hqdefault

Sekitar 2 minggu lalu, saya mengulang beberapa kali film klasik karya Indonesia: Sunan Kalijaga. Menonton ini, setidaknya menghilangkan rasa rindu serta nostalgia layar tancap. Beberapa adegan yang tetap hangat di kepala saya tentang film tersebut ialah tentang pembangunan Masjid Demak, tapa dengan tongkat ular, dan hujan deras turun seketika setelah Sunan Kalijaga sholat.

Dalam sejarah dan film tersebut, beliaulah yang juga ikut berjasa meng-islamkan masyarakat Jawa. Film tersebut “terhenti” ketika banyaknya orang Jawa menerima Islam sebagai kepercayaan baru mereka meninggalkan animisme, dinamisme, bahkan agama mereka sebelumnya, yakni Hindu atau Budha.

Dalam tulisan ini, sebagai kelanjutan film tersebut, diajak untuk mendiskusikan pernyataan berikut:

Agama Islam berkembang di Indonesia menggantikan posisi agama Hindu dan Budha. Silahkan didiskusikan tentang keberlanjutan antara budaya Hindu dan Budha dengan Islam untuk memperkuat bahwa agama Islam tersebar secara damai tanpa melalui peperarangan.

Pernyataan di atas, dapat dirumuskan sebagai berikut: seperti apa bentuk keberlanjutan budaya Hindu-Budha dengan Islam?, dimana hasil budaya tersebut, mampu memperkuat tersebarnya Islam secara damai tanpa peperangan.

Bentuk keberlanjutan tersebut antara lain:

Upacara Grebeg Maulud (UGM). Dalam UGM ini, budaya Hindu-Budha tetap berlanjut, seperti senandung gamelan dan kendurian. Seperti diketahui keduri dilakukan untuk menghormati roh nenek moyang/sang hyang. Upacara Grebek ini kemudian substansinya difokuskan kepada peringatan hari besar Islam, yaitu kelahiran Nabi Muhammad (Maulud). Dengan demikian, budaya Hindu-Budha tidak dihilangkan, akan tetapi dipadukan dengan budaya Islam. Alhasil, orang Jawa yang gemar dengan seni (gamelan) tidak merasa terasing, dan kebiasaan nenek moyang (kenduri) tetap ada, bahkan kemudian dibagikan/disedekahkan kepada kaum yang berhak sehingga menimbulkan unsur simpatik. Dengan lugas, unsur Islam masuk dalam paket budaya ini. Bentuk upacara ini, sekali lagi, menarik banyak kalangan di masyarakat Jawa ketika itu, untuk menerima Islam dengan rasa nyaman.

Pola seperti UGM ini, juga terjadi pada upacara keagamaan Sekaten, juga yang serupa dapat dicontohkan dengan Tahlilan kematian 3 hari, nujuh hari, dua kali nujuh, dan 40 hari. Ada pula upacara mandi, dalam rangka menyambut Bulan Ramadhan, masyarakat melakukan tradisi Balimau, yakni mensucikan diri dengan mandi. Cara mandi ini adalah tradisi Hindu-Budha, seperti masyarakat India mandi di sungai Gangga sebagai bentuk penyucian diri. Balimau dikenal di Padang, upacara serupa juga ada di Riau dengan nama Balimau Kasai, dan di Jawa biasa dikenal sebagai Padusan.

Dibidang kesenian, khususnya terkait soal orang Jawa yang gemar dengan seni, wali songo memodifikasi dengan menciptakan lagu-lagu bernuansa Islam namun dengan langgam (nada-irama) dan gending Jawa. Lagu Ilir-ilir, pangkur, dan Kinanti adalah sederet contohnya. Fakta sejarah ini memberi penegasan bahwa pendekatan Islam terhadap masyarakat tradisional akan berlangsung dengan mudah melalui lagu. Di bidang seni pertunjukan, wayang kulit disuguhkan dengan substatnsi Islami, misalnya menceritakan kisah-kisah nabi. Pertunjukan ini, kemudian bukan hanya memperkenalkan apa itu Islam, akan teapi juga sebagai magnet bagi penganut Hindu-Budha untuk berpindah ke Islam.

Ada lagi contoh tetang Tasawuf. Masyarakat dengan budaya Hindu-Budha, akrab dengan kehidupan mistis seperti label “orang Sakti”, “orang kebal”, dan “orang suci”. Mereka umumnya bersikap takut, dan manut/nurut terhadap orang dengan label tersebut. Ketika Islam datang ke Nusantara, muslim pendakwah dengan seijin Allah, setara dengan label tersebut bahkan melebihi. Rahasia pendakwah ini adalah berdzikir/mengingat Allah, beribadah kepada Allah, dan berserah diri kepada Allah.

Tasawuf itu punya daya terik yang luar biasa bagi para pengagum yang mempercayai penghayatan mistis sebagai sesuatu kebenaran yang haqul yaqin. Bagi masyarakat Hindu-Budha, Tasawuf memiliki pijakan yang kuat dengan apa yang dikenal sebagai kekuatan mistik/klenik. Hal ini dapat dicontohkan ketika Sunan Kalijaga meminta hujan dan segera dikabulkan: hujan langsung turun dengan derasnya. Bagi masyarakat ketika itu, Sunan Kalijaga dianggap sebagai “orang Sakti”. Kemudian beliau mendakwahkan bahwa itu dilakukan atas dasar syariah Islam, yakni dengan cara sholat minta hujan/ sholat istisqa. Namun demikian, masyarakat kemudian berbondong-bondong menerima Islam karena “kesaktian” Sunan Kalijaga tersebut. Kisah tentang “kesaktian” ini juga terjadi ketika 3 ulama Minang menyebarkan Islam dengan damai di Sulawesi Selatan. Raja wilayah tersebut menerima Islam bersama seluruh isi istana serta rakyatnya, setelah mengaku kalah lewat adu kesaktian dengan ulama Minang tersebut.

Berdasarkan uraian di atas, keberlanjutan antara budaya Hindu dan Budha dengan Islam tersebut,  dibungkus dalam bingkai akulturasi. Oleh karenanya, yang muncul kemudian: Islam diterima dan tersebar secara damai tanpa ada peperangan. Islam yang masuk ke Indonesia, sepertinya dibawa oleh pendakwah yang berusaha sekuat tenaga untuk menghindari terjadinya keguncangan budaya/”cultural shock”, yang pada tahap tertentu seringkali diwujudkan dalam konflik sosial. Dengan demikian, budaya, yang didalamnya terdapat tradisi dan adat setempat tidak ditentang, akan tetapi dimasuki (ditambah/dilengkapi) dengan unsur dan nilai-nilai Islami yang substantif. Beberapa bagian ritus atau ritualnya dipertahankan, akan tetapi substansi, esensi dan nilainya merupakan syariat Islam. Kondisi inilah, menurut saya, yang membuat para mantan Hindus dan Budhis merasa nyaman karena tradisi mereka (Hindu-Budha) tetap ada sembari menerima dan belajar yang baru (yakni Islam).

 

Sumber Gambar