Ahok Kalah, Warga Jakarta Takbiran

16265388_1734295223252074_4426815523393876332_n

14590312_10154716391419729_1526804631748713239_n.jpg

Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 ini merupakan perhelatan politik yang membekas di diri saya. Bukan hanya karena baru kali ini saya menjadi Ketua KPPS, tetapi nuansa yang timbul. Ahok sang Gubernur yang sulit menjaga lisannya yang kasar, akhirnya melukai banyak ummat Islam. Di Pulau Seribu tahun 2016, dalam rangka kunjungan kerja, Ahok menyatakan bahwa Al Maidah dipakai untuk membohongi warga agar tidak memilih Ahok yang non muslim. Sontak, seantero Indonesia protes, ummat Islam yang selama ini tertidur, langsung terperanjat. Membela agama, kemudian telah menggelorakan, khususnya warga Jakarta, tak terkecuali non muslim.

Saya mengikuti perkembangannya, baik itu di TV, koran, WA, dan FB. Bagi saya, Pilkada ini bukan sekedar pertarungan politik, akan tetapi lebih dari itu : Jihad. Berusaha sekuat tengan berusaha menjalankan perintah Allah yang tegas tertuang di Al Maidah 51. Saya memilih Anis-Sandiaga, sudah barang tentu dapat pahala karena menjalankan syariat Islam. Saya bukan kafir, bukan pula munafik, ataupun rasis. Sekalipun Ahok seorang muslim, saya tidak akan memilihnya.

Tanggal 15 Februari 2017 (Putaran 1) dan 19 April 2017 (Putaran 2), saya mengajak isteri, ibu, dan asisten rumah agar memilih no.3. Gelora jihad ini, dilengkapi oleh kakak saya yang diluar kota dengan menyempatkan datang ke Jakarta untuk Anis-Sandiaga. Kata beliau, saya ngak pernah ikut nyoblos di pemilu, ini karena melawan orang kafir saja saya mau (nyoblos). Semoga kakak ku ini mendapatkan pertolongan Allah. Aamiiin.

Menjelang dan saat pelaksanaan Putaran 2, isteri selalu bertanya. Siapakah yang menang ?, dengan yakin saya menjawab : Anis !. Allah mengabulkannya. Ahok kalah dibawah Anis dengan marjin 15 persen !. Allah telah memuliakan ummat ISlam di Jakarta.

Pilkada rasa lebaran, itulah status yang tertera di FB saya. Benar-benar serasa perang dalam pilkada kali ini. jam 8-9-10 pagi, terdengar lantunan adzan, dan ketika ba’da Ashar, di saat quick count menunjukkan 70 persen, dan sudah ada pernyataan kemenangan, maka ramailah udara Jakarta dengan gema takbir. Sepulang ke rumah jam setengah 5, air mata menetes saat sholat Ashar. Takbir terdengar menyatakan kegembiraan akan wujud kemenangan, persis takbiran sebagai pernyataan kemenangan melawan hawa nafsu (saat puasa di bulan Ramadhan). Alhamdulillah, saya masih diberikan semangat keislaman di dalam hati ini….

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s