Saat kuliah S-1 pembicaraan dalam tulisan di bawah ini, tetap menjadi pembahasan yang menarik. Sejak awal Indonesia merdeka, demikian halnya : selalu mampu mengundang berbagai perdebatan. Suatu hal yang lazim di Indonesia, kisah ini tidak pernah diungkapkan oleh guru sejarah. Salah satu alasannya dikategorikan sebagai grey area, jika diungkapkan ke publik yang minim pengetahuan dan rasa nasionalismenya, amat mungkin akan terjadi benturan, sebuah konflik bathin atau konflik pemikiran. Low fact / fakta lunak salah satu penyebab utamanya.

Saya berharap pembaca tulisan ini menjadi pembaca yang budiman, yakni pembaca yang memiliki budi (ilmu) dan iman (kayakinan), yakni bahwasanya yakin kalau Indonesia adalah negara yang bermartabat dengan takaran pemikiran yang berdasarkan ilmu.

Selamat berfikir bro….


pangilama-suriman-ditandu-ketika-melakukan-perang-gerilya-_180311202839-816

Pemimpin militer ingin merdeka dengan cara perang total, pemimpin sipil berunding.

Apakah negaramu pernah menang perang? Pertanyaan ini terus mengenang dari seorang teman. Dia mengatakan, Indonesia beda dengan Vietnam yang pernah menang perang dan bukan sekadar menang pertempuran.

“Ingat, ya. Belanda baru mengakui kedaulatan Indonesia sebagai hasil perundingan KMB (Konfrensi Meja Bundar) di Den Haag yang juga berbau campur tangan Amerika Serikat dengan ancaman kepada Belanda mencabut bantuan restorasi akibat perang dunia Marshal Plan bila negara itu nekat terus beperang di tanah bekas koloni yang telah bernama Indonesia itu,” katanya lagi.

“Juga tahukah kamu bila hasil KMB yang mengharuskan Indonesia membayar utang Hindia Belanda, pada tahun 1950 kemudian memicu kontroversi. Publik kala itu ramai berdebat tentang masalah itu. Sampai-sampai pemerintah campur tangan menghentikan debat tersebut, terutama yang ada di media massa kala itu. Pihak kiri, yakni kaum komunis, mengecam habis Moh Hatta yang kala itu memimpin delegasi Indonesia dalam acara penanda tangan hasil KMB,’’ katanya lagi.

 180311195839-168

Perjanjian KMB Denhaag. Delegasi Indonesia dipimpin Wakil Presiden Moh Hatta.

Atas pertanyaan bertubi itu tentu saja saya dan banyak orang sekarang yang kaget seperti kesamber geledek. Persis sama pertanyaannya dengan saat itu: mengapa kalau menang perang harus bayar utang. Seharusnya yang kalah adalah pihak yang memberikan ganti rugi, yakni pampasan perang layaknya Jerman dan Jepang.

Memang, dalam buku ajar sekolah pada masa lalu soal ini tak ada di dalamnya. Pun tak ada, misalnya, kisah surat Ho Chi Minh yang mengkritik Sukarno yang lebih memilih mengerjakan kembali birokrat didikan Belanda setelah Indonesia merdeka. Tanya “Paman Ho”: Kalau mempekerjakan kembali birokrat didikan Belanda maka negara tuan tidak merdeka sepenuhnya! Sebagai jawabannya, Sukarno (dan juga Syahrir) menyatakan, kalau tak mempekerjakan lagi birokrat itu maka Indonesia kehilangan “mesin negara” alias roda pemerintahan tak bisa bergerak.

Namun, sebenarnya, soal “merdeka 100 persen” sudah lama menjadi soal yang berkecamuk di elite Indonesia pada awal kemerdekaan. Bahkan, bisa dirunut lebih jauh lagi, yakni pada masa pembentukan BPUPKI. Hanya kelompok Islam dan nasionalis yang mau menjadi BPUPKI. Kelompok sosialis dan komunis memilih tidak ikut di dalamnya karena menganggap BPUPKI sebagai “parlemen” bentukan Jepang.

Sikap yang lebih jelas ditunjukkan Tan Malaka. Dia menolak keras ide berunding dengan pihak kolonial. Dia ingin perang total dan menang total melawan kolonial. Alias sama sikapnya dengan Vietnam yang nekat habis-habisan melawan Amerika Serikat. Alhasil, melalui pertempuran legendaris Paman Ho bersama  Jenderal Vo Vo Nguyen Giap di Bie Dien Phu berhasil mengusir pergi tentara Amerika Serikat untuk pulang kampung. Sama dengan adanya ganti rugi yang tidak banyak diketahui orang Indonesia dalam perjanjian KMB, orang Amerika Serikat pun sampai kini tak percaya bila negaranya kalah perang di Vietnam. Mereka malah membuat film jagoan Rambo untuk mengalihkan bahwa mereka adalah pemenag (meski ada juga film yang mengakui kekalahan perang AS di Vietnam, yakni film semacam Platoon).

Ada sebuah kutipan dari Tan Malaka bahwa bangsa ini harus menang perang secara total dengan cara menolak taktik berunding. Kata-katanya begini:  Tuan rumah tak akan berunding dengan maling yang menjarah rumahnya! Dengan kata lain, perang total adalah pilihan terbaik.

Namun, sikap Tan Malaka ditolak oleh elite sipil Indonesia kala itu. Mereka menganggap itu suatu sikap yang ekstrem dan tidak realistis dengan alasan Indonesia kalah segalanya dari Belanda, baik itu kemampuan personil pasukan, senjata, maupun dana untuk membiayai perang. Tan Malaka dengan ketus menganggap itu akibat dari sikap orang yang terlalu lama dididk Belanda. Sayangnya, Tan Malaka kemudian mati tertembak di daerah Jawa Timur sebelah selatan: kini disebut Desa Selopanggung, Kediri.

180311200426-664

Batas daerah  RI di Kemit, Gombong, Jawa Tengah. Foto dibuat pada 19 Februari 1948. (gahentna.nl).

Lalu, bagaimana sikap angkatan perang Indonesia sendiri? Ternyata mereka lebih condong memilih jalan perang total. Bahkan, para petinggi militer kala itu sudah mempunyai rencana untuk membawa Sukarno ke pedalaman guna memimpin perang gerilya. Panglima Sudirman, misalnya, juga sepakat memilih jalan perang total atau perang semesta. Dia pun enggan dan tak suka dengan kelakuan pemimpin sipil yang sebentar–sebentar mengajak kolonial berunding, sedangkan wilayan Republik Indonesia (RI) terus menyempit, hanya mencakup sebagian wilayah Jawa bagian tengah, terutama bagian pedalaman Jawa selatan. (Sumber Tulisan)

wakil-presiden-moh-hatta-di-stasiun-yogyakarta-menyambut-pejuang-_180311203104-773

Memang, secara sekilas seolah tidak ada persoalan antara hubungan para pemimpin sipil dan tentara pada saat itu. Apalagi bila melihat foto Bung Hatta menyalami seorang prajurit Siliwangi ketika tiba di Stasiun Yogyakarta pada Februari 1948. Suasananya memang terasa magis, selain menggetarkan. Di samping Bung Hatta adalah menteri keamanan Amir Syarufudin (yang nasibnya kemudian tragis karena dihukum mati, sebab menjadi salah satu pemimpin pemberontakan PKI Madiun pada akhir tahun 1948).

Namun, ingat, para pemimpin tentara, termasuk Jendral Sudirman, kala itu juga gusar karena Perjanjian Renvile. Maka, Jawa Barat harus dikosongkan dari pasukan atau tentara Republik Indonesia. Imbasnya, pasukan Siliwangi harus hijrah ke Yogya dan membiarkan wilayah Jawa Barat kosong. Yang tersisa tinggal laskar rakyat yang dipimpin Kartosuwiryo yang saat itu masih sangat intens berhubungan dengan Jendral Sudirman.

Melalui surat-menyurat antarkeduanya, diketahui Pak Dirman tak keberatan bila pasukan Kartosuwiryo—yang kemudian bertindak sembrono mendirikan Negara Islam Indonesia—mengamankan wilayah tanah Pasundan tersebut. Lalu, pada kemudian hari terlacak surat-surat itu dikirimkan melalui Pak Dirman via salah satu orang kepercayaannya yang bernama Soeharto yang kelak menjadi Presiden RI. Pakar politik Salim Said menuliskan perihal surat itu dalam disertasinya tentang militer Indonesia.

Uniknya lagi, Pak Dirman juga kecewa atas pemimpin sipil yang bersidang ketika terjadi Operasi Burung Gagak’ (nama sandi militer Belanda ketika menyerang Yogyakarta  pada Agresi Belanda kedua). Pak Dirman kaget ketika kemudian rapat memutuskan Bung Karno dan Bung Hatta tidak akan pergi ke luar kota memimpin perang gerilya. Mereka memilih tetap berada di tengah kota meski pasti akan ditangkap tentara Belanda. Ajudan pengawal Presiden Sukarno, yakni seorang ajudan polisi bernama Sunarko, sempat kecewa berat karena presidennya memilih “menyerah” dan ditangkap Belanda. ’’Padahal saya sudah siap mati untuk perang habis-habisan,’’ katanya.

Untung saja, Panglima Sudirman bertindak cepat. Setelah tahu Sukarno tidak akan ke luar kota untuk melakukan perang gerilya, dia segera menjalankan siasat seperti yang telah digariskan ketika Yogyakarta benar-benar diserang Belanda. Nah, pada saat genting itulah kemudian terlacak jejak bagaimana eratnya hubungan Pak Dirman dengan Soeharto.

Pada sebuah perbincangan ketika hendak meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin gerilya, antara Pak Dirman dan perwiranya (Soeharto) terlibat dalam perbincangan singkat. Pak Dirman selaku panglima angkatan perang memerintahkan Soeharto untuk menjaga keamanan Yogyakarta.  Kala itu pasukan Belanda sudah berada di batas Kota Yogyakarta .

“Kamu tetap di sini (Yogyakarta) ya, To,’’ perintah Pak Dirman.

“Siap, Pak!” jawab Soeharto.

“Kamu tahu risiko, To,’’ lanjut Pak Dirman mengisyaratkan ada risiko besar yang akan mengancam nyawa Soeharto ketika menjaga keamanan Yogya. Apalagi, saat itu, ancaman penyusupan Westerling juga konkret. Para petinggi keamanan sudah lama mengantisipasi kemungkinan munculnya penyusupan Westerling yang menargetkan para pemimpin Republik Indonesia.

“Siap, Pak. Tahu,’’ jawab Soeharto kembali. Keduanya pun berpisah. (Sumber Tulisan)

sebagian-tentara-yang-pulang-gerilya-mellintasi-jalan-malioboro-_180311203455-157

Sikap memilih ke luar kota atau memilih melakukan perang dengan Belanda dan enggan berunding disadari penuh oleh Pak Dirman. Bahkan, para elite pun tahu kerasnya tekad Pak Dirman itu. Tentu saja, para tentara–termasuk Soeharto–paham akan sikap panglimanya.

Kenyataan ini terbukti pada kemudian hari ketika para pemimpin sipil kemudian pulang ke Yogyakarta dari pembuangan di Bangka dan Prapat. Mereka lagi-lagi terima ajakan Belanda untuk berunding, meski dengan syarat agar para pemimpin sipil dikembalikan ke Yogyakarta. Setelah berada di Yogykarta lagi, Presiden Sukarno dan pemimpin sipil lainnya menginginkan Panglima Sudirman pulang dari gerilya.

Namun, untuk mengajak Jenderal Sudirman pulang ke Yogya bukan soal mudah. Mereka tahu Sudirman enggan pulang dan memilih meneruskan perang. Mereka juga tahu posisi perang akan memasuki babak akhir, yakni kemenangan sudah di depan mata. Ini dengan melihat perilaku tentara Belanda sudah tersudut dan hilang kekuatan morelnya. Mereka tahu rakyat di belakang tentara republik.

Setelah dibahas maka jatuhlah pilihan kepada komandan keamanan wilayah Yogya, yakni Soeharto. Rosihan menulis tentang kisah menjempput Panglima Sudirman dari medan gerilya begini: Pagi-pagi sekali tanggal 7 Juli 1949 dekat Malioboro wartawan foto “Ipphos” almarhum Frans Sumardjo Mendur memperkenalkan Rosihan Anwar kepada Letnan Kolonel Suharto. Ia berpakaian seragam putih dan menyetir sendiri sebuah Landrover. Rosihan Anwar sebelumnya tidak kenal dengan Suharto, dan Rosihan Anwar tahu bahwa Letkol Suharto pun tidak pernah membaca tulisan-tulisan Rosihan Anwar.

Lepas Wonosari mereka bertiga tidak bisa lagi pakai jeep. Harus naik sepeda dan “latihan menggenjot” ini berlangsung sepanjang hari. Rosihan Anwar tidak tahu tempat mana yang hendak ditujukan bila `gerangan akan sampai. Yang dikerjakan hanya mengayuh kereta angin melewati daerah gunung Kendeng yang tandus dan tidak banyak penduduknya. Bertiga kami beriringan, Suharto di depan, Rosihan Anwar di tengah, kemudian Frans Sumardjo Mendur. Selama perjalanan sejak dari Yogya, Suharto tidak banyak berbicara. Ia jelas bukan orang yang suka pada “small talk” atau ngobrol. Kata-katanya hemat, sekali. “Mari minum degan (kelapa muda),” Suharto mempersilahkan Rosihan Anwar minum air, kelapa muda, ketika berhenti sebentar. Saat itu, senjakala sudah meliputi daerah yang dilalui, namun kami masih terus genjot sepeda. Baru kira-kira pukul 9 malam, setelah sepeda ditinggalkan, dan dilanjutkan dengan berjalan kaki, kami tiba di pinggir sebuah desa dan di situ dihadang oleh pasukan pengawal terdepan Pak Dirman. Sudah sampai rupanya.

180311200845-369

Panglima Sudirman di markas gerilya di desa Sobo Pacitan. (50 tahun Indonesia Merdeka).

Jendral Sudirman dalam pakaian dan ikut kepala hitam, ketika menerima Rosihan Anwar malam itu juga di tempat penginapannya yaitu rumah Lurah dengan spontan berkata: “Saudara Rosihan dan wartawan Republik yang pertama saya ketemu, sudah masa bergerilya ini.” Sebelum saya dipersilahkan masuk oleh ajudannya yakni Kapten Supardjo Roestam, Pak Dirman terlebih dahulu menerima Suharto. Rosihan Anwar taksir tentu di situ Suharto sudah melaporkan tentang maksud kedatangannya dan menyampaikan pesan Sri Sultan. Ketika Rosihan Anwar minta interview dari Pak Dirman, dia berkata: “Besok pagi saja, sekarang istirahat dulu”.

Sama dengan kisah Rosihan Anwar, di kisah yang lama juga senada. Sesampai di sana, Suharto memang segera melakukan perbincangan yang intinya membujuk panglimanya pulang.” Untuk apa pulang Harto. Apakah untuk berunding. Kita hampir menang sekarang Harto?’’ Kata Panglima Sudirman.

Suharto tampaknya sudah paham akan pendirian keras panglimanya itu. Tapi dia kemudian menjawab secara ‘berputar’ agar Jendral Sudirman bersedia pulang.

‘’Iya Pak. Tapi presiden memutuskan meminta pulang,’’ kata Suharto. Jawaban itu rupanya meluluhkan hati Jendral Sudirman yang tak pernah mau berkonflik dengan Sukarno selaku presiden. Ia pun setuju untuk kembali ke Jogjakarta. Tapi pada saat yang sama Suharto pun tahu bahwa Panglimanya itu melakukannya dengan perasaan tak ’sreg’ atau berat hati.

Setelah tahu panglima akan pulang, Rosihan pulang duluan untuk buat beritanya. Dia pun sempat memotret Pak Dirman dengan para pasukan pengawalnya, termasuk Suharto.  Suharto memilih pulang ke hari berikutnya.

 180311200949-972

Panglima Sudirman bersama pengawalnya ketika hendak pulang dari gerilya ke Yogyakarta. Terlihat ada foto Rosihan Anwar yang tengah berjongkok. Di foto itu ada juga Suharto dan Suparjo Rustam.

Panglima Sudirman bersama pengawalnya ketika hendak pulang dari gerilya ke Yogyakarta. Terlihat ada foto Rosihan Anwar yang tengah berjongkok. Di foto itu ada juga Suharto dan Suparjo Rustam.

Dan benar saja kedatangan Pak Driman dengan naik tandu, disambut meriah oleh rakyat dan juga dibuat upacara kebesaran militer di Alun-Alun Utara Jogja. Saat itu Pak Dirman menyalami seluruh komandan pasukannya, di antaranya memeluk Komarudin salah satu komandan peleton pasukan di Yogyakarta yang dulu teledor melakukan penyerangan sehari sebelum 1 Maret 1949. Dengan haru Pak Dirman memeluk Komarudin, dan Komar pun memeluk panglima dengan menangis sesunggukan dibahunya sembari meminta maaf.

‘’Tidak apa-apa Komar,’’ kata Pak Dirman sembari menepuk-nepuk punggung Komarudin.

180311203251-443

Panglima besar Sudirman dipeluk Presiden Sukarno ketika pulang gerilya.

Setelah mengikuti upacara itu kemudian Pak Dirman pergi menemui Presiden dan Wakil Presiden di Istana Jogja. Ketika bertemu, Bung Karno terkejut melihat kondisi panglimanya yang begitu kurus dan terlihat begitu sakit. Bung Karno langsung memeluk Pak Dirman bersemangat. Sedangkan Pak Dirman membalas pelukan itu dengan bahasa tubuh biasa saja karena masih merasa tidak ‘sreg’ karena tidak menang perang secara total itu.

Pada peristiwa pelukan ini, karena posenya tidak bagus dan Pak Dirman terlihat kaku, Bung Karno meminta agar pelukan dengan Pak Dirman diulang. Juru foto istana, Mendur yang saat itu ada di dekat Bung Karno, pun memotretnya kembali. (Sumber Tulisan)

susana-istana-merdeka-ketika-penyerahan-kedaulatan-_180311203604-819 (1)

Bersamaan dengan pulang Sudirman ke Jogyakarta yang terjadi sekitar bulan Juli 1949, proses perundingan di Den Haag terus berjalan. Tanda-tanda perang akan berakhir sudah terlihat meski perundingan berjalan alot. Tampak Belanda tersudut dan mulai menyerah, apalagi ada fakta lain, yakni desakan sekaligus ancaman pemutusan bantuan ‘Marshal Plan’ oleh Amerika Serikat. Orang-orang Belanda sendiri saat itu mulai merasa bahwa akhirnya tanah koloni di Hindia timur itu akan terlepas.

Dan perundingan kemudian berakhir dengan adanya pengakuan kedaulatan oleh Belanda. Namun memang pengakuan itu terasa tak sepenuhnya lengkap karena masih ada soal wilayah Papua dan keharusan RI membayar utang Hindia Belanda.

Pada forum itu, delegasi Indonesiaa pada tanggal 24 Oktober 1949 sepakat  untuk mengambil alih sekitar 4,3 miliar gulden Belanda utang pemerintah Belanda di Indonesia yang disebut Belanda sebagai Hindia Timur. Beberapa hari kemudian delegasi Indonesia yang diwakili Wakil Presiden Moh Hatta dan Belanda di wakli Ratu Juliana mendantangi perjanjian itu.

‘’Ya itulah kejadian KMB. Itu untuk pertama kaliinya Sukarno  (Indonesia) kalah atau menyerah dengan kekuatan keuangan global.  Cara membayar utang itu pun unik karenan dibayar  bukan dengan uang merah (Ori), Tapi harus memakai mata uang asing (dolar) dengan cara membentuk bank sentral baru. Celakanya yang jadi bank sentral itu bukan BNI 46 yang memang sudah lama dipersiapkan, tapi malah mengubah Java’s Bank menjadi sentral dan kini menjadi bank Indonesia,’’ kata aktivis keuangan Zaim Saidi pada sebuah perbincangan. Utang hasil KMB itu baru lunas pada masa pemerintahan Presiden Suharto yang juga dahulunya adalah salah satu orang yang dipilih para pemimpin sipil di Jogja untuk menjemput pulang Panglima Nesar Jendral Sudirman pulang dari markas gerilya itu.

Jadi akhirnya, apa pun yang terjadi di masa lalu, baik manis, pahit, hingga getir terimalah dengan lapang dada dan penuh damai. Masa lalu memang tak sempurna. Dan marilah kita maafkan! (Sumber Tulisan)