Masa pra aksara di Indonesia berakhir setelah berkembangnya kebudayaan Hindu dan Budha di Indonesia. Kebudayaan ini bersumber dari ajaran agama Hindu dan Budha yang berkembang di India.

Berdasarkan latar tersebut, muncul sebuah pertanyaan:

Bagaimana proses awal dan perkembangan hubungan antara masyarakat India dengan masyarakat di Nusantara. Mengapa terjalin hubungan di antara keduanya?.

 

Sebagai penegasan saja, masalah di atas ialah: mengapa terjalin hubungan antara  keduanya (India dan Nusantara) ?, hal demikian dikarenakan keduanya saling membutuhkan, dan saling menguntungkan. Melalui media perdagangan bahari, maka jalinan keduanya dimungkinkan. Hal demikian dapat dicontohkan ketika upacara keagamaan masyarakat India membutuhkan emas, maka Sumatra Swarnadwipa sebagai Pulau Emas, mampu memenuhinya. Aktivitas ekonomi simbiosis mutualisme seakan menjadi simbol.  Ini yang saya yakini menjadi awalnya. Tahap berikutnya, teknologi pelayaran perdagangan bahari yang begantung kepada angin, mengharuskan pedagang dari India menetap di wilayah Nusantara selama beberapa bulan (sekitar 6 bulan). Pada masa menunggu angin berlayar inilah, interaksi antara pedagang India dan masyarakat setempat terjalin. Perilaku keagamaan pedagang India mulai diperkenalkan dengan masyarakat nusantara.

Kepercayaan asli masyarakat Nusantara, seperti animisme, dinamisme, dan totemisme, sepertinya memiliki pijakan persamaan dengan kepercayaan masyarakat India Hindu-Budha. Animisme (kepercayaan kepada roh leluluhur) ada di ajaran Hindu seperti meyakini roh leluhur melalui media kremasi; abu disimpan dan dihormati sebagai penghormatan terhadap roh leluhur. Demikian pula dengan dinamisme (kepercayaan kepada benda-benda yang diyakini sakral), terdapat di ajaran Hindu, yakni patung dewa-dewa. Dahulu, masyarakat para aksara memuja benda seperti arca. Pada bagian
totemisme (keyakinan terhadap hewan yang suci), di ajaran Hindu bahwa hewan yang utama dianggap suci adalah Sapi. Dengan kondisi demikian, perkenalan lebih lanjut tentang ajaran Hindu dapat lebih mudah merasuki hati dan pikiran masyarakat nusantara. Tentang sistem ketuhanan, kitab suci tertulis, sistem sosial kasta, dan politik pemerintahan membekas di awal masehi, ketika masyarakat pra aksara nusantara mulai beranjak menuju jaman sejarah.

Memasuki abad ke-4 Masehi, di Nusantara berdiri Kerajaan bercorak Hindustan di Kalimantan dan Jawa Barat. Ini pertanda, corak baru pengaruh Hindu-Budha lahir di Nusantara. Selama ini, komunitas sosial dipimpin oleh kepala suku, setelah berinteraksi sekian lama dengan masyarakat India, maka berdirilah kerajaan. Namun demikian, tidak serta merta 100% budaya Hindustan menguasai Nusantara. Local genius telah meretas jalan akulturasi selalu bertahun-tahun, bahkan berabad lamanya, sehingga unsur kebudayaan asli tetap mewarnai pengaruh budaya hindu-budha di Nusantara. Candi Borobudur adalah salah satu contoh terbaiknya. Dengan demikian, awal dan berkembangnya masyarakat India dan masyarakat Indonesia, tidak melulu pada cakupan keagamaan atau kepercayaan, namun unsur ekonomi, seni bangunan, dan kepemerintahan, turut serta didalamnya. Akulturasi telah menyelamatkan unsur asli masyarakat Nusantara dengan local genius sebagai mesin pengolahnya.

 

Sumber Gambar