IMG-20190525-WA0000

Pesan utama dari teori belajar humanistik adalah pentingnya memanusiakan manusia. Tekanan dan segala turunannya harus disingkirkan. Oleh karena itu, maka belajar harus menyenangkan . 

Terkait dengan pembelajaran sejarah, bagaimana teori tersebut dijalankan ?. Lalu, bentuknya seperti apa?. 

Pertanyaan tersebut fokus kepada : “Bagaimanakah bapak/ibu guru dapat melakukan pentingnya memanusiakan manusia dan menyenangkan dalam pembelajaran  sejarah. Berikan contohnya”.

Bagi saya, teori belajar humanistik adalah teori yang paling lekat dengan pembelajaran sejarah. Jika humanistik menekankan memanusiakan manusia, pembelajaran sejarah membuat manusia jadi bijaksana. Di sini aktualisasi diri amat diunggulkan, tentunya kebebasan, percaya diri, kompetensi, tanggungjawab, dan kemandirian menjadi bahan pembentukan dalam prosesnya.

Dalam pembelajaran sejarah di sekolah, konsep di atas saya wujudkan dalam sosiodrama atau biasa di kenal sebagai role play. Saya memberikan panduan umum untuk peristiwa bersejarah , satu kelas dibagi menjadi 2 kelompok (Invasi Mongol ke Jawa dan Lahirnya Kerajaan Majapahit), dan mereka diberikan kebebasan sedemikian rupa sehingga siap tampil pada pertemuan yg sudah ditentukan.

Mereka menyusun dialognya, membagi peran, mendesai kostum hingga peralatannya. Betapa luar biasanya, mereka bekerja dengan baik, berjalan khidmat, dan peristiwa bersejarah masa lalu tertampilkan “hidup”, mereka larut dalam perannya masing-masing. They enjoyed, dan it’s really fun. Mereka termotivasi untuk mencari info, bertanya, dan memahami tokoh yang menjadi tanggungjawabnya. Aktualisasi diri mereka terpancar dalam proses pembelajaran sosiodrama ini.

Dengan demikian, teori belajar humanistik telah menempatkan siswa menjadi individu yang bebas, mereka mengaktualisasikan diri, dan seperti air mengalir maka tanggungjawab yang diembannya dijalankan dengan rasa senang. Di sinilah, bagi saya, proses memanusiakan manusia berlangsung. Terlebih, ini “dikawinkan” dengan tujuan hakiki pembelajaran sejarah, yaitu menciptakan manusia bijaksana. Sosiodrama atau role play yang saya terapkan, membangun bagaimana ketokohan masa lalu memberikan “cermin hidup ” agar kita tidak jatuh dalam lubang/kesalahan yang sama. Dengan kata lain, “adalah penting belajar sejarah, tapi jauh lebih penting adalah belajar dari sejarah”.