perkembangan-teknologi-pada-zaman-praaksara-di-indonesia-15-638

Diskusi tentang teknologi batu dan teknologi logam pada masa pra aksara selalu menarik. Ada banyak celah untuk dijadikan pertanyaan. Salah satunya ialah:

seperti apa keberlanjutan teknologi batu dan teknologi logam? kemukakan pendapat bapak dengan menganalisis cara memproduksi dan kegunaannya dalam kehidupan masa pra aksara.

Berikut komentar saya:

Salah satu penyebab, manusia pra aksara memproduksi teknologi batu dan logam, adalah karena keterbatasan fisik manusia dalam menghadapi tantangan alam guna menyambung kehidupannya. Keterbatasan ini “bekerjasama” dengan volume otak, sehingga tidak mengagetkan ketika pada jaman batu dan logam hasilnya pun berbeda.

Menghasilkan alat pada jaman batu, bahkan akhir jaman logam, selalu diwarnai trial dan error. Sebuah proses yang lazim, bahkan dengan manusia bervolume otak seperti hari ini. Teknik saling membenturkan batu untuk membuat alat penyambung hidup, yg diyakini terjadi pada masa paleolitikum menjadi salah satu contohnya. Hasil benturan tersebut dicari yang tajam untuk memecah makanan, atau menusuk. Cara demikian, diperbaiki di masa mesolitikum, dan menjadi diperhalus ketika masa neolitikum. Perubahan dari food gathering ke food producing menjadi faktor pendukungnya. Komunitas yang semakin besar, secara bertahap menghasilkan ikatan interaksi sosial yang membutuhkan pranata dan alat untuk merealisasikannya. Agar pembagian hasil makanan, berburu dan pastinya hasil bercocok tanam terbagi secara adil, bukan hanya butuh struktur sosial kepemimpinan, akan tetapi juga alat produksi yang mumpuni; tombak yang tepat agar buruan langsung tewas dengan sekali tusukan, dan alat bercocok tanam yang tepat guna sesuai dengan kondisi tanah.

Selanjutnya, pada masa teknologi batu, kegunaan api begitu dominan untuk menghangatkan tubuh dan (mulai) untuk memasak. Pada masa teknologi logam, api sudah dimanfaatkan untuk melebur logam dan mengkreasikan dalam bentuk alat-alat tertentu untuk kebutuhan menyambung hidupnya, baik itu untuk sekedar makan, juga untuk perhiasan, serta kerohanian. Perkembangan volume otak mendukung proses tersebut.

Jaman teknologi logam di Nusantara, aplikasinya terdiri dari 2 teknik, yaitu setangkap dan cetakan lilin. Kedua teknik ini, bukan berarti 100% logam. Teknik pembuatannya mengikutsertakan lilin, dan tanah liat. Hasilnya dapat berupa kapak corong, bejana, arca perunggau, alat tukar, perhiasan, dan hasil seni lainnya. Pada masa ini pula, kebutuhan perut sudah semakin nyata dilengkapi dengan pemenuhan rasa keindahan, ekonomi, dan kerohaniaan.

Dengan demikian, teknologi batu ke teknologi logam, merupakan keberlanjutan olah pikiran dan teknik serta kompetensi masyarakat pra aksara dalam memandang dan mensiasati kehidupan. Alat-alat yang dihasilkan bukan melulu untuk urusan perut, akan tetapi meningkat untuk kegunaan ekonomi, keindahan, bahkan kerohanian.

 

Sumber Gambar