? Mana jiwa ksatria? Rupanya mereka memilih berperan sebagai Gunawan Wibisana yang dengan tega mengorbankan wilayah tanah air diacak-acak oleh agresor. Mengapa tidak memilih menjadi Kumbakarna? “Baik buruk ini adalah negaraku, setiap ada ancaman asing akan kuhadapi!”.

Ibu pertiwi sedang menangis, setelah terjungkalnya rezim otoriter akibat krisis moneter 1997, setiap saat negeri ini selalu diwarnai guncangan aksi-aksi demonstrasi anarkis yang tak berujung pangkal, provokasi-provokasi dari LSM yang didanai pihak asing, pemberitaan media informasi yang tak berimbang sampai aksi-aksi mahasiswa yang ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu bahkan rongrongan gerakan separatis di beberapa daerah atau konflik horisontal bernuansa SARA semakin menambah lemah negeriku. Kejahatan tradisional dan kejahatan modernpun muncul berdampingan tanpa ada penegakan hukum yang dapat memberi efek jera. Para pemimpin yang seharusnya menjadi suri tauladan tidak dindahkan lagi oleh rakyat. Tentara dan Polisi yang mengawal jalannya reformasi justru dihujat dan dicaci. Euforia yang kebablasan!

Dan yang hampir sukar di nalar, berkembang isu bahwa di perairan Selandia Baru sejumlah pasukan tempur multinasional bersiap-siap memasuki wilayah Indonesia jika nasib Timor-Timur benar-benar berlarut. Fakta akan selalu berkata jujur, bahwa sudah terlalu banyak bangsa Indonesia berkorban demi sejengkal tanahnya, begitu banyak harta, jiwa dan raga yang telah diserahkan. Putra-putri terbaik bangsa berguguran demi semangat nasionalisme menjaga keutuhan Timor Lorosae setelah disyahkannya Deklarasi Balibo yang dimotori oleh Amerika Serikat berdasar ketakutannya terhadap komunis di Pasifik. Lepasnya Timor-Timur adalah suatu pelajaran yang sangat berharga, bahwa negeri ini secara Geopolitik dan ekonomi sangat diperhitungkan oleh kekuatan asing. Bangsaku yang besar, negeriku yang sentosa sering kudengar saat dongeng menjelang tidur.

Timor Lorosae selamat berpisah semoga kebersamaan selama ini akan menjadi kenangan yang terindah dalam perjalanan bangsa Indonesia, sampai jumpa di lain waktu. Hati nuranimu akan selalu berkata jujur bahwa kami telah merawat dan membesarkanmu dengan sekuat tenaga meskipun kelak sejarah yang kau tulis dapat saja bertutur lain.

Dari pemberitaan televisi terlihat mantan para pelaku perang dari kedua belah pihak saling bersalaman bahkan berangkulan mesra bak kawan lama padahal dulunya mereka saling bermusuhan. Perang telah usai! Tidak ada lagi pahlawan dan pengkhianat. Takkan ada lagi sebutan pejuang dan pemberontak!

Air mata para mantan pejuang Seroja dan keluarganya bercucuran! Mungkinkah terharu, kecewa ataupun marah? Entahlah, sebuah resiko yang harus dijalani. Kakak sulungku seorang guru harus kehilangan anak dan istrinya karena teror orang tak dikenal selama integrasi. Kakak kedua mendapat penghargaan Kopral Anumerta. Berkat pengorbanannya sang Komandan mendapat promosi jabatan. Perang untuk siapa? Jawaban jujur tentu beraneka ragam.

Pantulan cahaya bulan yang menerangi rerumputan, seakan-akan memantul padaku. Kulirik Sonia di samping sedang termangu menatap kerlap-kerlip lampu taman kota. Tiada kata-kata yang perlu kami perbincangkan lagi, bibir kami membisu mungkin hanya hati yang bicara. Malam bertambah temaram! Perlahan kuberanjak dari bangku taman. Kugerakkan tanganku untuk kesekian kalinya mendorong kursi rodamu, persis ketika kita masih di bumi Lorosae. Terima kasih Tuhan…, walaupun kami lahir dan tumbuh dalam lingkungan berbeda, tetapi lewat kasih-Mu kami bisa bersahabat tanpa ada prasangka suku, agama, ras dan golongan. Kursi roda pemberian ayah ketika kau divonis lumpuh menyiratkan pesan bahwa kami tidak akan pernah terpedaya oleh kotak-kotak golongan yang telah diciptakan oleh manusia. Seringkali kita terjebak dalam sekat “Siapa Aku Siapa Dirimu”, sehingga membentengi serta menghalangi kita sebagai khalifah di muka bumi untuk berbuat baik kepada sesama tanpa pamrih.

Kilauan bintang-bintang di angkasa raya ikut menyaksikan kami menyusuri jalan sepanjang taman, sungguh gagah dan menawannya kalian, bertengger di ketinggian dan takkan ada yang bisa menjamahnya. Ingin kupetik salah satu, akan tetapi kalian semakin meninggi hingga semakin sulit kugapai. Seandainya kalian bisa bersuara mungkin saat ini sedang menertawaiku, menertawai apa yang sedang kupikirkan. Pungguk merindukan bulan dan bintang. Kopral Putra Angkasa Nata Negara trah terakhir Sumedang Larang.

“Mengapa kau memilih mendaftar tamtama? Mengapa tidak mendaftar perwira?”
“Tidak!”
“Kau takut menjadi pemimpin?”
“Pemimpin adalah panutan bagi bawahan segala tindak-tanduk adalah cermin bagi bawahan!”
“Lantas?”
“Aku akan lebih siap menjadi tamtama dan memimpin diriku sendiri!”

Dialog itu terngiang kembali, dibawah guyuran hujan deras di teras depan rumah, dua pemuda Ramos Matanruak dan Putra Angkasa. Ramos sahabatku, pemuda polos lagipula sederhana itu kini menjadi jenderal militer Timor Leste yang disegani sekaligus dihormati.

“Adigang, adigung, adiguna takkan pernah ada dalam kamusku Putra Angkasa!” Kubaca pesan singkatmu di ponsel, hmm … mungkin Sonia telah memberikan pin dan nomerku padanya. Adigang, adigung, adiguna sebuah filosofi jawa yang dulu pernah kuperkenalkan padanya. Jika seseorang telah mencapai kesuksesan kadang-kadang dapat tergelincir merasa tinggi, merasa terhormat dan merasa dapat berbuat apa saja. Ironisnya di antara mereka dulu banyak yang berasal dari keluarga kere alias miskin, makanya ada sindiran “Kere munggah Bale”. Orang miskin yang naik kasta dan tak tahu diri pula.
“Itu khan hanya untuk pria?” tukas Sonia setelah menguping pembicaraan kami.
“Oke.. khusus wanita Adigunawati saja!” kataku tak mau kalah. “Adigunawati sudah mencakup adigang, adigung dan itu lebih dahsyat ketika yang bersangkutan menjadi isteri pejabat alias bisa berbuat semaunya atas restu suami!”
“huuuu..!” kompaknya paduan suara saudara kakak beradik itu. Kebetulan atau tidak, setelahnya kilat dan guntur menggelegar.

Langit hitam nun jauh di atas sana, banyak bintang bertaburan namun yang bersinar hanyalah satu. Malam inipun aku masih mengantongi sepucuk surat darimu beberapa hari yang lalu. Sonia… 13 tahun sudah kita tak pernah bertemu, dan adalah hal yang tak pernah kuduga bahwasannya dengan kehendak Tuhan saat ini kita dipertemukan.
“Selamat jalan Om dan Sonia”. Sepenggal kata dariku malam ini juga, setiba mengantarnya di lobby hotel. Sampai jumpa lagi entah kapan. Terlalu banyak kenangan di bumi Lorosae dan takkan begitu saja terhapus dalam memoriku. Saat-saat bersama suka dan duka dengan orang-orang yang penuh kasih, juga dengan mantan pejuang-pejuang integrasi dari berbagai kalangan yang kini terlupakan. Salam Mahidi, Mati Hidup Demi Indonesia.

Sekian

Untuk para generasi muda jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s