ki-s-hendrowinoto-terbitkan-pieta-senandung-indonesia-raya-nm8e3c-prv.jpg

Masih kisah bersama Pak Nurinwa. Beliau dikenal khalayak sebagai penulis novel, belakangan lebih terkokohkan sebagai pendekar biografi. Salah satu kecintaannya  tertuju kepada sosok Soekarno. Melihat usahanya dalam mengkoleksi segala sesuatunya tentang Soekarno, cukup menjelaskan semuanya bahwa beliau adalah orang yang concern dan fokus.

Soekarno adalah presiden pertama Republik Indonesia, sebuah negara yang isinya bernuansa beragam, multi-etnis, multi-kultural. Beliau menjadi besar, bukan hasil karya tiba-tiba, dan bukan hanya dibangun oleh dasar pendidikan barat dan perjuangannya hingga dipenjara melawan penjajah. Soekarno, bahkan dibentuk sejak masih dipelukan ibunya, jauh sebelum dia mengenal dengan baik dunia politik.

Srimben, jika kisah beliau booming hari ini, mungkin ada yang menyebutnya seperti Wonder Women (Jagon Wanita asal Amerika Serikat). Ibunda Soekarno ini, berani mengambil tindakan menikah dengan seorang Jawa dan keluar dari lingkungan ke-pura-an dan budayanya. Selanjutnya, mereka kemudian pindah ke Jawa. Hidup yang terbilang lumayan, kemudian berubah menjadi prihatin. Tugas domestiknya, kemudian “ditambahi” dengan dunia publik sebagai “ibu kost”, mengurus asrama pelajar.

Pak Nurinwa Ki S. Hendrowinoto menanyakan kepada saya terkait kisah di atas:

apa yang kamu dapat,….dampak ibu Srimben terhadap Soekarno ?

Saya bilang, “Soekarno diajarkan melalui kehidupan Ibunda tentang keberanian, perbedaan karena menikah antara adat Bali dengan Adat Jawa, kemudian mereka tetap bersama”. “Keberagaman, kebersamaan”, lanjutku.

Sambil menunjuk sekaligus menghentikan penuturanku. Beliau berujar: “Benar”. Pak Nurinwa, kemudian dengan nada tegas menyatakan: “Bhinneka Tunggal Ika, itulah yang diwariskan Srimben kepada Soekarno: berbeda-beda tapi tetap satu”. Saya mengangguk-anguk, “penajaman” ini membelalakkan ingatanku terhadap bacaan tentang Soekarno dahulu saat kuliah.

Soekarno disebutkan, bahwa penggabungan parpol yang berbeda ideologi untuk membangun bangsa dalam kesatuan yang utuh (seperti ideologi Nasakom) merupakan sinkritisme sebagai bagian integral budaya Jawa yang mendarah daging dalam diri Soekarno. Bersama Pak Nurinwa, seakan ingin menjawab: budaya Jawa yang bersemayam dalam diri Soekarno, siapa yang mengajarkannya?. Ingat, budaya itu diwariskan, dan dibangun di awali dalam masayarakt terkecil, yaitu keluarga. Srimben mengambil peranan ini.

Obrolan di ruang tamu yang dipenuhi buku dan ditemani singkong goreng, tak terasa sudah 3 jam berlangsung. Rasa lapar mulai datang. Pak Nurinwa mengajak kami makan ke kedai makanan terdekat. Ya hanya makan, tidak ada obrolan berat. Kita fokus makan…hehehehe….

13c0dd04-6a15-4239-be36-ea5eb7e6bf5a.jpg

 

Sumber Foro:

Atas: Antara

Bawah: Dokumen pribadi