Australia dan UNAMET Dalangi Kecurangan Referendum Timor Timur

2327585_20131118032556 2327585_20131118032723Berdasarkan sumber di http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1999/10/11/0154.html yang diterbitkan pada Oktober 1999 di sebuah milis, terdapat data bahwa Australia dan Unamet terlibat kecurangan dalam lepasnya Timtim dari NKRI. Lagi, dalam duni yang mengglobal ini, tidak ada yang pantas ditutup-tutupi lagi……

Berikut beberapa petikannya….

  1. Operasi intelejen Australia tidak hanya berhenti disana. Opsir Australia
    di Unamet secara intensif membangun kontak dengan Falintil, dan memasukkan
    aktivis-aktivis Falintil untuk mendominasi organisasi UNAMET. Maka tidak
    heran bila referendum itu kemudian dipenuhi oleh kecurangan, yang secara
    sistematik dilakukan oleh UNAMET yang disusupi intel Australia. Kecurangan
    ini tidak pernah diakui oleh UNAMET dan Australia sendiri. Seorang pejabat
    UNAMET malah dengan sinis mengatakan, “Pemilu Indonesia juga tidak pernah
    jujur, mengapa referendum TImtim harus jujur?” Kalau Australia secara moral
    tidak berani mempertanggung-jawabkan kejujuran pemilu itu, mengapa Australia
    merasa berhak menuntut semua orang harus puas terhadap pemilu itu? Kalau
    yang tidak puas itu kemudian meledakkan perang, mengapa Australia berpikir
    bahwa itu tindakan keliru?
  2. Catatan intelejen Indonesia menyebutkan bahwa selama masa pra-referendum,
    pesawat helikopter Australia melakukan sejumlah penyusupan ke wilayah
    Timtim. Akibat dari penyusupan ini Falintil berhasil memiliki sejumlah
    peralatan komunikasi canggih, termasuk telepon satelit yang menggunakan
    satelit militer Australia sebagai wahana penghubungnya. Mengenai pelanggaran
    wilayah udara ini Indonesia telah mengajukan protes, namun sama sekali tidak
    mendapat tanggapan dari Australia.
  3. Jauh hari sebelum referendum dilaksanakan Australia menyelenggarakan
    latihan perang sangat intensif. Latihan perang ini diakui sebagai antisipasi
    apabila Australia terlibat lebih dalam dalam upaya memerdekakan Timtim.
  4. PEMERINTAH AUSTRALIA SECARA SISTEMATIS DAN TERENCANA TELAH MENCIPTAKAN DAN
    MENJALANKAN SUATU SKENARIO UNTUK MELEPASKAN TIMTIM DARI INTEGRASINYA DENGAN
    INDONESIA.
  5. Pemerintah Indonesia tidak dapat dipersalahkan atas meledaknya kerusuhan di
    Timtim. Anda harus ingat, Timtim masih berada dalam kondisi perang. Ada
    gerilya bersenjata anti-integrasi yang sangat aktif dipimpin oleh Falintil,
    berhadapan dengan pasukan bersenjata pro-integrasi. Referendum itu tidak
    berarti apa-apa apabila sebelumnya tidak diselenggarakan perlucutan senjata.
    UNAMET berperan setengah hati dalam perlucutan senjata ini. Yang jelas,
    hampir tidak ada senjata Falintil yang diserahkan kepada UNAMET. Lalu, atas
    dasar apa anda berharap bahwa tidak akan ada lagi kekerasan pasca
    referendum?
  6. sangat memahami sulitnya psikologi prajurit TNI menghadapi ekses dari
    kemarahan kubu pro-integrasi. Dalam hal ini SAYA MENDUKUNG PRAJURIT TNI
    UNTUK TIDAK MENGAMBIL RESIKO ATAS JIWA MEREKA DENGAN MEMERANGI PIHAK YANG
    JUSTRU TELAH DIPERLAKUKAN SECARA TIDAK ADIL OLEH AUSTRALIA DAN UNAMET.
  7. Sudah tentu, Indonesia mengharapkan agar rakyat Timtim terus bergabung
    dengan Indonesia. Tetapi saya mendapat kesan, banyak orang Indonesia
    sudah lupa bahwa Perdana Menteri Australia John Howard, pada 11 Maret,
    juga menganjurkan supaya rakyat Timtim memilih otonomi, bukan
    kemerdekaan. Dari segi kepentingan Australia, yang selalu mementingkan
    hubungan baik dengan Indonesia, sudah tentu lebih mudah jika rakyat
    Timtim menerima tawaran otonomi. Selain itu, barangkali dikhawatirkan
    bahwa Australia akan terpaksa menanggung beban ekonomi yang berat jika
    Timtim menjadi merdeka.
  8. Akhirnya, atas segala penderitaan yang dialami oleh rakyat Timtim, saya
    berpendapat bahwa pihak yang bertanggung-jawab adalah:
    1. AUSTRALIA karena negara inilah yang pada dasarnya telah mengatur skenario
    yang berakibat penghancuran Timtim secara fisik maupun psikologis.
    2. UNAMET karena telah bertindak tidak konsisten dengan tidak dilucutinya
    persenjataan pihak-pihak yang bertikai dan membiarkan terjadinya kecurangan
    secara sistematis, sebelum dan selama referendum.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s