f759ff07-dd81-4be1-8ff6-0dbe658fce53

Berikut adalah permasalahannya:

Di suatu kelas terdapat 30 siswa  dengan rincian :

  1. Jumlah laki-laki  20 orang,  jumlah  perempuan 10 orang
  2. Status sosial 50% adalah anak dari pekerja buruh pabrik, 20 % PNS, dan 10 % adalah pedagang, 20% adalah pegawai swasta/BUMN
  3. Minat siswa 50% pada kegiatan olahraga, 10% pada aspek akademis, 20% pada kegiatan seni, dan 20% pada  aspek ketrampilan
  4. Kemampuan siswa 40% pada batas bawah, 40% pada batas menengah, dan 20% pada batas tinggi
  5. Preferensi belajar 40% kinestetik, 30% visual, 30% auditory

Pertanyaan

  1. Bagaimana cara mengelola kelas dan mengakomodasi pembelajaran sejarah dengan karakteristik tersebut diatas ?.
  2. Bagaimana mengembangkan kecerdasan majemuk dengan karakteristik diatas?.

 

Jawaban

 

 A. Cara Mengelola Kelas dan Mengakomodasi Pembelajaran Karakteristik

Berdasarkan data yang diuraikan pada soal, maka dalam mengelola kelas pada proses pembelajaran sejarah, saya melakukan seperti di bawah ini :

1. Gender

Seperti yang saya sebutkan di forum diskusi M4, pembelajaran sejarah nyaris 100% dengan cara membentuk kelompok/berkelompok. Sesuai soal,  jumlah laki-laki sebanyak 20 orang, dan jumlah perempuan 10 orang. Untuk membangun kelompok yang efektif, maka penyebaran gender adalah dengan jumlah yang sama. Contoh: kelompok dibagi menjadi 5 kelompok dengan masing-masing anggota kelompok 6 orang terdiri dari 4 orang laki-laki  dan 2 orang perempuan.

2. Status Sosial

Berdasarkan data, jumlah yang dominan adalah anak dari pekerja buruh pabrik. Dalam pembelajaran, masalah yang ditemukan terkait erat dengan sarana pendukung untuk kegiatan belajar pribadi. Hal ini disebabkan peserta didik yang kurang beruntung, yakni berasal dari  keluarga ekonomi lemah.

Memperhatikan hal demikian, maka saya mengidentifikasi berapa orang yang memiliki laptop di kelas tersebut. Selanjutnya, tetap membentuk kelompok belajar yang variatif, namun saya memastikan dalam kelompok tersebut ada 1 peserta didik memiliki laptop dengan harapan peserta didik yang berasal dari keluarga ekonomi lemah  dapat belajar dengan temannya yang memiliki laptop tersebut.

 3. Minat

Dari data pada soal, terlihat bahwa minat pada kegiatan olah raga lebih dominan. Berikutnya ialah seni, keterampilan dan yang paling rendah adalah akademis.

Melihat data tersebut, yang saya lakukan guna bisa mengakomodir karakteristik minat, yaitu dengan cara memberikan pembelajaran yang menarik. Contohnya pada saat materi “Indonesia di Masa Reformasi”, saya menggunakan Project Based Learning untuk membuat drama yang divideokan dengan terlebih dahulu menyaksikan video terkait sebagai contoh, dengan harapan agar peserta didik memiliki kecenderungan kecerdasan visual dapat terakomodir. Selain itu, saya juga masih memberikan penjelasan dengan penekanan intonasi yang baik supaya peserta didik dengan minat seni dan keterampilan (kecerdasan Auditori) dapat pula terakomodir. Kemudian meminta untuk mengerjakan tugas tersebut, agar peserta didik yang kecerdasaan Kinestetik dapat berkembang.

 

B. Cara Mengembangkan Kecerdasan Majemuk

Berdasarkan data yang sudah diuraikan, dapat saya simpulkan bahwa kelas tersebut perkembangan peserta didiknya cenderung mengarah kepada kecerdasan Kinestetik, hal ini dapat diperhatikan dari minat peserta didik dan prereferensi. Oleh karena itu, guru hendaknya dalam proses pembelajaran membantu mengembangakan kecerdasan kinestetik ini.

Kecerdasan Kinestetik meliputi kemampuan fisik, baik itu kecepatan, kelenturan dan lain-lainnya. Karakteristik kecerdasan ini adalah :

  1. belajar dengan langsung terlibat (learning by doing).
  2. sensitif dan responsif terhadap lingkungan dan sistem secara fisik.
  3. mendemonstrasikan keseimbangan, keterampilan dan ketelitian dalam
    tugas fisik.
  4. mempunyai kemampuan untuk memperbaiki segala sesuatu dan sempurna secara pementasan fisik.
  5. mengekspresikan ketertarikan pada karir atlit, penari, ahli bedah atau pembuat gedung

 

Guna mengembangkan kecerdasan majemuk, maka dapat dilakukan dengan :

  1. Lingkungan fisik: dalam hal ini ialah ruang kelas. Guru mendesain ruangan sesuai kebutuhan pembelajaran agar dapat menciptakan perasaan peserta didik menjadi senang.
  2. Sosiodrama, bermain peran, drama kreatif, simulasi (keadaan yang meniru) keadaan sebenarnya.
  3. Gerak kreatif: memahami pengetahuan jasmaniah, memperkenalkan aktifitas gerak kreatif, menerapkan gerak kreatif keahlian dasar, menciptakan isi yang lebih terarah dari aktivitas gerakan.
  4. Tari: bagian-bagian tari, rangkaian pembelajaran melalui tari
  5. Memainkan alat-alat: kartu-kartu tugas, teka-teki kartu tugas, menggambara alat-alat tambahan, membuat tanda-tanda bagi ruang kelas
  6. Permainan ruangan kelas: binatang buruan ; permainan-permainan lantai besar, permainan yang merespon gerak fisik secara menyeluruh, permainan yang mengulang hal yang umum.
  7. Permainan fisik Karakteristik dari seorang pengajar (tentang) fisik, pendidikan petualang, jaring laba-laba dll
  8. Perjalanan ke alam bebas ke situs bersejarah.

 

Memperhatikan data yang dipaparkan, terdapat pula peserta didik yang kecenderungan pada kecerdasan Visual (30%).  Guna mengembangkan kecerdasan Visual ini dapat dilakukan dengan cara :

  1. Guru sebaiknya banyak/dititikberatkan pada peragaan/ media.
  2. Menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual seperti symbol, diagram, buku pelajaran bergambar
  3. Gunakan warna untuk menekankan hal-hal penting
  4. Mengajak membaca buku berilustrasi
  5. Gunakan multi media (komputer dan video)
  6. Mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

 

Sedangkan anak yang memiliki kecerdasan Auditory dapat belajar lebih mudah dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang dikatakan guru. Peserta didik tipe ini dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendah), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainya.

 

Untuk dapat mengembangkan kecerdasan Auditori dapat dilakukan dengan :

  1. Mengajak peserta didik untuk berpartisipasi dalam diskusi
  2. Meminta peserta didik membaca lebih keras
  3. Gunakan musik untuk mengajarkan peserta didik
  4. Diskusikan ide dengan peserta didik secara verbal
  5. Diperbolehkan merekam materi ke dalam recorder atau yang lainnya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat saya terapkan sesuai dengan mata pelajaran yang saya ampu (Sejarah) sebagai berikut (dilembar berikutnya):

 

Kelas XII IPA dan IPS

(Contoh)

 

Mapel             : Sejarah Indonesia

Materi             : Indonesia di Masa Reformasi

Waktu            : 2 Jam Pelajaran

Tempat          : Ruang Kelas

 

Berikut adalah yang saya lakukan untuk peserta didik dengan kecenderungan kecerdasan Kinestetik yang lebih dominan:

  1. Peserta didik di ruang kelas diberi jarak teratur sehingga mereka mudah dalam pergerakannya
  2. Guru menayangkan video sesuai materi “Indonesia di Masa Reformasi”.
  3. Selanjutnya guru menjelaskan lagi sebagai usaha penguatan dari tayangan video tersebut dengan intonasi dan penekanan yang tegas agar peserta didik dengan kecerdasan Auditory dapat berkembang, dan memberikan tugas untuk membuat drama yang divideokan, seperti tayangan video yang sudah di
  4. Setelah itu, guru meminta/menunjuk satu peserta didik untuk maju ke muka kelas guna menjelaskan kembali tentang pembuatan drama “Indonesia di Masa Reformasi”.
  5. Kemudian salah satu peserta didik menuliskan di papan tulis daftar kebutuhan-kebutuhan untuk pembuatan video, seperti kamera, naskah, dan editing. Keseluruhan proses ini membuat siswa terlibat secara langsung.

 

Harapan yang akan dicapai dalam kegiatan ini adalah:

  1. Peserta didik dengan kecenderungan kecerdasan Kinestetik dapat terlibat langsung pada pembelajaran “Indonesia di Masa Reformasi” melalui aktivitas drama dan proses pembuatan videonya.
  2. Peserta didik dengan kecenderungan kecerdasan Visual dapat melihat tayangan video .
  3. Peserta didik dengan kecenderungan Auditory juga dapat mengikuti dengan mendengar (dengan tone suara).
  4. Peserta didik dengan kemampuan batas tinggi (20%) membantu guru sebagai peer teaching dalam proses pembelajaran.

Dengan demikian, yang saya lakukan ditujukan untuk pencapaian kemampuan peserta didik dengan ragam karakteristik, dan tentunya kecerdasan ganda/majemuk. Artinya, saya mengusahakan, di setiap proses pembelajaran sejarah, kecenderungan pada semua kecerdasan dioptimalkan.