perang-aceh

Setiap kali memandangi foto di atas, saya bertanya-tanya, bagaimana nasib anak Aceh tersebut ? (kotak merah dengan tanda tanya). Tentunya, tak ada satupun kisah sejarah yang menjelaskannya. Begitupula, tidak ada satupun sejarawan yang mengingkari betapa dahsyat dan berdarahnya Perang Aceh. Tidak jauh berbeda, Perang Paderi dan Perang Jawa (Pangeran Diponegoro), juga mengalaminya.

Belanda ada dipihak yang memerangi rakyat….

Seorang dosen menyodorkan rangkaian kalimat berikut….

Kedatangan bangsa Barat pada akhirnya menimbulkan berbagai perlawanan yang dilakukan rakyat di berbagai wilayah di Nusantara. Perlawanan rakyat terhadap bangsa Belanda (VOC maupun pemerintahan kolonial Belanda) memperlihatkan adanya persamaan dan perbedaan. Diskusikanlah dimana letak persamaan dan perbedaan perlawanan rakyat yang terjadi di Sumatera Barat (1821-1837) dengan Jawa (1825-1830), dan Aceh (1873-1904).

Selanjutnya, saya menguraikan seperti di bawah ini….

Persamaan:

Ketiga perlawanan rakyat yang terjadi di Sumatera Barat (1821-1837) dengan Jawa (1825-1830), dan Aceh (1873-1904), memiliki persamaan sebagai berikut:

Ideologi: Perlawanan mereka diyakini sebagai Jihad Fisabilillah (Perang Suci)

Kepemimpinan: Dipimpin oleh Ulama dan atau Bangsawan, kepemimpinan bersifat tradisional, tokoh/figur perlawanan yang tergolong kharismatik dan yang masih hidup, diasingkan keluar wilayah perang, dan kepemimpinan dilakukan hanya memperdulikan wilayahnya: masih bersifat kedaerahan/lokal.

Proses Perang: awalnya, Belanda mengalami kewalahan sehingga harus melakukan gencatan senjata atau perundingan-perundingan. Namun demikian, semua perlawanan pada akhirnya dikalahkan oleh Belanda.

Dampak: Secara keseluruhan wilayah perlawanan dikuasai/tunduk oleh Belanda. Ketiga perang tersebut amat menguras energi dan kas negara Hindia Belanda.

Perbedaan: 

Latar Belakang:

Terjadinya Perang Aceh dilatari oleh keinginan Belanda dalam “membulatkan” wilayah penjajahannya se-Nusantara dengan semboyan Pax Netherlandica. Sementara itu, Perang Jawa dilatari rasa kekecewaan terhadap maraknya westernisasi di dalam istana, terlebih Belenda turut campur seluk-belum Istana. Sedangkan Perang Imam Bonjol, dilatari oleh kepulangan rombongan haji dan pelajar dari Tanah Arab dengan membawa “semangat pemurnian Islam” di tanah minang. Kaum Padri ini, melihat praktidengan nuansa adat bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Proses Perang: 

Dalam Perang Aceh, diawali oleh “ultimatum perang tersembunyi” oleh Belanda dalam Traktat Sumatra. Sedangkan Perang Jawa, tercetusnya perang karenea insiden anjir (patok), dan Perang Padri pecah ketika kaum Adat berkoalisi dengan Belanda untuk melumpuhkan kaum Padri.

Strategi Perang:

Belanda menghancurkan Pangeran Diponegoro dengan cara benteng stelsel dan tiu muslihat. Pada Perang Paderi, strategi benteng stelsel coba dilakukan, namun kemudian perang terbuka dan besar-besaran mengakhiri perlawanan Imam Bonjol. Perang Aceh, adalah perang rakyat semesta permanen dan lama, sehingga Belanda membutuhkan spionase seperti snouck Horgronje. Perang besar tetap terjadi, namun pelemahan perlawanan dilakukan dengan penawanan anggota keluarga tokok perlawanan. Perang secara militer usai tahun 1904 dan diikuti dengan pemulihan distrik militer menjadi distrik sipil. Perlawanan terus berlanjut, baik itu membunuh tentara Belanda secara perorangan, ataupun perang gerilya. Perang demikian, usai ketika Jepang datang.

Dengan persamaan dan perbedaan dari ketiga perlawanan rakyat tersebut, kekuatan Belanda tidak mampu secara cepat dapat melumpuhkannnya secara militer. Dengan demikian, ketiga wilayah perang tersebut memiliki semangat tidak tunduk terhadap musuh dan perang fisik ini menegaskan bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah sekumpulan manusia pemberani yang memiliki harga diri.

 

Sumber Gambar