Re-integrasi Timor Leste ke Indonesia ?

nhthy

Oleh

Sucipto Ardi

Selalu saja ada yang menarik tentang Timor Leste bagi saya. Selasa, 7 Oktober 2014, di sela-sela perayaan HUT TNI di Pelabuhan Ujuang, Koarmatim Surabaya, Xanana Gusmao berkeinginan agar Timor Leste kembali ke pangkuan Ibu Petiwi. Perdana menteri ini menyatakan: “Timor Leste harus bergabung dengan Indonesia, kami butuh pemimpin baru,” Setelah 15 tahun pisah dari Indonesia yang telah ber-integrasi selama 24 tahun (1975-1999), kini Timor Leste ingin gabung dengan NKRI lagi.

Melihat pernyataan dari seorang Xanana itu menimbulkan beberapa pertanyaan?. Apakah pernyataan tersebut adalah mewakili pemerintah Timor Leste?, mewakili rakya Timor Leste ?, atau sekedar pendapat pribadi ?, apa maksud dibalik pernyataan Xanana yang ingin re-integrasi ke Indonesia ?, kenapa Xanana membuat pernyataan tersebut ? bagaimana bisa pernyataan ingin “kembali lagi” keluar dari kepala pemerintahan tertinggi Timor Leste ?

Seperti yang diketahui, Xanana Gusmao adalah perdana menteri, beliau adalah “jendral-nya” sebuah pemerintahan. Bisa dibilang, dia-lah corong resmi kebijakan pemerintah secara lisan. Xanana mondar-mandir di pucuk-pucuk kepemerintahan dan kenegaraan Timor Leste sekitar 12 tahun belakangan ini, tepatnya sejak tahun 2002 ketika Timor Leste resmi mejadi Negara sendiri.

Beliau dulunya amat ngotot ingin pisah dengan Indonesia, dan begitu cinta dengan negaranya, hidup dan mati dipersembahkan untuk Timor Leste, untuk rakyat bumi Lorosae. Kini, persembahannya untuk membangun Timor Leste agar rakyatnya sejahtera dan dapat disejajarkan dengan bangsa-bangsa lainnya. Kenyataannya, selama 15 tahun pisah dengan Indonesia, pembangunan tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Mengutip hasil pengamatan Nasrulzaman, mahasiswa Program Doktoral pada Community Development Program UNS Surakarta, saat mengunjungi Dili tahun 2013 lalu, “ Anggaran pembangunan (Timor Leste) sekitar Rp 17 triliun untuk tahun 2013 ini diperkirakan hanya mampu menutupi biaya rutin pemerintahan, subsidi pangan, tunjangan hari tua bagi warga yang berumur >60 tahun, dan tunjangan bulanan bagi mantan kombatan, membayar listrik gratis warga, pendidikan gratis SD-SMA, dan makanan tambahan siswa. Oleh karena itu, alokasi untuk pembangunan infrastruktur masih sangat terbatas atau minim”.

Berdasarkan data tersebut, dapat diyakini bahwa meretas pembangunan bukanlah barang yang murah. Sementara sumber daya alam yang utama dan diprioritaskan negara bersandar kepada Celah Timor. Eksploitasi dan ketersediannya, mengundang permasalahan baru dan kebermanfaatannya yang tidak terlalu lama untuk mengembangkan sebuah negara baru. Sumber daya manusia Timor Leste pun demikian, masih pada tahap merangkak, banyak pelajar dan mahasiswa yang dikirim belajar ke luar negeri, termasuk yang terbanyak adalah ke Indonesia. Layaknya sebuah negara baru, seharusnya pembangunan infrastruktur berlangsung kontinu, akan tetapi yang kini berlangsung di Timor Leste, tidaklah segencar saat seperti ketika dulu bersama Indonesia, bahkan gedung-gedung peninggalan Indonesia masih digunakan untuk kebutuhan menjalankan roda pemerintahan. Penggunaan mata uang Rupiah dan Bahasa Indonesia masih langgeng.

Di bidang ekonomi dan sosial, biaya hidup tergolong tinggi. Mata uang Dollar yang diutamakan pengenggunaannya seakan tidak mampu membuat rakyat sejahtera, cerita seorang teman tentang bagaimana orang Timor Leste mencari makan dengan mengais-ngais sampah, dan bagaimana susahnya makan di masa sekarang yang oleh kombatan Fretelin disebut sebagai jaman merdeka, ini mengusik rasa kemanusian terlebih dulunya mereka pernah satu atap dengan Indonesia, khususnya kedekatan kekerabatan dengan warga Nusa Tenggara Timor. Pola hidup yang gemar minum-minuman keras hingga ambruk di pinggir jalan, sampai kini masih menjadi pemandangan khas orang Timor Timur, dan keamanan pada malam hari di jalan-jalan utama masih rawan.

Melihat kenyataan ini adalah tidak berlebihan jika selama 15 tahun pisah dengan Indonesia, kesejahteraan tidak kunjung tiba. Pemerintahan Timor Leste mengalami kesulitan membangun setelah menyatakan merdeka melalui referendum tahun 1999. Resiko menjadi negara gagal yang menyengsarakan rakyat dan merusak negara, menjadi pemikiran Xanana, rakyat tidak boleh jatuh pada lubang yang sama bahkan yang lebih luas serta dalam. Boleh jadi inilah yang melatari pernyataan Re-integrasi Timor Leste ke Indonesia.

Diluar itu semua, pernyataan Xanana bisa mengandung pesan politis, baik itu untuk ke dalam dan ke luar negeri Timor Leste, atau Xanana butuh panggung baru ?..ataukah permaian awak media ?….terkait kisruh pemilihan ketua-ketua di parlemen antara KMP vs KIH ?….mmm hhh rasanya ngak mungkin Xanana berkeinginan re-integrasi ke Indonesia….Who knows ?….

 

Sumber:

kompasiana, lensaIndonesia, Tm2000Back, gebraknews,  metrotv,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s