Catatan Dari Film Everest Untuk Para Pendaki Gunung

images

Rob Hall…

everest-trailer-movie_h

“Manusia selalu mencoba bersaing dengan gunung dan gununglah yang selalu menjadi pemenang” Anatoli Boukreev

Sebelas tahun lalu saya membaca Into Thin Air karya Jon Krakauer dan pada saat itu pula saya membatin, suatu saat buku ini pasti akan menjadi film Hollywood. Barulah di tahun 2015, film yang berdasar rilis, Everest. Memang film ini tidak sepenuhnya mengadaptasi buku Into Thin Air, justru menambahkan dengan sumber-sumber lain, termasuk buku bantahan dari Anatoli Boukreev, The Climb. Poin bagus film ini adalah film ini mencoba objektif dengan kejadian yang terjadi di Everest tahun 1996 dan tidak menyandarkan pada satu sumber saja.

Tahun 1996 memang menjadi tahun yang kelam dalam sejarah pendakian Everest. Di musim pendakian, sekian puluh rombongan ingin menggapai puncak, mulai dari kelompok yang dipimpin Rob Hall, Adventures Consultant. Scott Fischer yang memimpin grup Mountain Madness. Hingga kontingen negara seperti Taiwan dan Afrika Selatan, semuanya berlomba untuk menggapai puncak tertinggi di dunia.

Dari sinilah inti film dimulai, banyaknya tim yang ingin menggapai puncak, tergambar dari riuhnya Everest Basecamp. Munculnya konflik satu sama lain yang membuat infrastruktur banyak yang terlupa untuk disiapkan, badai yang tiba-tiba datang dan banyaknya korban saat pendakian, terbanyak dalam setahun di dekade tersebut. Tragedi Everest 1996 inilah yang membuka mata dunia tentang komersialisasi gunung.

Ya, dari apa yang Toli, panggilan Anatoli di film tersebut memang benar adanya. Manusia tak bisa menang dari gunung, memang gunung bisa ditaklukkan sampai puncak, namun demikian dalam segala hal, manusia harus berkorban banyak hal untuk mencapai puncak.

Salah satu scene ketika Rob Hall memimpin pendakian di Film Everest. source : mmc-news.com

Alur film ini dibangun dengan ego masing-masing, ego untuk menggapai puncak Everest dengan berbagai tujuannya. Ada yang ingin memotivasi anak-anak di kampungnya, ada yang ingin mencapai 7 puncak dunia untuk menggenapi 6 yang sudah dicapai sebelumnya, ada yang mencari kedamaian. Semua menuju puncak Everest dengan ego masing-masing.

Ada 2 ego besar yang bisa disimak di film ini. Ego Doug Hansen yang harus mencapai puncak Everest di tahun 1996 dan ego Scott Fischer yang memaksakan untuk turut menggapai puncak di tanggal 10 Mei 1996, tanggal yang menjadi latar utama film ini. Kedua ego ini coba diredam Rob Hall, yang menjadi protagonis di film ini. Namun Rob gagal meredam ego tersebut, turut larut dalam ego dan akhirnya tragedi terjadi.

Ego memang masalah utama dalam pendakian gunung. Bagaimana tidak, ego untuk mencapai puncak tertinggi di dunia tentunya mengundang banyak orang untuk datang. Gunung yang dulunya didaki oleh pendaki profesional, karena efek komersialisasi mulai bisa didaki oleh siapa saja.

Adegan menyentuh, mengaduk-aduk emosi sekaligus mengesalkan adalah ketika Toli meminta Krakauer membantu mengevakuasi para pendaki yang tersesat menuju Camp. Alih-alih membantu, Krakauer justru berdalih tidak bisa melihat dan melanjutkan tidurnya di tenda yang dingin. Akhirnya Toli bersusah payah sendiri mengevakuasi para pendaki tersebut.

Dengan jeli film ini menunjukkan bagaimana film ini memberikan gambaran bagaimana sifat manusia ketika di gunung. Objektifitas penonton juga dibenturkan, antara melihat Krakauer yang mementingkan keselamatan diri sendiri atau turut menyelematkan orang lain. Namun setelah buku Krakauer terbit, Into Thin Air dan ditanggapi dengan buku The Climb oleh Toli, kelak keputusan Krakauer untuk tidak membantu Toli ini dikritik banyak orang.

Antrian mendaki Everest. Arsip National Geographic

Kritik terhadap komersialisasi Everest memang muncul pasca tragedi tersebut. Banyak yang kemudian menyalahkan tour operator seperti yang Adventures Consultant atau Mountain Madness yang membuat Everest kemudian menjadi gunung yang sesak pendaki.

Majalah National Geographic Indonesia edisi Juni 2013 pernah menerbitkan liputan khusus tentang sesaknya Everest. Komersialisasi membuat orang-orang berbondong-bondong menggapai puncak Everest. Tercatat karena banyaknya rombongan para pendaki harus antri di Hillary Step selama dua jam sebelum menggapai puncak. Ada 2 sisi mata uang dalam komersialisasi gunung, perekonomian Nepal yang meningkat dari wisata gunung atau sebaliknya alam yang lara karena banyaknya pengunjung, termasuk karena limbah yang dihasilkan oleh pendaki.

Dalam satu adegan di mana Rob Hall mengambil sampah yang dibuang begitu saja oleh para pendaki, film Everest memberi kritik bagaimana sampah mulai meracuni alam Everest. Dan rasanya tak hanya Everest, banyak gunung yang kemudian terkena imbas komersialisasi, terjepit antara kepentingan ekonomi dan ketidaktegasan regulasi, terutama di Indonesia.

Jika diamati benar, film ini memberikan banyak sekali insight tentang naik gunung, teknik pendakian, teknik survival, teknik persiapan sampai manajemen pendakian. Seharusnya para penonton tidak hanya terkagum-kagum menyimak bagaimana gagahnya Everest dan berbungah hati ingin mendaki, simak juga bagaimana detail dan rapinya pembagian tugas yang dilakukan dalam pendakian. Ya, karena pendakian itu tak semata soal menggapai puncak.

Scott Fischer (Jake Gylenhall) - wearemoviegeeks.com

It’s the attitude not the altitude – Scott Fischer

Gunung memang tak hanya dilihat atau diukur berapa tinggi puncaknya, sikap manusia-lah terhadap gunung juga harusnya menjadi catatan. Apakah gunung hanya akan berakhir menjadi objek penaklukkan? Atau bisa menjadi sahabat untuk menggapai jati diri?

Pada film ini catatan tentang persiapan dijelaskan detail, peralatan yang lengkap dengan gear-gear mahal yang membuat mata panas ingin membeli, detail back up plan hingga alternatif rute dan evakuasi dijelaskan dengan gamblang. Tapi itupun tidak menjamin karena alam adalah hal yang tidak bisa ditebak, guguran es yang bisa terjadi setiap menit dan ancaman badai yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Dengan demikian walaupun Rob Hall dianggap sebagai pemimpin Base Camp Everest dan Scott Fischer dianggap sebagai rubah gunung, hal itu tidak menihilkan resiko. Alam bisa diantisipasi, tapi kekuatan alam tidak bisa dihentikan. Dengan perlengkapan yang lengkap, skill pendakian yang mahir sampai kemampuan survival tinggat tinggi tak menjamin manusia selamat dari terjangan alam.

Kalau demikian bagaimana dengan para pendaki yang menganggap gunung yang didaki tak setinggi Everest, tidak mengenakan kelengkapan naik gunung yang benar dan bisa berbangga hati karena bisa berfoto tulisan kertas di puncak? Apakah dengan demikian mereka bisa dianggap pendaki gunung yang baik?

Sekali lagi, itu soal Ego, simak kembali, tonton dua kali bagaimana dengan persiapan yang sangat lengkap saja masih ada yang terlewat, seperti terlewatnya Sherpa Longsap membuat jalur tali di Hillary Step atau Sherpa Ang Dorje yang terlewat meletakkan cadangan Oksigen di Puncak Selatan. Jika yang lengkap saja masih terlewat, bagaimana dengan pendaki yang ala kadarnya? Berharap baik-baik saja?

Film ini jika dipahami secara utuh adalah kritik yang lugas tentang komersialisasi gunung. Di luar bagaimana pemandangan yang indah dan/atau alur yang menggelora, film ini memberi satu pesan penting. Mau bagaimanapun alam-lah yang akan menjadi pemenang dan seyogyanya manusia harus mengikuti alam, menghilangkan ego dan tunduk pada alam.

Bagi penggemar petualangan, jangan menyimak film ini seperti menyimak film 5 cm. Level film ini berlangit-langit di atas film 5 cm yang hanya mengumbar pemandangan Semeru dan membuat dedek-dedek gemes termehek-mehek lantas berbondong-bondong datang ke Semeru. Tontonlah film Everest dan belajarlah untuk menjadi pendaki gunung yang bijak.

Kamu membayarku, untuk membawamu turun dengan selamat ke bawah – Rob Hall pada Beck Weathers

Tabik.

NB : Saya menyarankan untuk membaca juga Into Thin Air karangan Jon Krakauer, The Climb karangan Anatoli Boukreev untuk mendapat gambaran tentang film ini.

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s