KISAH OPS SEROJA

Operasi Seroja dan Kisah Perang di Timtim
Penyergapan David Alex

David Alex, salah satu gerilya Fretilin yang senior pada tanggal 25 juni 1997 sekitar pukul 11.00 Wita, berhasil disergap pasukan ABRI di gua tempat persembunyiannya, di Kampung Caibada, Kecamatan Baucau, sekitar 130 km arah timur kota Dili.

Menurut majalah Cahaya Candrasa dan Suara Merdeka 1997 yang saya koleksi, Pasukan yang berhasil menyergap David Alex adalah :

Tim Gabungan Kopassus,Satgas Rajawali,Kodim setempat, dan Batalyon 312/ Kala Hitam Siliwangi.
Tim gabungan itu dipimpin Kapten Inf David Hasibuan, didampingi Komandan SGI Baucau Kapten Delvianus dan Lettu Agus Pangarso.

David Alex bertanggung jawab atas serangan2 terhadap pasukan TNI sebelumnya dan yang paling akhir adalah penghadangan terhadap truk yang berisi anggota polisi dan brimob dalam pengamanan pemilu 1997 yang menewaskan kurang lebih 19 orang di Kecamatan Quelicai.Pada penghadangan ini pihak Fretilin dengan menggunakan seragam TNI atau ABRI menghadang truk tersebut , sehingga mengira Fretilin tersbeut sesama anggota dan truk berhenti dan tiba-tiba Fretilin tersebut menembak sopir truk tersebut dan melemparkan granat ke truk tersebut.Pada saat itu truk berisi pula bahan bakar dalam drum sehingga mudah sekali meledak dan disertai tembakan dari tempat tersembunyi oleh pihak Fretilin

Penyergapan tersebut diawali dari informasi masyarakat terhadap sejumlah orang yang tidak dikenal sering mengendap masuk kawasan perumahan Kodim setempat.Dari situ dikembangkan penyelidikan dan akhirnya diketahui tempat persembunyian tersebut. Selain itu turut ditangkap sejumlah anak buah David Alex.

tampang David Alextampang David Alex

Penyergapan Nikolau Lobato
Yonif 744 dipimpin oleh Mayor Yunus Yosfiah telah hampir 2 minggu melakukan pengejaran terhadap pasukan Fretilin di Maubisse Kecil.Pasukan yang beroperasi di sektor ini antara lain Yonif 744, Yonif 700, Yonif 401 Raiders dan tim Nanggala-28.

Tanggal 30 Desember 1978 pukul 05.00 Komandan tim Nanggala-28, Kapten Inf Prabowo melaporkan kepada Danyon 744, Mayor Yunus Yosfiah tentang adanya pergerakan pasukan Fretilin ke arah selatan.Hari itu juga Komandan Sektor Tengah, Kol Inf Sahala Raja Guguk segera memerintahkan pengepungan terhadap sasaran.Formasi pasukan TNI waktu itu :

Tim Nanggala-28 disisi utara
Yonif 700 dan Yonif 401 disisi timur
Yonif 744 sebagai ujung tombak serangan

Pada hari itu Peleton I Kompi B Yonif 744 yang dipimpin Sersan Maudobe terlibat kontak senjata yang mengakibatkan sejumlah musuh tewas.Diantara mayat yang berhasil ditembak Sersan Maudobe terdapat mayat Nikolau Lobato.Mayat Nikolau Lobato berhasil dikenali oleh Prajurit Dua Gutteres (tamtama pembawa radio).Dalam pengejaran ini dilibatkan pula satuan helikopter yang mengangkut secara mobil pasukan.

Dari majalah TEMPO
Bobol, Penjaga Gawang Fretilin
Edisi 39/22 Halaman 30 Rubrik Nasional

28 Nov 1992
DUA teman lama itu kembali bertemu pekan lalu: Abilio Jose Osorio Soares dan
Jose Xanana Gusmao. Keduanya, yang sama-sama kelahiran Manatuto 45 tahun lalu,
adalah teman SMP (Primeiro Ciclo do Ensino Secindario) di Dili. Di situ,
Xanana dikenal sebagai penjaga gawang dalam tim sepak bola Academica.
Dua-duanya pernah pula ikut wajib militer Portugal, Tropaz. Di masa
pergolakan, Abilio masuk Apodeti yang pro Indonesia dan Xanana memilih
Fretilin yang mau merdeka.

Nasib mereka berbeda. Kini, Abilio Soares adalah gubernur Timor Timur, dan
Xanana sebagai tahanan aparat keamanan. Ia dianggap memimpin gerakan melawan
Indonesia. Wartawan TEMPO di Dili melaporkan, keduanya sempat
berbincang-bincang di rumah Pangkolakops Brigjen. Theo Syafei di Pantai Varol,
Dili — dengan suguhan makanan ringan dan minuman kaleng.

Toh itu bukan saat menyenangkan buat Xanana. Ia ditangkap Jumat pagi pekan
lalu, setelah diburu 16 tahun. Penangkapan Xanana diduga erat kaitannya dengan
pembubaran Fitun — organisasi pelajar sayap Fretilin yang sering terlibat
demonstrasi, termasuk yang mengakibatkan insiden Santa Cruz, 15 November lalu.
Menurut sumber TEMPO, dari Fitunlah didapat info tempat Xanana bersembunyi
(meski menurut aparat keamanan itu berkat informasi masyarakat), yaitu di
rumah seorang polisi, Kopral Satu Agusto Pierera, di Desa Labane Barat, Dili
Barat. Rumah berukuran 80 meter persegi ini hanya 30 meter dari pos penjagaan
pasukan pemukul Batalyon 623. Di dalam rumah itu dibuat lubang persembunyian
bawah tanah berbentuk L, sekitar semeter dalamnya. Syahdan, Xanana sudah dua
bulan ngumpet di sana. Untuk penyamaran, ia mencukur klimis cambang dan
kumisnya yang lebat.

Jumat itu rupanya hari nahasnya. Pemimpin gerilyawan yang konon bisa
menghilang dan berubah rupa itu bangun tidur pukul 6 pagi. Xanana baru saja
selesai mandi, tatkala pasukan baret merah menggertak: “Buka pintu”. Xanana
menguak pintu seraya mengacungkan pistol. Namun, belum sempat pistolnya
menyalak, beberapa laras M-16 disorongkan ke wajahnya. Xanana menyerah. Dari
persembunyiannya, ditemukan handy talky dan tiga peti barang lainnya. Juga
sekarung dokumen. Ia langsung dibawa ke rumah Theo Syafei.

Nama Xanana mulai mencuat dalam daftar musuh aparat keamanan sejak 1978,
setelah menggantikan posisi orang pertama Fretilin, Nikolaus Lobato, yang
tertembak mati kala itu. Menurut Alexo Cotreal, tokoh masyarakat yang mengenal
dan pernah menjadi pengikutnya, Xanana sebenarnya biasa saja. “Kalau sekarang
dia jadi pemimpin karismatik, karena tak ada lagi tokoh seangkatannya di
Fretilin,” ujar Alexo.

Dulu, Xanana adalah seorang wartawan koran Avez de Timor (Suara Timor) pada
masa Portugal. Ia memegang rubrik drama dan puisi. Semasa SMP Xanana memang
sering menjuarai lomba baca puisi. Tulisannya kerap menyerang penjajah. “Puisinya
sangat tajam menentang pemerintah Portugal,” cerita Alexo. Pernah, gara-gara
kritik Xanana pada Portugal, Avez de Timor dituntut ke pengadilan. Pemerintah
Portugal menang. Koran itu didenda 30.000 escudo, tapi tak dibredel. Kemudian,
Xanana membuat koran sendiri, Nakroma (Terang).

Sebelum masuk hutan, Xanana sempat menjadi juru ketik di salah satu instansi
swasta di Dili. Tahun 1973, ia pergi ke Australia. Tak banyak berita tentang
kegiatannya di hutan. September 1990, Robert Domm, pengacara Australia,
mengaku menemui Xanana dan merekam perbincangannya dalam enam kaset.
Wawancaranya diterbitkan oleh Australian Council for Overseas Aid pada
Februari 1991.

Tempat persembunyian Xanana, menurut Domm, dijangkaunya setelah berkendaraan
setengah hari dari Dili dan jalan kaki sekitar 20 kilometer. Agar tak terlihat
tentara Indonesia, ada “upacara menghilangkan jejak” sebelum naik gunung.
Xanana digambarkan sebagai seorang yang cerdik, cerdas, dan tahu banyak berita
sekitar Tim-Tim. Diakui Xanana, pihaknya sangat terjepit oleh ABRI.

Penangkapan Xanana tentu membuat geger. Dari Portugal, Presiden Mario Soares
mendesak PBB agar minta Indonesia membebaskan Xanana. Sabtu lalu, di depan
konsulat Indonesia di Melbourne, sekitar 150 simpatisan Fretilin berseru
serupa. Dalam demo di tengah hujan dan angin deras itu, ikut pula dua anak
Xanana, Nito (21 tahun) dan Zenilda Gusmao (18 tahun).

Emilia, 41 tahun, istri Xanana, sejak dua tahun lalu memang berada di
Melbourne bersama kedua anaknya. Ketika wartawan TEMPO Dewi Anggraeni
mengunjungi rumahnya, Emilia tampak sembab matanya dan hanya duduk termenung
bersandar di kursi panjang. Dia, yang hanya bisa berbahasa Portugis, pada
reporter televisi ABC berkata, “Saya mohon agar Australia membantu pembebasan
suami saya, dan agar dia tak diperlakukan sebagai penjahat politik.” Emilia
juga tengah menghadapi soal rebutan dana perjuangan US$ 75.000 di sebuah bank
Portugal dengan pimpinan pucuk Fretilin Ramos Horta.

Xanana, kabarnya, sudah diterbangkan ke Jakarta. Namun, Kapuspen ABRI
Brigjen. Nurhadi Purwosaputro membantahnya. Xanana, katanya, masih di Dili.
Pangab Jenderal Try Sutrisno telah pula terbang ke Dili dan sempat melihat
lokasi penangkapan Xanana, Jumat siang lalu. Dari Dakar, Senegal, masuk kawat
ucapan selamat Presiden Soeharto atas penangkapan ini.

Suasana Dili tampak tenang. Namun, rupanya ada mitos bahwa Xanana adalah
orang sakti. Hingga awal pekan ini, sebagian orang Tim-Tim masih belum percaya
Xanana bisa tertangkap. Apa Brigjen. Theo mesti menayangkannya di televisi?

Kontak Senjata di Baucau, Tiga Anggota GPK Tewas
Dili, Kompas
Tiga anggota GPK (gerakan pengacau keamanan) Timor Timur dan dua angggota ABRI tewas dalam kontak senjata di Baucau, sekitar 180 km dari Dili. Kepala Staf Kodam (Kasdam) Udayanya, Brigjen (TNI) Willem de Costa, mengatakan hari Kamis (16/4) di Bandara Comoro Dili, kontak senjata itu terjadi Rabu malam lalu ketika petugas keamanan menyergap markas GPK di Kampung Manulai, Desa Wailili, Kecamatan Baucau. “Sebelumnya, petugas mendapat laporan dari masyarakat tentang adanya markas GPK di situ. Dalam penyergapan itu anggota ABRI mendapat perlawanan ketat sehingga kontak senjata tidak terhindarkan,” ujarnya.

Menurut Kasdam, dalam kontak senjata itu pihak GPK melepaskan tembakan ke arah anggota ABRI, Serda Wayan Darma yang membawa sebuah granat. Tembakan mengenai prajurit tersebut dan granat pun meledak. Serda Wayan tewas bersama Serda Atek Ribiyanto yang berada di sampingnya.

Tiga anggota GPK yang tewas adalah Ny Maria Maia Marques (37), anaknya Cribonto (12), dan Salustiano Freitas (35), pemilik rumah. Sekitar delapan anggota GPK lolos dari penyergapan itu.

Kontak senjata berlangsung satu jam. Rumah yang menjadi markas GPK itu dibangun tahun 1995 tapi hingga kini belum selesai. GPK juga membangun terowongan mirip katakombe. Terowongan ini sekaligus menjadi penyimpanan logistik mereka.

“Salustiano Freitas adalah mantan anggota tim kesatuan “Sera” Kodim 1828 Baucau. Dia lari ke hutan bergabung dengan GPK sejak tahun 1992,” kata Willem.

Senjata ditemukan
Kasdam mengatakan, ketika dilakukan pembersihan esok harinya, petugas menemukan 33 butir peluru M16, 12 butir proyektil, satu peti amunisi campuran, tiga pucuk senjata api, senjata api genggam kuno, satu senapan angin, empat magasin penuh peluru, satu magasin M16, dua handy talky, dua rol kabel, 23 antena, bendera Fretelin, tiga teropong, 10 kaset video, satu dos obat-obatan dan bahan makanan, dokumen, bom rakitan, ransel, tiga sepatu ABRI, tiga pasang baju TNI, 12 celana loreng, tujuh peti kosong, beberapa foto pimpinan GPK seperti David Alex, Matan Ruak dan Cesario Haksolok.

Tiga anggota GPK yang tewas di Manulai itu sempat dibawa kabur ke hutan oleh anggota GPK lainnya yang berhasil lolos dalam penyergapan malam itu.

Ia menambahkan, tiga pucuk stengun itu digunakan GPK ketika membunuh Pratu Amandio Coreia, istri dan anaknya dua pekan lalu di markas tersebut. Keberadaan markas GPK di tengah kampung merupakan petunjuk bahwa GPK semakin cerdik melakukan aksi-aksi yang merugikan
masyarakat. Kasdam mengharapkan, masyarakat agar segera melaporkan kepada pihak berwajib jika mengetahui ada kegiatan GPK di daerah itu. Hal itu penting agar petugas keamanan bisa segera mengambil langkah-langkah pengamanan. (kor)

Kejadian ini berhasil saya konfirmasi dengan seorang pelaku penyergapan ini.Pelaku sekarang bertugas di Koramil Tawangsari Sukoharjo berpangkat Kopral Satu.Daerah kejadian ada di sektor Timur yang masih rawan adanya GPK Fretilin.Sang kopral yang aslinya dari Jogja berhasil saya ajak ngobrol ketika sedang istirahat ketika kami sedang latihan di Korem Solo.

Bunker tersebut ada sebuah rumah yang tiap hari dilalui oleh truk atau patroli TNI saat itu.Jadi saat penyergapan pihak lawan berhasil mendahului menembak sehingga timbul korban gugur di pihak TNI.

ENAM GPK FRETILIN DITEMBAK MATI
Dili, Kompas
Komandan Komando Resort Militer (Korem) 164/Wira Dharma (bukan 164/Wijaya Kusuma sebagaimana ditulis Kompas (26/1), Kolonel (Inf) Mahidin Simbolon mengatakan, tim gabungan ABRI di Timor Timur (Timtim) Kamis (25/1) dan Jumat (26/1) menembak mati enam anggota Gerombolan Pengacau Keamanan (GPK) Fretilin dan menangkap hidup seorang anggota GPK dan seorang anggota klandestin (gerakan bawah tanah).

“Dari tangan mereka, berhasil dirampas dua pucuk senjata M-16 A1, satu pucuk senjata jenis SP-1, satu pucuk senapan angin, dua magazen M-16 A1 dan satu magazen SP-1,” kata Simbolon ketika ditemui wartawan di sela-sela acara pisah kenal, Kepala Stasiun (Kepsta) RRI Regional I Dili yang lama, Paul Jusuf Amalo dan Kepsta RRI Dili yang baru, Sudung Parlindungan Tobing di Dili, Sabtu (27/1).

Danrem ketika itu didampingi Kapen Korem 164/Wira Dharma, Kapten CAJ L. Djoko Purwadi mengatakan, peristiwa itu terjadi di dua wilayah, yakni Atsabe, Kabupaten Ermera sekitar 80 km arah barat Dili. Selain itu di Dilor, Kabupaten Viqueque, sekitar 200 km arah timur Dili. Dua wilayah itu katanya, dikenal sebagai sarang GPK Fretilin.

Baku tembak
Menurut Simbolon, tim gabungan ABRI dalam operasi buru GPK di Atsabe, Kamis (25/1) bergerak pada pukul 4.30 Wita, di bawah komando Serda Mukadi. Tim yang beranggota 12 orang sempat baku tembak dengan GPK. Akibatnya, kata Simbolon, seorang anggota GPK, Kristovao alias Aracabia (30) tertembak mati. GPK Martino alias Aranluli (34) serta seorang anggota klandestin tertangkap hidup.

Anggota klandestin itu, lanjut Simbolon, dikembalikan kepada keluarganya setelah diberi pengarahan oleh aparat keamanan setempat. Tim di Dilor, Viqueque beranggotakan 20 orang, dipimpin Kapten Inf. Eko S. Mereka berhasil menembak mati lima anggota GPK, namun dua orang lainnya sempat lolos. Mereka yang tertembak mati, Serlau (30), Mau Sino (29), Bento Calma (28) (asisten politik), Jose Pendek (30) dan Robido Onak (33). Dalam baku tembak GPK Fretilin-pasukan ABRI di dua wilayah tersebut, kata Simbolon, tidak seorang pun dari tim yang terluka. Menurut Simbolon, sejak April 1995 hingga Januari 1996, tercatat 32 anggota GPK di Timtim berhasil dilumpuhkan. Ada yang tertembak mati, menyerahkan diri dan ditangkap hidup.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s