Salah satu pendapat yang dijadikan acuan pembuatan bahan ajar adalah pendapat dari Purwanto dan Sadjati. Tulisan mereka dimuat dalam buku berjudul:

Purwanto dan Sadjati, I.M. 2004. Pendekatan Inovatif Instructional System Design dalam Perancangan dan Pengembangan Bahan Ajar. Dalam Dwi Padmo (editor). Teknologi Pembelajaran: Peningkatan Kualitas Belajar melalui Teknologi Pembelajaran. Cetakan I. Jakarta: Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan.

Terkait dengan itu, seorang dosen menyuguhkan pertanyaan seperti ini:

Setelah kita memilih model dan media, maka pada tahapan ini kita akan membahas mengenai pengembangan bahan ajar.

Sebagai seorang guru, tentunya Bapak pernah membuat bahan ajar cetak, baik itu berupa modul, handout ataupun LKS. Ceritakan kepada saya, bahan ajar apa saja yang pernah Bapak buat. Kemudian jelaskan kelebihan dan kekurangannya berdasarkan karakteristik bahan ajar yang baik menurut standard kriteria yang dibuat oleh Purwanto dan Sadjati?

Kemudian saya merespon…

Diskusi kali ini memfokuskan kepada produk bahan ajar cetak saya yang dibandingkan dengan standar kriteria Purwanto dan Sadjati. Kemudian, saya jelaskan kelebihan dan kekurangan produk bahan ajar saya tersebut. Berikut uraiannya:

Bahan ajar cetak yang pernah saya buat adalah hand out (HO). Memperhatikan standar karakteristik bahan ajar menurut Purwanto dan Sadjati meliputi : pertama, bahan ajar yang baik harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, akurat, mutakhir, komprehensif cakupan isinya, tepat dalam menyikapi ras dan agama, dan jenis kelamin; memuat daftar pustaka, senarai, dan indeks.  Kedua, kriteria penyajian: berarti bahan ajar yang baik harus menyajikan materi secara menarik perhatian anak, materi terorganisasi secara sistematis, terdapat petunjuk belajar, mampu mengajak pembaca untuk merespon, berkonsentrasi, gaya bahasa, warna, dan sebagainya. Ketiga, berarti bahan ajar yang baik memuat ilustrasi yang sesuai, ilustrasi sesuai/terkait dengan teks, penempatan ilustrasi tepat; ukuran, fokus, dan tampilan seimbang dan serasi.

 

Keempat, kriteria unsur pelengkap: bahan ajar yang baik dilengkapi petunjuk dan tes. dan kelima, kriteria tentang kualitas fisik: artinya bahan ajar yang baik dicetak dan dijilid dengan baik, kertas yang digunakan bermutu, serta jenis dan ukuran huruf yang digunakan tepat sesuai karakteristik peserta didik penggunanya

 

Maka, terdapat kelebihan dan kekurangan HO yang saya buat, sebagai berikut:

Kelebihan

Untuk kriteria pertama, HO yang saya buat dapat terpenuhi soal tujuan pembelajaran, mutakhir, komprehensif cakupannya isinya tepat dalam menyikapi ras dan agama, dan jenis kelamin. Kriteria kedua, bahan ajar materi menarik perhatian anak kalau dalam bentuk point dan peta konsep, materi terorganisasi secara sistematis, mampu mengajak pembaca untuk merespon, berkonsentrasi, dan gaya bahasa tidak kaku. Kriteria ketiga, tidak terpenuhi (bukan kelebihan). Kriteria keempat, terdapat petunjuk dan tes. Kriteria kelima, jenis dan ukuran huruf yang digunakan tepat sesuai karakteristik peserta didik penggunanya: saya menghindari font standar seperti arial dan times new roman seperti dalam buku teks, saya memakai font Comic San yang terasa lebih “jaman now”.

 

Kekurangan

Setelah memperhatikan kriteria Purwanto dan Sadjati, terdapat kekurangan sebagai berikut: kriteria pertama, HO saya tidak memuat daftar pustaka, senarai, dan indeks. Kriteria kedua, HO berupa cetak hitam putih, dan di foto copy. Soal warna-warni tidak terdapat. Kriteria ketiga, tidak memuat ilustrasi. Kriteria keempat, tes saya buat tidak terdapat standar penilaiannya, dan kriteria kelima, HO hanya terdiri 2-5 halaman dan hanya di streples (bukan dijilid).

Kekurangan ini, salah satu penyebabnya, dalam pikiran saya bahwa HO adalah ringkasan yang memudahkan peserta didik untuk dipelajari; kapan saja dan dimana saja, dapat dibawa kemana saja, ringan, murah, dan “ngak nge-ribetin” saya dalam pembuatannya” serta “user friendly” untuk peserta didik,  oleh karena itu, seperti daftar pustaka, apalagi senarai, dan indeks saya tinggalkan, ilustrasi maeri sejarah saya sampaikan di kelas bukan di HO.

Dengan demikian, setelah mendiskuasikan kriteria Purwanto dan Sadjati, HO yang saya buat sudah seharusnya direvisi dan isi pikiran saya yang memposisikan HO sebagai hal yang “simple” butuh penguatan lagi agar masuk dalam: standar kriteria bahan ajar yang baik.