Asal usul konflik Xanana dan Mauk Moruk

Xanana Gusmão, di antara para anggota Dewan Control, berbicara kepada para gerilyawan di Kamp Gattot, pada saat gencatan senjata dengan Pasukan Indonesia. Kiri ke kanan: Ologari Aswain, Wakil Komandan Brigade Merah, Mauk Moruk, Komandan Brigade Merah; Bere Laka Malai, Sekretaris DIAP (Departemen Informasi dan Propaganda) dan Sekretaris Daerah Nakroman; Mau'Hodu, Komisaris Politik; Kilik, Kepala Staf Falintil; Lere Anan Timur, Komisaris Politik dan Sekretaris Region Funu Nafatin - Ponta Leste; Ma'Huno, Komisaris Politik dan Sekretaris Region Haksolok Region-Frontier dan; di latar depan: dengan perekam Salvador Monteiro (Bill Hall ), Komandan Detasemen pada bulan Maret 1983. [Sumber: Timor Archive]

Matheos Messakh
Satutimor.com/WAINGAPU

Sejak akhir tahun lalu konflik antara Paulino Gama dan Xanana Gusmao menjadi konsumsi publik Timor Leste. Konflik antara mantan komandan dan mantan panglima Falintil ini mencuat ke publik setelah Gama berbicara keras dalam sebuah seminar yang diselenggarakan Universita Nasonal Timor-Leste (UNTL) Dili di bulan Oktober 2013, menyerukan ‘revolusi’ anti-kemiskinan dan menurunkan pemerintahan Xanana.

Paulino Gama yang dikenal dengan nom de guerre ‘Mauk Moruk Ran Nakale Lemorai Teki Timor’ ini mengklaim pemerintahan yang sekarang gagal dan menuntut Timor Leste kembali ke Konstitusi 1975, saat Negara ini baru dimerdekakan dengan deklarasi Kemerdekaan Fretilin.

Ia bahkan menantang Xanana berdebat namun kemudian tantangan debat yang telah diterima Xanana dan dijadwalkan pada 11 November 2013 itu tidak terjadi karena Gama tidak hadir dengan alasan ia tidak setuju dengan moderator debat yaitu Presiden Timor Leste, Taur Matan Ruak.

Beredar foto-foto terbaru yang menunjukkan anggota dari organisasi bentukan Mauk Moruk, KRM, berbaris dalam seragam dan atribut militer di daerah Baucau, memancing tanggapan serius pemerintah yang langsung melarang penduduk sipil menggunakan seragam militer. Provokasi ini tentu saja menarik perhatian publik. Penduduk Timor-Leste telah berkonflik dan sangat waspada terhadap gangguan seperti ini. Sangat mungkin strategi Mauk Moruk adalah untuk menargetkan para pemuda yang semakin kehilangan hak-haknya dan gampang dieksploitasi. Moruk mungkin ingin mengisi kekosongan yang diakibatkan oleh larangan terhadap kelompok bela diri dengan warisan klandestin dan keterlibatan dalam kekerasan tahun 2006.

Namun siapa sebenarnya Paulino Gama dan mengapa ia berani berkonflik secara terbuka dengan sang Perdana Mentri Timor-Leste? Seberapa besar peluangnya memperoleh dukungan publik untuk memaksakan agendanya?

***

Konflik antara Xanana dan Mauk Moruk sebenarnya adalah konflik lama yang melibatkan perbedaan ideology di antara kedua mantan anggota Komite Sentral Fretilin ini. Xanana telah keluar dari Fretilin dan demikian juga Mauk Moruk namun keduanya punya perbedaan tafsiran terhadap perjuangan kemerdekaan yang dipicu oleh reformasi gerakan perjuangan oleh Xanana yang dimulai awal tahun 1980-an pasca meninggalnya hampir semua anggota Komite Sentral Fretilin termasuk Perdana Mentri Nicolau Lobato  di tahun 1978.

Kematian Lobato benar-benar merupakan pukulan untuk gerakan perlawanan. Mereka yang masih bertahan kelihangan kepemimpinan, koordinasi, dan struktur. Kelompok-kelompok gerilya terceberai dan semua anggota Komite sentral terbunuh, kecuali Mau Hunu.

Karena gagal menemukan para anggota Komite Sentral lainnya yang selamat, dan dengan tertangkapnya Txay, Sera Key, dan Solan oleh ABRI, maka pada tahun 1980 Xanana Gusmão memutuskan untuk mengambil alih kepemimpinan dan mengorganisir sebuah pertemuan nasional Fretilin.

“Saya memutuskan [ini] pada bulan September…karena saya tahu bahwa semua anggota Komite Sentral telah mati…tidak ada yang lebih senior dari saya, kecuali Mau Hunu. Tapi saya mengenalnya, jadi saya memutuskan untuk mengambil alih agar kami bisa melakukan reorganisasi,” kata Xanana.[1]

Xanana Gusmão bermaksud mengkonsolidasikan dan merestrukturisasikan gerakan perlawanan sebagai sebuah perang gerilya, yang didasarkan atas berbagai pelajaran dari pengalaman, maupun teori:

“Sejak 1979 kami berusaha mempelajari perang gerilya dan bagaimana menerapkannya di Timor. Kami belajar tentang perang di Vietnam, perang di Kuba, macam apapun dari [perang] gerilya, kami pikir perang-perang itu tidak akan cocok karena kondisi-kondisinya berbeda. Itulah sebabnya mengapa pada tahun 1979, kami menghabiskan waktu satu tahun untuk mempelajari bagaimana perang gerilya [seharusnya dilakukan]. Dari sini kami melakukan reorganisasi, apa yang bisa kami lakukan dengan [kelompok-kelompok] gerilya kecil, merencanakan aktivitas politik, aktivitas militer, dan bagaimana keduanya saling berhubungan.”[2]

Berdasarkan kontak-kontak Antara kelompok-kelompok yang terceberai sepanjang tahun 1979-1980, pada bulan Maret 1981 gerakan perlawanan menyelenggarakan sebuah “Konferensi Reorganisasi Nasional” di Maubai, Lacluta.[3]

Struktur serta kepemimpinan politik dan militer Gerakan Perlawanan direorganisasi, dan Dewan Revolusioner Perlawanan Nasional (CRRN) pun dibentuk untuk mengendalikan keseluruhan Gerakan Resistensi ini.[4] CRRN dimaksudkan untuk menjadi sebuah forum payung bagi semua elemen pro-kemerdekaan, bukan hanya Fretilin, dan merupakan langkah signifikan untuk menjauh dari kebijakan garis keras tahun 1977 ketika Fretilin dinyatakan sebagai sebuah partai Marxis-Leninis (Partido Marxista-Leninista Fretilin, PMLF), serta menuju persatuan nasional.[5]

Xanana Gusmão dipilih untuk menempati semua posisi pimpinan: Komisaris Politik Nasional PMLF, Panglima Besar Falintil dan Presiden CRRN.[6] Sebuah Komite Sentral baru pun dibentuk,  yang terdiri atas para pemimpin baik yang ada di Timor-Leste maupun yang di luar negeri.[7]

Dalam Komite Sentral yang baru ini Paulino Gama diangkat sebagai anggota oleh Xanana.  Selain Gama, anggota-anggota Komite Sentral di dalam negeri yang diangkat adalah Xanana (Comissario Política Nacional), Mauhunu, Mau-hodu, Bere Malae Laka, Kilik Wae Gae (Reinaldo Correia), Nelo (Dinis Carvalho), Sakinere, Holy Natxa, Lere Anan Timor (Tito da Costa), Harin dan Mauk Moruk (Paulino Gama). Anggota-anggota yang diangkat di luar negeri  adalah Abílio Araújo (Sekretaris Umum), Márí Alkatiri, Roque Rodrigues, José Luís Guterres, Guilhermina Araújo, José Ramos-Horta dan Rogério Lobato.

Struktur Falintil dirumuskan kembali, dan para pemimpin baru diangkat.[8]  Sebuah strategi perang gerilya pun diputuskan secara resmi, dimana beberapa ratus pasukan Falintil yang selamat akan menyebar ke seluruh pelosok negeri ini.[9] Karena telah kalah sebagai sebuah kekuatan militer konvensional, maka Falintil bergerak dalam berbagai kelompok gerilyawan kecil yang berpindah-pindah dan tidak lagi berupaya untuk memusatkan kekuatannya dalam berhadapan dengan militer Indonesia. Para gerilyawan didukung oleh sebuah struktur klandestin di daerah perkotaan.

Idenya ialah bahwa sebuah struktur klandestin di bawah CRRN akan beroperasi melalui pusat-pusat Resistensi nasional di tingkat distrik (cernak) dan sel-sel kecil di tingkat desa yang terdiri atas empat sampai tujuh orang (nurep). Untuk mengatur Gerakan Resistensi baru tersebut negeri ini dibagi menjadi tiga kawasan—kawasan Timur, Funu Sei Nafatin (“perjuangan masih berlanjut’’); kawasan Tengah, Nakroma (”cahaya”); dan kawasan perbatasan, Haksolok (“kesenangan”).[10]

Ologari Aswain, Mauk Moruk, Bere Laka Malai, Bad Hudo, Xanana Gusmao, Kilik, Ma'Huno, Lere Anan Timur, Okan Onobú, Rojas Koo Susu, dalam suatu upacara di Kamp Gattot di Bibileu, Viqueque selama gencatan senjata Maret 1983. [sumber: Timor Archives]

Pada tahun 1983, Komite Sentral Fretilin mendeklarasikan persatuan nasional sebagai garis politik resminya.[11] Ini adalah upaya untuk menjembatani permusuhan UDT-Fretilin. Untuk memungkinkan kerjasama multi-partai, Fretilin mengubah beberapa kebijakannya terdahulu yang radikal. Sebagai contoh, pada tahun 1983 Fretilin berpartisipasi dalam sebuah gencatan senjata dan beberapa negosiasi dengan militer Indonesia. Hal ini sebelumnya tidak dibenarkan berdasarkan kebijakannya yang tegas “negosiasi—tidak dan tak akan pernah.”[12]

Perubahan yang lebih drastis terjadi pada tahun 1984, dimana Fretilin menanggalkan ideologi Marxis-Leninis yang telah dideklarasikan pada tahun 1977 dan disertakan ke dalam nama partai itu pada tahun 1981. Dengan tindakan ini, Fretilin mencabut basis sosial-revolusioner dari sikapnya terdahulu demi mendukung sebuah platform nasionalis yang lebih terbuka. Arah baru di bawah payung CRRN ini memperluas platform politik Resistensi dan akhirnya menciptakan oposisi dengan basis yang lebih luas terhadap pendudukan Indonesia.

Namun rupanya perubahan ke arah politik yang lebih moderat ini dipandang oleh kelompok garis keras sebagai suatu kompromi yang tak bisa diterima.[13] Mereka mulai merancangkan gerakan mereka sendiri yang dipimpin oleh Kepala Staf Falintil, Kilik Wae Gae, dan wakilnya yang juga adalah Komandan Brigade Merah (Brigada Vermelha), Paulino Gama.

Tentang “reaksi” itu

Di bulan Mei 1984 Xanana sedang berada di sebuah kamp di Gunung Matebian dan mendapat laporan berkali-kali bahwa Kilik, Moruk dan Olo Gari yang berbasis di wilayah tengah sedang tidak aktif padahal di wilayah lain ABRI ketakutan terhadap Falintil.[14] Xanana tahu ada yang tidak beres.

“Dalam pesan saya, satu tahun setelah [Pembantaian] Kraras, saya terus memperingatkan mereka, mencoba mengemangati mereka melakukan sesuatu, membuat sejumlah rencana, tetapi tidak ada dampak.”[15]

Pada pertengahan tahun 1984 Xanana mengeluarkan pesannya untuk tahun itu, sebuah tulisan kontemplatif yang panjang berjudul, ‘Apa itu Persatuan Nasional?.[16] Pada saat pesan Xanana ini dikeluarkan ia sedang sudah payah bergerak ke selatan,  tiba di Liaruca lagi pada bulan Juni. Ia ke sana untuk mencari tahu masalah-masalah yang dilaporkan dari Zona Tengah dan mengkoordiansi komandan-komandan di zona ini. Ia mengundang para anggota Komite Sentral dan para komandan ke sebuah pertemuan dan mengirim Taur Matan Ruak untuk menjemput mereka. Namun ia menerima pesan bahwa  “Mauk Moruk dan anggota lainnya sedang bertemu di sebelah utara Barique” di daerah yang disebut Hudi Laran.

“Mereka tahu bahwa saya datang untuk menegur mereka sehingga mereka tidak mengirim kurir untuk menjemput saya. Sepanjang Juni dan Juli kami terus menunggu dan menunggu mereka. Matan Ruak  mendatangi saya di Liaruka dan melaporkan kesalahan-kesalahan mereka, ketidakmampuan mereka dalam komando, startegi dan perencanaan dan bahwa mereka menolak untuk berbicara dengan saya. Mauk Moruk telah pergi ke Same dan Kilik ke Fata Balu. Saya mengetahui kemudian bahwa mereka menyebut saya pengkhianat revolusi pada pertemuan di Hudi Laran karena pembicaraan saya dengan mereka tentang pluralisme selama gencatan senjata, tapi mereka mengatakan ini untuk menutupi kritisisme saya tentang strategy-strategy militer mereka sehingga mereka mengutuk saya dengan cara politik. Mereka mengatakan bahwa meskipun mereka menganggap saya sebagai seorang nasionalis yang dapat diterima sebagai bagian dari perlawanan, saya telah merubah ideologi dasar, dan itu memang benar. Mereka menganggap dirinya revolusionaris sejati, penerus para pendahulu kami. Mereka menyebar untuk meyakinkan kompi-kompi lain di sebelah barat daya tentang pendapat mereka ini, dengan mengatakan bahwa saya telah merubah segala sesuatu dan mungkin saya telah dipengaruhi dalam percakapan-percakapan selama gencatan senjata. Mauk Moruk mencoba untuk meyakinkan para komandan militer, dan Lere, sang Komisaris Politik, seorang anggota Komite Sentral di Ainaro-Same.”[17]

Xanana juga mengatakan bahwa dalam periode ini para pemimpin mempunyai komitmen yang sangat kurang atas kewajiban-kewajiban mereja. Menurutnya sebuah organisasi tidak dapat diukur dari strukturnya tetapi dari agen-agen perorangan dan tingkatan tanggungjawab dan komitmen mereka.[18] Karena itu ia memutuskan untuk merubah kepemimpinan. Karena lelah dan lama menantikan tanggapan ia mengundang diadakannya sebuah ‘Pertemuan reorganisasi’ di Liaruca pada bulan September 1984.

“Saya masih berhubungan dengan komandan-komandan kompi di wilayah tengah bagian timur dan banyak kader-kader politik lainnya dan saya merasa kami tak bisa menanti lebih lama lagi karena kami perlu mempersiapkan kekuatan kami untuk aksi. Pada bulan September saya mengadakan pertemuan di pantai selatan antara Sungai Dilor dan Sungai Luka. Saya mengundang Kilik, Moruk, semua komandan kompi dan kader-kader politik dari wilayah tengah bagian timur. Matan Ruak bertemu beberapa orang yang mengatakan mereka akan datang namun mereka tidak muncul. Kilik berkata ‘ya’ tapi tidak juga datang dan malahan pergi ke Same untuk bertemu Mauk Moruk, mencoba meyakinkan para komnadan di sana bahwa saya adalah seorang pengkhianat.”[19]

Bere Laka Malai, Sekretaris Departemen Informasi, Agitasi dan Propaganda; Bad Hodu, Komisaris Politik dari Brigade Merah; Xanana Gusmao, Panglima Falintil; Kilik, Kepala Staf Falintil; Ma'Huno, Komisaris Politik Region Haksolok dan Mauk Moruk, Komandan Brigade Merah, menunjukkan persenjataan yang disita dari tentara Indonesia di kamp Gatott, daerah Bibileu pada bulan Maret 1983. [Sumber: Timor Archive]

Xanana menekankan ketidakmampuan militer Kilik dan Moruk, namun pandangan ini tidak pernah dibenarkan di kalangan gerakan perlawanan. Kilik dan Moruk terkenal sebagai komandan yang tangguh dan kemungkinan karena oposisi terhadap kepemimpinan Xanana dan reformasi politiknya yang menyebabkan kebuntuan militer ini.

Pada tanggal 4 September, sebuah resolusi dihasilkan dalam pertemuan di Liaruca untuk restrukturisasi para komandan militer secara menyeluruh, dan juga ‘remodeling radikal’ dari CRRN dan Komite Sentral Fretilin. Kilik dan Moruk dan tiga orang lainnya dikeluarkan dari anggota Komite Sentral Fretilin karena mereka mencoba “menghasut kekuatan-kekuatan yang tidak mengakui mereka sebagai Komite Sentral dalam pertemuan Hudi Laran.” [20] sebagai Panglima, Xanana juga mengangkat dirinya menjadi Kepala Staff Falintil.[21] Ia yakin bahwa tekanan “situasi perang” mengharuskan hal ini.[22] Restrukturisasi ini mementalkan para pemimpin politik maupun militer dari para pemberontak.[23]

Xanana mendeskripsikan apa yang dibuat kelompok Hudi Laran sebagai “reaksi.” “Reaksi” Kelompok Hudi Laran berakhir tragis: kilik dikabarkan bunuh diri atau tewas dalam pertempuran, sedangkan Mauk Moruk melarikan diri dan akhirnya menyerah kepada tentara Indonesia.

“Kilik akhirnya bunuh diri karena aksi-aksi dan tuduhan-tuduhan politik mereka tidak diterima. Ia menembak dirinya sendiri karena persoalan psikologis. Ia adalah jenis manusia yang ingin terus membalas dendam, yang tidak bisa menerima kelalaian dan kesalahannya.[24]

António Campos yang tergabung dalam platon gabungan dari perwakilan tiga region militer yang dikirim Xanana untuk melucuti para pemberontak, mengatakan bahwa Kilik menghilang dan Moruk ditemukan, “ia tidak punya pendukung….[dan] berhasil melarikan diri dengan empat pucuk senjata dan akhirnya menyerah kepada Indonesia.”[25] Menurut sebuah wawancara dengan Mario Carasscalao, ketika Gama menyerah kepada Widya Sugito di tahun 1984 [sic 1985], Komandan Sugito memberinya pakaian Mayor dan membawanya kemana-mana dan membanggakannya.[26]

Komandan gerilya yang lain yaitu Matan Ruak, Lere Anan Timor, saudara Moruk sendiri Cornelio Gama, dan Lu Olo melaporkan bahwa Kilik terbunuh dalam pertempuran melawan Indonesia.[27] Moruk sendiri menjelaskan bahwa setelah “..perbedaan-perbedaan dengan rekan-rekan komandan tentang strategi yang tepat untuk pembebasan tanah air kami, saya memutuskan untuk turun gunung dan bergabung kembali dengan orang-orang di daerah yang dibawah kontrol Indonesia, dan sebagai tahanan politik, saya dideportasi ke Jakarta pada 2 Februari 1985 dimana saya ditahan di tahanan isolasi dari Bagian Psikiatri Rumah Sakit Angkatan Darat Jakarta sampai 9 September 1989. Saya kemudian diurus oleh beberapa organisasi kemanusiaan dan hak asasi nasional dan internasional, antara lain ICRC dan JRS, sebelum tiba di Lisbon pada 1 Oktober 1990” [28]

Gama menderita trauma serius karena pembunuhan kejam terhadap istri dan anak-anaknya dan karena penahanannya di rumah sakit tentara dimana mereka mencoba meracuninya. Mula-mula ia bekerja dengan Horta dan perlawan internasional di Lisbon, ia menarik diri dan tinggal di Amsterdam. Pada 13 Juli 1994 Gama membuat statement pro-integrasi kepada PBB dan menjadi sekutu Indonesia.[29] Gama menuduh bahwa Xanana mengambil bagian dalam eksekusi dan pembantaian yang dilakukan Fretilin, dan secara lebih khusus Xanana memerintahkan pembunuhan Kilik pada 24 September 1984 meskipun hanya beberapa orang yang menganggap serius tuduhannya ini.[30] Tuduhan-tuduhan ini tetap ia layangkan hingga kini.

Moruk dan pengikut-pengikutnya dalam sebuah pertemuan baru-baru ini [sumber: http://www.diariutimorpost.tl/]

Pasca menyerahnya Moruk dan terbunuhnya Kilik, Xanana memulai cengkraman yang kuat atas komando. Ia mulai menolak ideologi-ideologi Marxist dari era para pendahulunya dan memulai langkah kearah melibatkan non-partisan dari segala keyakinan politik dalam sktuktur perlawanan nasional.  Walaupun Xanana menyebut “menipisnya opini-opini revolusioner” sejak tahun 1982 [31] ia menulis bahwa di tahun 1984 mereka merasa berkewajiban secara politik untuk merubah ideology, meskipun sulit dilakukan dan deklarasi Fretilin sebagai partai Marxist masih kuat bertahan.[32]

“Saya sendiri mendirikan sebuah partai Marxist-Leninist, merubah gerakan Fretilin menjadi sebuah partai [di tahun 1981], tapi segera saya sadar bahwa ideology tidak melayani kami. Sehingga kami merubah pemikiran kami yang sebelumnya dan memampukan Fretilin untuk mendapatkan kembali karakter nasional yang mula-mula…jika anda bertanya apa filosofi politik saya, [filosofi itu] hanyalah pembebasan negara saya.[33]

Xanana telah melepaskan rhetorika revolusi, yang mana ia tidak pernah diyakinkan, dan lebih memilih visinya sendiri tentang pembebasan nasional tanah air dan rakyat, yang akan bebas memilih keyakinan politik mereka. Namun pembersihan kelompok garis keras oleh Xanana  ini dapat dilihat sebagai asal muasal perseteruannya jangka panjangnya dengan Fretilin.

***

Sejauh ini, rhetorika Moruk masih tinggal rhetorika. Seberapa sukses ia dan organisasinya akan memperoleh dukungan populis masih belum jelas.

Setelah kembali dari Belanda ia membentuk Konselho Revolusaun Maubere (KRM), sebuah dewan organisasi yang menginginkan revolusi dan menurunkan pemerintahan Xanana. Mauk Moruk  sudah tua, setua Xanana sendiri, namun ia tidak sendirian. Saudaranya adalah mantan komandan Falintil dan mantan anggota parlemen Cornelio Gama (yang dikenal dengan non de guerre  L-7 atau Eli Seti), yang di tahun 1990-an membentuk sebuah kelompok clandestine animist Sagrada Familia. L-7 juga memimpin sebuah partai politik kecil Undertim (União Nacional Democrática de Resistência Timorense) yang dibentuk tahun 2005. Mauk Moruk secara terbuka menghubungkan KRM dan Sagrada Familia dan mengajak para intelektual Timor untuk bergabung dengan Sagrada Familia. Apalagi ada juga sebuah kelompok sempalan lain, CPD-RDTL[34], yang dipimpin Antonio Aitahan Matak.

Politik kontemporer di Timor-Leste adalah sebuah jalin-menjalin warisan perjuangan dan loyalitas, dan masyarakat internasional akan melakukan kesalahan besar jika hanya terpana dengan bangunan baru, lampu-lampu terang dan kemacetan di Dili khas negara Asia Tenggara. Di bawah sana ada sejarah yang bergejolak dan belum terselesaikan. [S]

Literatur

Budiardjo, Carmel dan Liem Soei Liong, 1984. The War Against East Timor, Zed Books.

Anderson, Ben, et. al. 2003. “Interview with Mario Carrascalao”, Indonesia 76 (Cornell University: October 2003.

Chamberlain, Ernest. 2003. “The Struggle in Iliomar: Resistance in Rural East Timor,” Point Lonsdale, Australia.

Commission for Reception, Truth and Reconciliation in East Timor (CAVR). 2006. Chega! Final Report,  Terutama Bab 3. Sejarah Konflik. [Bisa juga diunduh di http://www.cavr-timorleste.org/en/chegaReport.htm]

Gusmão, Xanana. 1984a. ‘Message to Fretilin External delegation: What is National Unity?’ June-July 1984. East Timor News, Sydney. No. 83-85. Winter 1985 edition. h. 2, 12-15.

Gusmão, 1990, ‘Shanana Speaks’, Tapol Bulletin, London. No. 102, December 1990, h. 9-14.

Gusmão, Xanana. 1999b. Series of Interview conducted by Sarah Niner in Prison House, Salemba, Jakarta, July 1999.

Gusmão, Xanana. 2000. To Resist is to Win: The Autobiography of Xanana Gusmão , ed. Sarah Niner, Aurora Books, Victoria.

Jolliffe, Jill. 2001. Cover-Up: The Inside Story of the Balibo. Five Scribe, Melbourne.

Mauk Moruk (Paulino Gama). 1995. “A Fretilin Commander Remembers”, dalam East Timor at the Crossroads: The Forging of a nation. Ed. Peter Carey, G. C. Bentley.

Niner, Sarah. 2004.  ‘Our Brother, Maun Bo’t:  The Biography of Xanana Gusmão, Leader of the East Timorese Struggle’ PhD Thesis at Monash University. (dapat diunduh dihttps://monash.academia.edu/SaraNiner/2004-PhD-Thesis:-Xanana)

Niner, Sarah. 2009. Xanana: Leader of the Struggle for Independent Timor-Leste (dapat diunduh di https://monash.academia.edu/SaraNiner/Books)

Pereira, Agio, “ Dewan Nasional Perlawanan Maubere (CNRM), Ikhtisar tentang Sejarah Perjuangan Timor-Leste,” kertas kerja, dipersentasikan pada konferensi di Sydney, 1994, tanpa tanggal.

Pesan kepada Bangsa oleh Yang Terhormat Presiden Republik Kay Rala Xanana Gusmão, pada Peringatan Ulang Tahun Falintil di Uaimori, 20 Agustus 2003, dihttp://www.etan.org/et2003/august/17-23/20fal.htm.


[1] Wawancara CAVR dengan Xanana Gusmão, Dili, 10 Agustus 2004.

[2] Ibid.

[3] Lihat Ernest Chamberlain, “The Struggle in Iliomar: Resistance in Rural East Timor,” Point Lonsdale, Australia 2003, hal. 18.

[4] Xanana Gusmão, To Resist is to Win: The Autobiography of Xanana Gusmão , ed. Sarah Niner, Aurora Books, Victoria, 2000, hal. 68.

[5] Wawancara CAVR dengan Justo Talenta, ketika itu merupakan sekretaris informasi Brigada Vermelha, 3 Nopember 2003; juga lihat kesaksian Franisco (Lu Olo), kesaksian pada Audensi Publik Nasional CAVR tentang Konflik Politik Internal 1974-76, 15-18 Desember 2003.

[6] Lihat wawancara CAVR dengan Cornelio Gama (L-7), Baucau, 9 April 2004; juga lihat wawancara CAVR dengan Justo Talenta, Nopember 2004; juga lihat wawancara CAVR dengan Xanana Gusmão, Dili, 10 Juni 2004; juga lihat; juga lihat wawancara CAVR dengan Francisco Guterres (Lu Olo), 26 Maret 2003; juga lihat wawancara CAVR dengan Lere Anan Timor, Arsip dari Proyek Sejarah Lisan Tuba Rai Metin [radio], Taibessi, Maret 2002 [arsip CD no. 18].

[7] “Rajustamento Estrutural da Resistência de Paz” [CAVR, terjemahan bahasa Tetum, tidak ada keterangan penerbitan]; juga lihat wawancara dengan Lere Anan Timor, Arsip dari Proyek Sejarah Lisan Tuba Rai Metin [radio], Taibessi, Maret 2002 [arsip CD. No.18]; juga lihat Agio Pereira, Dewan Nasional Perlawanan Maubere (CNRM), Ikhtisar tentang Sejarah Perjuangan Timor-Leste, kertas kerja, dipersentasikan pada konferensi di Sydney, 1994, tanpa tanggal.

[8] Liha wawancara CAVR dengan Cornelio Gama, Baucau, 9 April 2003; juga lihat wawancara CAVR dengan Francisco Guterres (Lo Olo), Dili, 26 Maret 2003.

[9] Pesan kepada Bangsa oleh Yang Terhormat Presiden Republik Kay Rala Xanana Gusmão, pada Peringatan Ulang Tahun Falintil di Uaimori, 20 Agustus 2003, dihttp://www.etan.org/et2003/august/17-23/20fal.htm.

[10] Wawancara CAVR dengan Julio Maria de Jesus, mantan Falintil, Lospalos, 29 Mei 2003; juga lihat Carmel Budiardjo dan Liem Soei Liong, The War Against East Timor, Zed Books, 1984, hal. 70.

[11] Agio Pereira, “ Dewan Nasional Perlawanan Maubere (CNRM), Ikhtisar tentang Sejarah Perjuangan Timor-Leste,” kertas kerja, dipersentasikan pada konferensi di Sydney, 1994, tanpa tanggal.

[12] “Fretilin Menjelaskan Mengapa Menolak Negosiasi,” East Timor News , No. 36, 29 Juni 1978; juga lihat Francisco Guterres (Lu Olo), kesaksian lisan pada Audensi Publik Nasional CAVR tentang Konflik Internal 1974-76, 18 Desember 2003.

[13] Lihat wawancara CAVR dengan Francisco Guterres (Lu Olo), 26 Maret 2004; wawancara dengan Cornelio Gama, 9 April 2003; wawancara dengan Lere Anan Timor, Arsip dari Proyek Sejarah Lisan Tuba Rai Metin [radio], Taibessi, Maret 2002 [arsip CD no. 18 ].

[14] Gusmão, Xanana. 1999b. Series of Interview conducted by Sarah Niner in Prison House, Salemba, Jakarta, July 1999.

[15] Ibid.

[16] Gusmão, 1984a. ‘Message to Fretilin External delegation: What is National Unity?’ June-July 1984. East Timor News, Sydney. No. 83-85. Winter 1985 edition. h. 2, 12-15.

[17] Gusmão, 1999b

[18] “Kapasitas agen dapat diukur dari reaksinya kepada perkembangan aktifitas perlawanan, dan dapat diukur dari tingkat tanggungjawab, semangat determinasi dan dinamisme, semangat inisiatif dan pengorbanan. Faktor-faktor ini menandakan semangat perjuangan serdadu gerilya. (Gusmão, 1988c. ).

[19] Ia melanjutkan, “banyak orang yang bertahan di sekitar Kraras mengeluh bahwa mereka telah bergabung dengan Falintil untuk berperang tapi itu tidak terjadi. Mereka meminta saya untuk merestrukturisasi dan memberi mereka kesempatan untuk membuktikan kemampuan mereka dan mengikuti contoh saudara-saudara mereka di Timur. Kilik adalah Kepala Staff dan Mauk Moruk adalah wakilnya sekaligus Komandan Brigade Merah yang terdiri dari empat kompi bersenjata lengkap…” Xanana menggambarkan peran Brigade adalah untuk “membantu kelompok-kelompok gerilya kecil, dan membantu mempersiapkan mereka untuk aksi.” Ia tahu bahwa brigade ini enggan melaksanakan fungsi ini dan kelompok-kelompok gerilya tidak pernah menerima bantuan ini. Ia mendapat informasi bahwa Kilik, Moruk dan Olo Gari menjaga kompi-kompi mereka untuk keselamatan pribadi mereka dan tidak melakukan operasi apa-apa (Gusmão, 1999b).

[20] Komandan Lere, yang coba dikooptasi oleh Moruk, memilih mengikuti Xanana, namun ia pindahkan dari tanggungjawab politis ke tanggungjawab militer. Xanana percaya bahwa Lere akan lebih baik menjadi komandan daripada sebagai Komisioner politik. Lere juga dibebastugaskan sebagai Komite Sentral Fretilin dan ditunjuk sebagai “Komandan Hudi Laran” dengan kompi gerilyanya sendiri (Gusmão, 1999b). Lere menjadi letnan yang loyal kepada Xanana dan di tahun 1988 Xanana memuji Lere karena melaksanakan “banyak tanggungjawab dan kejelasan, dalam fungsi-fungsi Komandan Persatuan” (Gusmão, 1988c, Seksi III, No. 3, bagian C). Di tahun 1999 Xanana percaya pemindahtugasan Lere adalah keputusan yang benar karena “sekarang ini ia adalah wakil kepala staff, di Iliomar” (Gusmão, 1999b).

[21] Sarah Niner, Xanana: Leader of the Struggle for Independent Timor-Leste, 2009, h. 106. Xanana tidak memilih pengganti Kepala Staff, hanya beberapa Komandan Regional di bawahnya.

[22] Ibid.

[23] Ia menurunkan Kilik dari Kepala Staff ke komandan biasa, memberinya satu kompi. Ia memindahkan tanggungjawab perencanaan strategis dan koordinasi kepada komandan-komandan lain, yang, ia menulis “sangat senang dengan kemungkinan aksi-aksi baru, untuk dapat melakukan apa yang ingin mereka lakukan jauh dari saudara-saudara mereka di Timur.” (Gusmão, 1999b).

[24] Gusmão, 1999b

[25] Secara diplomatis António Campos mengatakan restrukturisasi kepemimpinan karena ada serangan-serangan keras dari Indonesia, ia mengingat  coup d’etât itu sebagai tanggapan terhadap restrukturisasi, namun ia mengatakan “dukungan kepada Xanana sangat besar…sangat besar, sangat luar biasa, sehingga upaya kudeta meleleh seperti es.” (Wawancara António Campos, 1998).

[26] “Interview with Mario Carrascalao”, Indonesia 76 (Cornell University: October 2003) h. 9.

[27] Niner, Xanana: Leader, 2009, h. 106.

[28] Mauk Moruk (Paulino Gama), 1995, “A Fretilin Commander Remembers‟, Timor at the Crossroads, h. 103).

[29] Wawancara José Ramos Horta, 1998; Jolliffe, 2001, h. 155

[31] Xanana Gusmão, 2000. To Resist is to Win: The Autobiography of Xanana Gusmao, Aurora Book, Victoria. h. 132.

[32] Xanana yakin bahwa Partai Fretilin yang Marxist-Leninis tidak akan mampu “untuk berubah menjadi sebuah gerakan nasionalis dengan kemampuan untuk membimbing proses pembebasan tanah air. Ia mengatakan mereka sudah memikirkan tentang kemungkinan “membuang cargo” yang berat seperti ideology “karena ketidakmampuan kami untuk memikulnya di pundak kami!” (Gusmão, ibid.).

[33]  Gusmão, 1990, ‘Shanana Speaks’, Tapol Bulletin, London. No. 102, December 1990, h. 11. Xanana menulis bahwa di tahun 1985 kepemimpinan Komite Sentral Fretilin terdiri dari Abílio Araújo sebagai Presiden (juga disebut Sekretaris-Jendral); Mari Alkatiri sebagai Wakil-President dan Ramos Horta sebagai Sekretaris Hubungan External dan dirinya sendiri, “masih mengalami ambiguitas …hanya disebut sebagai Panglima Falintil” (Gusmão, 1988-Seksi IV, bagian 1). Ia tidak nyaman dengan otoritas politiknya didefinisikan oleh orang lain.

[34] CP-RDTL adalah singkatan dari Conselho Popular Democratiku-Republica Democratica Timor-Leste.

Sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s